Crazy Baby

Crazy Baby
Amarah


__ADS_3

Hah?


Dimana aku? Kenapa semuanya terlihat putih?


Menyeramkan, terasa dingin juga hampa.


.


.


.


.


.


"KENAPA! KENAPA SELALU PRODUK GAGAL?!"


Hentikan! Aku tak bisa bernapas. Berhanti—kau mencekik ku REVA!


DEGH!


Apa ini? Kenapa wujudku begitu kecil layaknya seorang wanita? Batin Davian. Maniknya menantap pergelangan tangan yang begitu ramping juga putih.


Tap!


Tap!


Tap!


Terdengar langkah kaki. Davian mendongak, sesuatu menyambut penglihatan matanya. Alis Davian berkerut—penasaran,


Reva?


Sedikit dewasa dari terakhir yang Davian ingat, bahkan wajah itu jadi semakin cantik; hanya saja ada sesuatu yang aneh—tak kasat mata menempel pada sosok itu. Aura-nya agak berbeda.


"Pstt! Bersembunyilah! Dia datang." Ucap Reva, mendorong tubuh Davian menjauh—ke sudut ruangan berlapis cat warna putih. Tak ada apapun disini, lantas dimana Davian harus bersembunyi? Ungkapnya bodoh.


Pandangan sosok itu jatuh tepat kearah tembok, ada celah kecil disana jika dilihat dari kejauhan celah itu pasti tersamarkan; tak ada bedanya dengan dinding. Davian menyembunyikan tubuh dicelah itu, menilik kecil sosok yang baru saja mendorongnya menjauh. Reva.


Tring~


Tiba-tiba suara lonceng kaki terdengar, nada yang begitu familiar. Bersama lenteranya Davian melihat dari kejauhan—itu, itu Gabriel.


Sebenarnya? Apa yang terjadi?


Siapa yang tengah Davian rasuki, hingga ia dapat melihat sesuatu yang mereka sebut sebagai 'sinkronisasi mimpi'.


...***...


"EVA!"


DEGH!


"KAU GAGAL LAGI! SEHARUSNYA AKU TIDAK MENCIPTAKAN MU!"


Tidak! Jangan bilang begitu?!


"KAU MEMBUATKU MUAK! EVA KAU TIDAK PERLU MENGERTI SEBUAH PERASAAN!"


Tapi!


"CUKUP LAKUKAN SEPERTI YANG AKU PERINTAHKAN—


KAU ITU HANYA BONEKA."

__ADS_1


Tidak, bukan.


Hiks... hiks...


"R-Reva-a?"


Mimpi buruk yang sangat mengerikan apa ini? Kau tidak harus begitu Reva. Pada Eva milik ku—Davian.


DEG!


Perlahan manik Eva terbuka, langit-langit ruangan yang begitu mewah menyambut penglihatan. Wanita itu tidak bertanya; sedang dimanakah ia berada. Eva tak peduli—pelan, wanita itu merubah posisi menjadi setengah menyandar disandaran ranjang. Sedikit kosong, dia menurunkan kaki hingga permukaan dingin dari lantai menusuk kulitnya.


"Bat... u - jiwa," gumam Eva tak sadar. Dia berdiri lalu mulai melangkah pelan tanpa suara, wanita itu berjalan ditengah malam—dalam keadaan senyap, sebagian dayang istana masih belum kembali bekerja; setelah insiden penyerangan Davian. Beberapa bangunan yang rusak, tahap renovasi bahkan menampilkan pemandangan luar. Langit malam dengan ciri khas kabut gelapnya terlihat, Eva melirik sebentar sebelum melanjutkan langkah.


"Batu... jiwa," gumamnya lagi.


Ngiinggggg!!!!


Suara dengungan nyaring tiba-tiba muncul, hampir memecahkan gendang telinganya jika saja Eva tidak memilih menunduk sambil menutup kedua benda tersebut untuk meredam suaranya. Manik Eva berkaca-kaca, masih tampak kosong dengan tubuh yang ketakutan.


Ia lalu menangkap sebuah daun pintu dengan mata miliknya, tanpa ragu Eva bergegas kesana—langkah kaki wanita itu begitu terburu-buru; berharap menemukan tempat untuk bersembunyi dari suara mengerikan itu tapi apa yang ia dapat justru lebih dari yang ia bayangkan. Ketika manik hampa melihat seseorang diatas ranjang dengan pencahayaan remang-remang. Eva tertegun, wajahnya sangatlah damai, bahkan ketika sosok itu memilih untuk tertidur panjang. Davian. Balutan perban hampir menutup separuh tubuhnya.


Apa yang terjadi? Tanya wanita itu penasaran.


Kenapa bisa dia terluka? Batin Eva sambil memperpendek jarak, tangannya berusaha menggapai tangan lelaki itu begitu jarak diantara mereka cukup dekat. Suhu tubuh Davian begitu dingin, Eva membawa tangan itu menuju pipinya yang hangat. Menghantarkan rasa panas untuk benda tersebut.


Tes~


Tanpa disadar Eva malah menitikan air mata.


Eh?


"Hiks... hiks..."


Tubuhnya bergetar, dia menatap lekat Davian. Eva terlihat seperti sosok yang benar-benar ketakutan saat ini, menangis dalam diam sambil berucap.


Emosi, perasaan, hingga keinginan terpendam memuncah. Pecah saat itu.


Ditengah malam yang sunyi, tanpa kehadiran siapapun disini Eva menangis semaunya hingga debar jantung wanita itu ingin meledak. Mungkin beberapa ada yang menyadari namun memilih bungkam, tangisan sakit penuh luka–benar-benar menyayat hati sang pendengarnya.


Menyedihkan. |


"Sebas... dia meraung, penuh kesakitan..." ucap Elliot, lelaki tua disampingnya mengangguk. Sambil memperhatikan langit malam yang Rajanya lihat, sosok itu menyahut.


"Iya yang mulia... entah luka apa yang ia alami... rasanya terdengar mengerikan."


...***...


Di pagi hari yang cerah ini, hanya dipenuhi wajah kebingungan dari Kian bersama Vioner saat mendapati ranjang milik Eva telah lama kosong. Selimut itu terasa dingin. Entah kemana perginya sosok tersebut. Tak ada yang tahu.


"Jangan mencarinya," tiba-tiba ucapan mengejutkan dari Elliot muncul. Wajahnya begitu tenang, ada sesuatu yang terjadi ketika Kian memilih hanyut dalam bunga mimpi tadi malam; meski Kian bertanya Elliot pasti tak akan menjawab.


"Kira-kira... kemana dia pergi?" Monolog Kian penasaran. Elliot mengangkat bahunya tak tahu, sambil menatap manis wajah Kian lelaki itu menjawab.


"Entahlah~"


Seharusnya Davian bangun saat itu, seharusnya ia memaksakan kedua matanya untuk terbuka. Ketika Eva menumpahkan segala tangisan miliknya tepat dihadapan lelaki itu.


DAVIAN!


"Aku ingin hidup! Davian?!" Mungkin itu akan jadi teriakan terakhir yang Eva keluarkan. Dan menjadi satu-satunya kalimat yang tak akan pernah Davian dengar.


Wush~


Tepat di depan mata, wanita itu menantap dalam pegunungan merah. Embusan napasnya terlihat—udara dingin menggigit permukaan kulit. Kaki tanpa alas itu melanjutkan langkah, kibaran dari ujung bajunya terangkat; membelai dan mengajak benda itu untuk menari bersamanya.

__ADS_1


"Semua ini akan berakhir, sebentar lagi." Gumam Eva dingin. Tanpa sadar wanita itu mengepalkan tangan hingga buku-bukunya terlihat. Ia sudah membulatkan tekat tadi malam, meski begitu—masih terasa pedih rupanya.


Selangkah demi selangkah, wanita itu bergerak maju. Tidak menoleh sedikitpun kebelakang, mengabaikan segalanya. Kabut muncul, melahap dirinya bersama beberapa pohon besar yang menjulang tinggi


Bermodalkan intuisi, Eva berjalan ke keki gunung lalu memasuki sebuah gerbang; seperti bekas tambang tua. Masuk semakin dalam hingga maniknya mendapati benda yang ia cari-cari.


Tak perlu waktu lama, Eva menggapai benda tersebut lalu mengeluarkan belati. Dengan sadis-nya ia menyayat pergelangan tangannya sendiri; membiarkan tetesan darah jatuh tepat di permukaan kristal. Dengan memanfaatkan media tersebut Eva memulai membuat sebuah pola aneh diatas tanah yang ia pijak.


Sesuai melakukan hal tersebut, Eva berjalan ketengah gambar lalu duduk disana—dengan kristal berlumuran darah tepat dihadapan mata.


Eva kemudian terpejam, bibirnya terbuka—sambil bergumam benda itu tiba-tiba bercahaya.


"Ku serahkan lagi, ini untuk mu pemilik asli jiwa ku. Bagai boneka patuh, segalanya telah ku coba. Aku yang mencintai mu kau yang mencintai ku... kita berbagi hal yang sama—" Eva terdiam, tak sanggup melanjutkan diksi miliknya. Dia membuka kelopak mata, pantulan cahaya terlihat dimanik wanita itu.


Benarkah kau mencintai ku? Reva?


Bayangan mengerikan dari beberapa ingatan muncul.


Benarkah kau menyayangi ku?


"HIKS... HIKS..."


Eva menangis, rasanya menyakitkan.


"Seharusnya aku tidak mengingat apapun." Ucapnya sakit. Akan lebih saat itu Reva membunuhnya lalu kembali menciptakan sosok baru bukannya mengampuni Eva. Ciptakan gagal yang menangis tepat didepan Reva agar bisa mendapatkan pengampunan lewat pencucian otak.


"Agar aku tidak menjadi egois dengan menginginkan kehidupan."


Reva.


Bolehkah aku tidak membangkitkan mu? Bolehkah aku? Mengambil kehidupan mu?


"Huaek!"


Mulut Eva tiba-tiba memuntahkan darah, tubuhnya lemas seketika. Batu jiwa yang berada didepannya meredup, darah dari pergelangan tangan semakin deras.


"Sial, kau benar-benar kejam Reva." Desis Eva sambil tertawa hambar dengan wajah yang mendongak. Langit-langit gua terlihat; wanita itu menangis dengan hatinya yang murka.


HAHAHAHAH!


"A-aku... AKU MUAK DENGAN MU! REVA?!" Teriak Eva kesal.


"Dengan segala macam hal, dengan semua yang kau ingin—akan ku kembalikan. Kau yang mendambakan kesempatan dengan aku yang mengharapkan kehidupan, jika ini jasad mu! Maka ambil-lah! Suatu hari nanti, aku akan hadir. Tidak menjadi bagian diri mu! Tapi menjadi diri ku sendiri, maka dihari itu. Aku akan menampar mu keras menyadarkan hati bengis milik mu, wahai saudari ku yang tercinta ku."


...__________________...


...A m a r a h...


...__________________...


...___________...


..._____...


..._...


...Tbc...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2