
"Apa yang kau lakukan?" Tanya si Eni kecil terhadap Adam. Bocah lelaki yang selalu menggunakan kacamata baca itu mendongak, dia menatap sosok Eni dari bawah. Cahaya matahari dibelakang gadis cilik tersebut mengganggu penglihatan Adam, dia jadi tidak terlalu jelas melihat wajah menawan milik Eni.
"Melihat bunga dandelion," sahut Adam ketus, memilih memalingkan muka—kembali ke tumpukan bunga cantik yang berjejer rapi tepat didepan matanya. Eni memiringkan kepala penasaran, bocah lelaki ini adalah objek baru yang dia temui di rumah miliknya ketika pulang dari sekolah dasar sendirian.
Orang tua gadis itu sempat bilang kalau ada tamu yang akan berkunjung, apa jangan-jangan tamu yang dimaksud orang tuanya adalah bocah lelaki pendiam ini? Eni ikut berjongkok tepat di samping Adam.
Dia menatap apa yang ditatap oleh Adam.
"Dandelion?" Beo Eni, teringat nama bunga yang baru saja di ucapkan oleh Adam. Gadis cilik yang masih memakai seragam sekolah dasarnya itu mengerutkan kening. Apa yang menarik dari bunga itu? Hingga Adam tak bisa melepaskan pandangan miliknya dari benda tersebut.
"Jangan sentuh!" Cegah Adam tiba-tiba saat Eni tanpa sadar ingin menyentuh dandelion didepan mereka. Dia tersentak lalu mendengus kesal kearah Adam gara-gara kaget.
"Hei?! Memang kenapa?! Aku hanya ingin menyentuhnya."
Inilah kenapa Adam tidak suka berurusan dengan anak-anak. Bocah itu merotasi matanya sambil membenarkan tata letak posisi kacamata miliknya, lalu menoleh kearah Eni yang sedang menampilkan wajah dongkol. Sebentar lelaki itu terdiam.
Cantik, komentarnya dalam hati ketika melihat sosok menawan dari Eni. Tanpa sadar Adam kembali memalingkan muka dengan rona wajah yang memerah. Bocah lelaki itu berdehem gugup sebelum memulai untuk bicara—
"J-jika kau menyentuh-nya dia akan rontok,"
Hah? Apa maksudnya?
"Bukannya itu bagus?" Tanya Eni, dia benar-benar bingung dan tidak mengerti atas ucapan lelaki itu.
Adam menggeleng, meneruskan ucapan miliknya.
"Dia jadi tidak indah lagi."
"Hah?! Kau lucu, bunga ini memang begitu. Kalau tidak seperti itu dia tidak akan bisa menyebar," sela Eni teringat oleh keterangan ayahnya soal bunga dandelion di pekarangan rumah kediaman mereka.
"Menye-bar?"
"Iya! Agar bisa jadi bunga-bunga baru lainnya dan memenuhi seluruh taman ini?!" Seru Eni bersemangat sambil berdiri dan mengacaukan tumpukan dandelion tersebut. Angin lembut berembus, menyapu semua dandelion didepan mata. Adam tertegun, bayangan Eni yang menari diatas bunga-bunga hingga membuat mereka beterbangan adalah momen yang berhasil membuat Adam jatuh hati untuk pertama kalinya.
Argh~ dia benar-benar cantik.
"Eni..."
.
.
.
.
.
"B-bisaa! Laku argh~ lakukan deng-an pe-pelan?! Ergh~"
__ADS_1
Adam mendorong sesuatu dengan sekali entakan diselangkangan milik seorang wanita. Dia tidak tahu siapa itu, nama atau umur dari wanita yang saat ini Adam gagahi; dia hanya menatap—menatap sosok yang sangatlah mirip dengan Eni. Ya Eni wanitanya.
Argh~ sayang ku.
Drttt! Drtttt!
Dering telpon mengacaukan konsentrasi Adam, dia mendelik—menatap tak suka kearah benda kotak tipis tersebut yang berada tepat diatas nakas namun nama dari Eni yang tertera disana membuat Adam tersentak senang. Lelaki itu cepat melepaskan asetnya dalam tubuh wanita asing lalu menggapai benda tersebut sebelum mengangkat panggilannya.
Tut!
"Halo?" Sapa Eni bingung, apakah panggilan miliknya tersambung dengan Adam? Lelaki itu diam sejenak, dia ingin menyahuti sapaan yang dilontarkan Eni padanya namun tertahan. Jemari lentik tiba-tiba bertengger manis di bagian belakang leher lelaki itu, membuat perasaan Adam berubah menjadi dongkol bukan main. Dia menjauhkan sebentar handphone miliknya lalu tersenyum kearah wanita jala*ng dibelakangnya ini.
"Bisa menjauh sebentar?" Pinta Adam baik-baik.
Wanita itu menggesekan dada bulatnya ke bagian punggung Adam. Tiba-tiba perasaan jijik muncul dihati lelaki itu, jika ini Eni—dia tidak akan pernah mungkin bersikap murahan seperti ini.
"Menjauh."
"Kenapa memangnya sayang? Kita lanjutkan saja kegiatan kita, abaikan panggilan it—" belum sempat melanjutkan kalimat miliknya, wanita itu sudah dibuat tak bisa bernapas oleh benda lengket juga aneh. Membungkus seluruh kepala hingga membuat wanita itu jatuh.
"Argh! Ergh?!?!" Paniknya—tak bisa bicara.
Adam menoleh dingin dengan mata berkilat.
"Adam? Apa ini benar-benar tersambung yah?" Gumam Eni diseberang panggilan sana. Adam mendekatkan handphone kedaun telinga lalu berucap—
"Ah! Maaf, aku sedang sibuk barusan. Ada apa kau menelpon ku Eni? Jarang sekali." Sahut Adam ramah, sungguh perubahan sikap yang sangat drastis.
Wanita itu menggeliat, dia sesekali menendang tubuh Adam agar lelaki itu bisa membantunya tapi apa yang wanita itu dapat justru sebaliknya. Adam menindih sosok wanita itu lalu membekap mulutnya kuat; hingga kuku-kuku jari tangan milik Adam tertancap keras dipipi wanita tersebut.
Sttt! Bisakah kau diam sebentar?
Pinta Adam tanpa bicara. Wanita itu menggeleng, dia menangis kejer merasakan perasaan sesak memenuhi dadanya.
"Tidak, hanya saja. Aku sedikit—lapar. Bisa aku berkunjung ke apartemen mu malam nanti?"
KRAK!
Ups! Adam tidak sengaja mematahkan leher wanita yang berada di tindihannya karena perasaan senang yang memuncak. Apa yang baru saja dia dengar?
Ini tidak salah bukan?
"Tentu... kau boleh berkunjung sesuka hati mu Eni. Akan ku buatkan makan malam spesial seperti dulu... khusus untuk mu." Ucap Adam diakhiri dengan bisikan rendah di ujung kalimatnya, jika Eni melihat secara langsung mungkin wanita itu akan meremang—takut terhadap wajah mengerikan yang baru saja Adam tampilkan.
"Okay—" sayangnya dia tidak tahu.
"Sampai ketemu nanti malam, bye bye~" dan memilih terperangkap lagi diatas telapak tangan milik Adam.
"Bye bye..." bisik Adam pelan dengan tubuh yang terangsang.
__ADS_1
...***...
"Kenapa kau memiliki itu diatas lantai?" Tanya Eni penasaran dengan wajah jijik sambil menunjuk kearah bra berwarna usang disudut ruangan.
Adam menoleh, dia meletakan pelan sepiring penuh makanan diatas meja bar diarea dapur. Melihat apa yang Eni maksud—lelaki itu terkikik geli
"Kenapa? Kau cemburu? Apa aku tidak bisa bermain-main dengan wanita lain?" Goda Adam, duduk disisi lain meja bar dengan wajah tenang. Eni mendengus, dasar penjahat kelamin! Tudingnya sarkas sambil ikut duduk di kursi yang berlainan dengan tempat Adam.
"Setidaknya minta jala*ng-jala*ng mu itu untuk memakainya kembali jika sudah selesai bermain!" Sahut Eni kesal.
Tak! Dia menancapkan garpu diatas potongan daging hangat.
Adam kembali terkekeh, hatinya berucap—
Itu milik mu ketika pertama kali merasakan buah dada mu membesar saat sekolah menengah pertama, dasar bodoh. Batinnya.
"Akan ku ingat itu," tutur Adam menerima saran dari Eni soal bra usang tersebut. Lelaki itu menopang dagu dengan pandangan sendu dia menatap lekat raut muka milik wanita didepannya, Eni.
Aku akan meminta mu memakainya kembali nanti, hingga benda besar itu tumpah dan tak bisa ditutupi.
Pikir Adam nakal. Sial!
Ada apa dengan isi pikiran kotor lelaki tersebut?! Ini menggelikan. Sungguh.
Aku tidak bercanda |
...___________________...
...A d a m...
...__________________...
...__________...
..._____...
..._...
...Tbc......
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...