Crazy Baby

Crazy Baby
Sekarat


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Selamat membaca....


...___________________...


...S e k a r a t...


...___________________...


..._________...


...___...


..._...


"Davian?"


PLAK!


"TUNGGU APA SALAHKU?!" Jerit Elliot kesal sambil menitikan air mata.


Mari mundur berbeda langkah sebelum drama lebay itu dimulai.


"UHUK! UHUK!" Rasanya separuh tubuh dari Davian mati rasa, beberapa kali dia mendapat pukulan telak ditubuhnya. Salah Davian sendiri karena menyulut api kemarahan Elliot yang merupakan raja dari seluruh bangsa Demon di dunia bawah, ini hanya ganjaran yang harus ia terima.


Batuk darah hingga muntah beberapa kali Davian lakukan, sekujur tubuh lelaki itu penuh luka; mengerikan—jika sekilas melihat dengan jelas kalian pasti bisa menemukan tulang diantara daging yang sudah terkoyak. Bahkan saat ini lelaki bermanik hazel itu berusaha kabur susah payah dengan memanjat tinggi bangunan istana meski akhirnya sosok itu jatuh kebawah ruangan dengan suara renyah.


Bugh!


Davian yakin, tulang-tulang dalam tubuhnya pasti sudah remuk semua. Sekadar merasakan ujung jari telunjuk saja Davian tak bisa, bayangan dari sosok mengerikan yang terlihat bernafsu mengejarnya muncul—dari arah langit-langit ruangan yang runtuh; tempat Davian terjatuh.


Inikah akhirnya? Batin Davian putus asa.


Si jenius ini sekarat.


Hingga pendengaran miliknya menangkap sesuatu.


"Davian?"

__ADS_1


Telinga lelaki pemilik nama itu tergelitik, siapa yang memanggilnya saat ini? Disituasi seperti ini? Davian menoleh, lehernya menjerit sakit. Pandangan yang sudah terlalu lama ditutupi darah menjadi kabur.


Beberapa detik lagi tubuhnya hancur seperti tanah jika saja bogeman besar dari tangan sang Raja Demon tidak berhenti tepat ditengah-tengah udara. Sosok yang memanggil namanya terlihat, sedikit familiar namun asing dimata Davian dalam satu waktu.


Siapa? Batin Davian penasaran. Kian melangkahkan kaki mendekat, raut muka Elliot memerah. Perasaan cemburu tiba-tiba membakar hatinya. Tanpa alasan yang jelas makhluk itu ingin kembali menyerang Davian namun tertahan saat Sebastian muncul tepat didepan mata sang Raja mengerikan mereka.


Swess!


"Apa yang kau lakukan Sebas!" Teriak Elliot kesal. Tangan kanan yang merupakan pelayan setia makhluk itu menghalangi atau tepatnya melindungi Davian.


"Maafkan hamba yang mulia..." tutur Sebastian merasa bersalah. Tiba-tiba tamparan keras mendarat tepat dipipi Elliot, wajah marah Kian menyambut penglihatan lelaki itu yang sekarang ini memilih mengambil wujud manusianya.


PLAK!


"TUNGGU APA SALAHKU?!" Jerit Elliot sakit sambil menitikan air mata.


"Apa yang kau lakukan Ey?!" Tanya Kian lantang, Elliot benar-benar tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi. Dia tertegun dalam diam disudut ruangan sambil menyaksikan dari kejauhan Vioner—perawat istana miliknya merawat tubuh terluka milik Davian.


Eh?


Hal-hal berlangsung begitu cepat hingga sulit untuk dicerna. Sama halnya dengan Davian, dia memandang penasaran kearah Kian. Apa yang makhluk itu lakukan pada tubuhnya? Serta kenapa Kian tampak tidak begitu asing bagi Davian?


Deg!


"Kau masih mengingat ku rupanya..." sahut Kian. Dalam perawatan cepat Vioner, sosok Davian menjadi sedikit terlihat baik-baik saja. Sama dengan Kian, Davian tidak mengerti apa yang terjadi namun bibirnya hanya mampu bungkam. Rasa syukur karena tidak berakhir jadi seonggok daging tanpa jiwa. Lelaki ini tanpa sadar menoleh, ketempatnya Eva. Manik hazel itu tiba-tiba membola—tidak menghiraukan rasa sakit serta perawatan dari Vioner, Davian bangkit. Melangkah tertatih-tatih menuju kearah Eva.


Bibirnya bergetar, manik lelaki itu berkaca-kaca. Dalam usahanya melawan rasa sakit Davian menyerukan—


"E-eva?" Satu nama sebelum jatuh dalam kegelapan.


Dengan wajah yang damai.


...***...


Terdengar perdebatan panjang mengusik telinga Davian, suara perang mulut antara Kian dan Elliot yang tidak terdengar jelas memenuhi genda telinga si hazel ini. Lelaki yang sekarang berada tepat diatas ranjang dengan posisi berbaring itu membuka perlahan kelopak matanya yang tertutup.


Inti perdebatan dua orang tersebut adalah kesalahan Elliot yang membuat Davian sekarat hingga akhirnya Elliot terpaksa meminta maaf, yang benar saja. Dasar wanita.


Elliot menyadari sosok Davian baru saja sadar dari pingsan lalu menunjuknya.


"KAU! Gara-gara kau! Kesepakatan ku dengan istriku batal!" Teriak Elliot kesal lalu pergi sambil mengentakan kaki, meninggalkan Davian bersama Kian yang hanya mampu membuang napas gusar.


"Huh! Raja iblis dari mananya! Dasar kekanakkan." Komentar Kian pedas. Davian terdiam, dia mengubah posisinya menjadi setengah berbaring disandaran ranjang. Kian menoleh, dia bernapas lega saat melihat sosok Davian terlihat lebih baik dari perkiraannya.

__ADS_1


"Ku pikir pemulihan mu akan memakan waktu yang lama," ucap Kian, duduk disamping ranjang milik Davian. Lelaki dengan manik hazel itu belum menyahuti apa-apa, dia masih meneliti sekitar. Tepat diranjang sebelah ada sosok Zim yang masih tak sadarkan diri, Davian tersentak. Tangan dari macan kumbang itu tidak ada, luka yang ia terima lebih fatal dari perkiraan Davian.


"Tenang saja, Vioner akan merawatnya..." ucap Kian mengetahui maksud dari isi pikiran Davian soal kucing besar itu. Lirikan mata Davian berpindah, kali ini menuju arah wajah Kian.


"Kenapa? Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Davian bingung. Harus menanyakan apa agar bisa memulai percakapan.


Terdengar hela napas panjang, wanita itu teringat satu hal dari Davian.


"Kau pernah bilang, aku terikat takdir yang mengerikan..." Kian tersenyum. Simpul.


Meski tidak mendengar banyak kalimat dari wanita itu Davian dapat menyimpulkan. Mahkota yang Kian kenakan lalu gelagat yang ia tampilkan. Kian—dia sang pengantin.


"Kau?"


Wanita itu mengangguk.


Davian tak percaya, lelaki bermanik hazel itu tidak mengira—ucapannya menjadi kenyataan. Ketika awal pertemuan dirinya dengan Kian, lelaki itu hanya menebak; bahwa dari energi negatif yang hidup disekitar Kian akan membawa wanita itu pada takdir yang mengerikan. Siapa sangka? Seburuk-buruknya takdir, Kian malah mendapatkan yang paling buruk diantara mereka semuanya. Haha. Ini menyedihkan sekaligus lucu dalam satu waktu.


"Sekarang giliran ku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini Davian? Lalu siapa wanita yang memilki jiwa serupa Reva tesebut?" Garis besarnya Kian memahami sedikit situasi. Davian menunduk, mencerna tiap kata yang dilontarkan wanita itu hingga menyadari sesuatu—


"DIMANA EVA!" Jeritnya panik, tubuh lelaki itu bergerak agresif. Dia bangkit—turun dari ranjang namun hanya mampu beberapa langkah setelah itu terjatuh.


Bugh! Suaranya cukup renyah. Kian yang melihat itu mendatangi Davian, berniat membantu lelaki penuh luka disekujur tubuhnya namun malah tertahan ketika mendapati sesuatu.


Wajah pucat penuh ketakutan Davian.


"Hei?" Kian mencoba memanggil lelaki itu dengan nada rendah, tiba-tiba Davian mendongak. Manik hazel yang seingat Kian dulunya dingin itu bergerak gelisah, ia menggapai pergelangan tangan milik Kian. Mulut Davian bergetar, sambil bertanya—


"Dimana Eva?"


Sebelum kembali kehilangan kesadaran.


...***...


...TBC...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2