
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________...
...P e n g e j a r a n...
..._____________________...
...____________...
..._____...
..._...
Keputusan bagus Davian memilih langsung keselatan dari pada ke ibu kota barat. Firasat lelaki itu terjawab saat dia berhasil berpapasan dengan Eva meski sekarang wanita itu digondol oleh mancan jadi-jadian berkelamin jantan yang seenak jidat menggendong Eva-nya diatas pundak, bahkan kucing besar itu meletakan tangannya di bokong Eva! Davian seperti kebakaran jenggot, dia mengejar brutal 2 sosok yang berada didepan matanya.
Zim mencoba memperlebar jarak tapi tak bisa, langkah kaki Davian cukup besar untuk seukuran manusia. Karena tidak mendapatkan hasil bagus Zim mencoba mengganti metode kaburnya, kucing besar itu mengeratkan pegangan tangan pada tubuh Eva lalu mulai memanjat bangunan yang ada didepan sana.
"Zim langsung ke tenggara!" Ucap Eva, mudah sekali kau berucap! Rutuk Zim sambil memanjat cepat. Davian tertahan. Dia mendongak saat melihat Zim berhasil berada diatas bangunan. Lelaki dengan manik hazel berdecih kesal.
"Tch!"
Davian harus memutar. Dengan pandangan yang tak lepas dari punggung macan kumbang kurang ajar itu, si hazel mencari jalan agar bisa menyusul mereka.
"Fush~"
Zim mulai memperlambat langkah ketika dia merasa kalau sosok Davian tidak lagi mengejar. Macan kumbang itu lalu menurunkan Eva, mereka saat ini berada diatas bangunan rumah sesorang; entah milik siapa. Perasaan lelah mulai mendera kucing besar ini, melihatnya membuat Eva tak tega lalu meminta Zim untuk beristirahat sebentar.
"Istirahat 'lah Zim, maaf membuat mu selalu bekerja keras..." ucap Eva penuh penyesalan. Manik milik wanita itu mengintai kesana-kemari, memastikan kalau mereka benar-benar aman dan jauh dari jangkauan pengejaran Davian.
"Hosh, hosh! Siapa sebenarnya dia?" Mungkin ini bukan pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan saat ini tapi Zim penasaran. Terlihat Eva menyudahi acara mengintai singkatnya lalu ikut duduk disamping Zim. Wanita itu menarik napas sejenak sebelum menjawab—
"Suami ku."
Deg!
Rasanya ada bagian hati yang retak ketika Zim mendengar penjelasan gamblang dari mulut Eva. Apa? Manik Zim berair, dia tampak tak percaya. Sungguhan?
__ADS_1
"Lalu kenapa kau kabur? Padahal dia suami mu?" Tanya Zim dengan nada getir. Apa ini yang mereka sebut sebagai cinta di tolak padahal belum bertindak. Hiks, hiks, Zim rasanya patah hati.
"Karena ini belum waktunya kami untuk bertemu, belum kecuali aku sudah menemukan batu jiwa..." terang Eva. Zim cukup bingung maksud ucapan Eva, batu jiwa? Mungkin 'kah kristal bertuah?
"Memangnya kenapa?" Lagi-lagi Zim bertanya, dia sungguh penasaran.
"Hanya belum waktunya saja..." Okay! Zim menyerah, Eva terlihat enggan memberi jawaban pada lelaki itu.
Sekarang apa yang harus mereka lakukan? Mencari penginapan atau melanjutkan perjalanan menuju tenggara? Melihat tampang kelelahan Zim Eva akhirnya membuat keputusan;
"Lebih baik kita mencari penginapan Zim..."
Benarkah? Zim merasa bersyukur saat mendengarnya. Lelaki setengah macan itu terpejam, tiba-tiba asap putih dengan suara 'BOOM!' terdengar dari arah Zim. Eva menoleh panik, dia pikir ada sesuatu yang buruk menimpa macan kumbang itu tapi apa yang Eva lihat malah kebalikannya. Wajah wanita itu melunak saat mendapati wujud lucu dari seekor anak kucing dengan mata terpejam.
Zim tidak bisa mempertahankan wujud monsternya. |
Tanpa sadar Eva mengangkat kucing hitam yang merupakan perwujudan lain dari Zim lalu meletakkannya didalam pelukan.
"Mari mencari penginapan Zim~" bisik wanita itu sambil melangkah turun dijalanan yang sepi.
...***...
Eva menatap dalam langit malam yang selalu ditutupi awan, menyamarkan warna asli miliknya. Wanita itu bersyukur tidak berpapasan lagi dengan Davian, entah kemana perginya lelaki itu.
Pasti banyak pertanyaan yang muncul didalam benak lelaki itu, Eva bahkan tidak tahu bagaimana bisa Davian berada di dunia bawah dengan tujuan melakukan pengajaran atas dirinya. Siapa yang memberitahu Davian, kenapa lelaki itu sampai bertindak senekat ini? Seingat Eva Davian tidak bisa mengeluarkan kekuatan miliknya karena alasan tertentu, wanita itu harap Davian baik-baik saja.
Knock! Knock!
Eva terkejut, dia menoleh cepat menuju arah jendela kamar. Wanita itu membeku.
"Buka Eva!" Desis Davian kesal. Lagi-lagi Eva menelan salivanya kasar, wanita itu berdiri dari duduknya lalu mendekati arah jendela kamar dari penginapan. Ragu, Eva membuka setengah dari jendala tersebut. Tak perlu menunggu waktu yang lama Davian menyelinap masuk.
Lelaki itu melepaskan tudung wajah miliknya. Banyak yang berubah saat dia memperhatikan sosok Eva tanpa topeng tengkorak.
"Kau terlihat hidup damai disini, bahkan sampai memiliki peliharaan..." sindir Davian sarkas. Lelaki itu lalu melempar tubuhnya diatas ranjang, dia benar-benar lelah karena harus berkeliling mencari keberadaan wanita nakal yang selalu merepotkan dirinya.
Eva menunduk, dia ikut duduk dibibir ranjang dengan perasaan bersalah.
Davian menatap langit-langit penginapan, sejenak dia terdiam sebelum melontarkan pertanyaan.
"Kenapa kau tidak bilang?" Tanya Davian.
Eva membisu; sebenarnya dia tidak paham maksud pertanyaan Davian itu tentang apa.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bilang Eva?" Ulang Davian lagi, Eva menoleh penasaran. Manik mereka bersinggungan. Kilat hazel yang tak pernah nampak kembali muncul kepermukaan.
"Kenapa kau tidak bilang—bahwa kau adalah Reva."
DEG!
Eva merasakan debar jantungnya meningkat secara drastis. Telapak tangan terasa dingin, tubuh Eva bergetar. Kenapa? Kenapa Davian mengetahuinya?
Kenapa dia tahu kalau Eva adalah Reva?
Wanita itu mencoba menyangkal tapi tak bisa, tak ada satupun kata yang berhasil Eva ucapkan. Seolah semua benda itu tersangkut di kerongkongan. Davian tertawa miris; reaksi yang sudah ia perkirakan. Tangan lelaki itu terangkat, menjelajah pelan pipi cantik milik Eva dengan jemarinya.
"Tak apa, jika kau bingung ingin memberi alasan..." bisik Davian. Jemarinya berhenti tepat didagu Eva, ah~ sudah lama rasanya tidak melihat sosok cantik dari Eva ditambah jiwa wanita itu adalah milik Reva. Davian tidak bisa lepas dari sorot pandang penuh kerinduan.
"Boleh aku mencium mu?" Tanya Davian dengan mata sayu-nya. Eva tidak mengerti apa yang terjadi tapi wanita itu seperti terhanyut dalam suatu perasaan aneh yang terasa asing namun familiar dalam satu waktu. Tanpa sadar Eva menunduk, wajahnya mendekat kearah Davian.
Sambil memejamkan mata, kedua benda lembap itu membentur lembut satu sama lain.
Cup~
Davian maupun Eva meresapi perasaan aneh yang mereka sebuat sebagai cinta?
Tangan lelaki itu tergerak, membawa beberapa helai surai rambut milik Eva kebelakang telinga agar tidak menghalangi.
"Reva~" bisik Davian disela ciuman. Eva terdiam, dia melepaskan tautan bibir secara sepihak lalu menahan mulut Davian yang ingin mendekatinya lagi. Mata Eva berkaca-kaca, entah karena apa yang pasti wanita itu seperti merasakan rasa nyeri disudut hatinya.
Dia bukan Reva tapi—Eva.
Pikir wanita itu dalam diamnya.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...bye...
...:3...
__ADS_1