Crazy Baby

Crazy Baby
Kotak memori


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih....


...Selamat membaca....


..._______________________...


...K o t a k - M e m o r i...


...________________________...


...______________...


...______...


..._...


Davian menampilkan wajah jenuh, ditatapnya wujud dalam ruang dimensi milik Sai—kerabat jauh dari keluarga cabang. Banyak lukisan jam dinding di sana; jarumnya berputar cepat, berbeda dengan ruang teleportasi yang biasa si hazel pakai. Ruang dimensi Sai ini memerlukan sedikit waktu untuk sebuah perjalanan. Setelah menetapkan koordinat bersama Sai, Davian angkat kaki dari tempat itu. Dia bersyukur kerabat jauhnya tidak bertanya macam-macam; entah karena dia memilih bungkam atau mengetahui sesuatu yang membuatnya tak perlu banyak lagak.


"Huh~" hela napas muncul dari sela bibir.


Sosok Reva tiba-tiba terlintas dalam pikiran, bagaimana keadaan gadis itu? Apakah Josan melakukan tindakan kurang ajar lagi? Atau membuat Reva menangis seperti terakhir kali? Hanya itu yang mengisi bagian dalam otak Davian. Dia kesal, marah, peringatan yang si hazel ini ucapkan ternyata hanya terdengar main-main di telinga Josan.


Tch!


Davian harap waktu bergerak cepat atau paling tidak ruang teleportasi ini yang di percepat. Dia ingin cepat-cepat menjemput Reva, merampas kembali tubuh mungil gadis itu dari tangan seorang bajingan. Untuk masalah Josan, Davian akan pikirkan hukuman jenis apa yang harus diberikannya lagi. Agar setidaknya lelaki itu menggunakan otaknya.


Andai membunuh manusia itu bukan hal tabu.


Davian jadi tidak perlu berkoar-koar dengan kalimat itu, dia bisa langsung mewujudkannya. Ucapan kata 'akan ku bunuh kau!' tak akan jadi angan belaka. Agak sadis sih tapi persetan?! Peduli apa Davian.


Oh ya, omong-omong lelaki hazel ini jadi teringat sesuatu. Sebuah hak istimewa yang dimilikinya ketika berhasil mengikat pasangan takdir.


Kotak memori.|


Kemampuan membaca seluruh ingatan dari pasangan masing-masing. Itu kenapa di haruskan siap menerima 'apa adanya pasangan mereka' bukan ada apanya. Sebuah penghinaan untuk dewi cinta jika menganggap kekurangan pasangan menjadi sesuatu yang salah.


Haruskah Davian sedikit mengulik? Maksudnya mengintip potongan kecil dari ingatan Reva? Karena jujur, Davian agak penasaran pada kehidupan masa lalu gadis pujaannya itu.

__ADS_1


Bolehkan?


Menjadi egois demi cinta.


Davian menelan kasar salivanya, sial. Hal remeh seperti ini berhasil membuat gugup. Tampangnya jadi tak karuan, perasaan cemas yang hilang beberapa saat lalu kembali muncul. Tangan Davian terangkat, jemari berbalut plester luka di arahkan ke bagian mulut—lelaki ini ingin menggigit area kuku seperti tadi tapi tak bisa. Lama bergelut dengan batin sendiri, Davian akhirnya menggumamkan kalimat lugas dari bibirnya.


"Ku ingin cinta abadi, izinkan kotak memori memberi celah dalam kebenaran sebuah kisah pada pantulan cermin."


Layaknya mantra, sesuatu yang bercahaya muncul didepan mata Davian. Kubus putih berukuran sebesar genggaman tangan, walau terlihat kecil dan biasa-biasa saja—benda itu menyimpan separuh ingatan Reva tentang masa lalu dan akan terus terisi oleh masa depan.


Sebelum mengintip bagian dalam ingatan Reva, Davian kembali menarik napas panjang. Dia benar-benar merasa gugup, berharap bisa menata isi hatinya jika sudah melihat ingatan tentang Reva. Jangan tergoyahkan oleh masa lalu karena kau mencintai sosoknya yang saat ini.


Sederhana bukan?


Davian terpejam pelan; sebuah kalimat kunci terucap dari celah bibirnya.


"Terbukalah~"


...***...


"Bajingan gila! Enyahkan wajah konyol mu itu! Kau membuat ku mual?!" Reva berucap kasar sembari berupaya menendang bagian tubuh Josan, lelaki yang menindihnya. Seakan mati rasa dia membiarkan Reva berlaku semaunya dibawah kungkungan sebelum akhirnya melepas titik tumpu tubuh. Reva tersentak, permukaan kulit telanjang milik mereka bertemu—memberi efek kejut.


Meski Josan masih menggunakan celana tetap saja setengah telanjang. Seperti cacing kepanasan Reva benar-benar dibuat menggeliat gila. Dia mati-matian ingin meloloskan diri dari Josan tapi sayangnya tindakan Reva malah membangunkan sesuatu yang lain dari lelaki itu.


"Kau membangunkan sesuatu~ haruskah ku pinta kau menidurkannya lagi sayang?"


Reva yang mendengar kalimat mengundang dari Josan terdiam. Wajah jijik dilayangkannya kearah lelaki itu, Josan terlihat nyaman dengan posisinya.


"Seharusnya kau bilang Reva, kita bisa langsung menikah saat tahu kau hamil..." tutur Josan, mengingat topik terakhir yang mereka bahas.


Rasa ingin meludah, Reva yang sudah tak memberontak lagi merotasi kedua bola matanya ketika gendang telinga mendengar kalimat Josan.


"Kau pikir aku sudi? Bahkan saat mendengar alasan dangkal mu, aku bersyukur dengan rasa benci ku!"


Josan bungkam, memang tindakan yang dilakukannya kelewatan tapi—?


"Tak bisakah kau memaafkan ku? Sekali ini saja, Reva..."


Deg!


"Apa?!" beo gadis bermanik kelam itu. Matanya kembali terasa pedas, permainan konyol apa ini? Emosi tak seberapa milik jiwanya dipermainkan seakan itu tidak bernilai apa-apa. Padahal Reva berusaha sekuat tenaga mempertahankan secuil perasaan dalam hati seorang manusia.

__ADS_1


"APA KAU PIKIR AKU AKAN DENGAN LAPANG DADA MEMAAFKAN MU JOSAN?!"


Bukan air mata benci, gadis cacat ini hanya menumpahkan sedikit perasaan yang tersisa dari hatinya untuk menggambarkan wujud kekecewaan.


Hiks... hiks...


"Kau! Kau membuat ku takut Josan?!" teriak Reva—lemah. Tangannya terangkat memukul pelan bahu lelaki yang masih menindihnya. Sambil menangis dan yakin kalau Josan memperhatikan setiap kata yang di ucapkan. Reva memuntahkan segalanya, rasa takut, benci juga cinta miliknya di masa lalu untuk Josan.


Untuk lelaki biadab itu.


Ah~


Sungguh beruntungannya kau.|


Menyia-nyiakan sesuatu.


...***...


Tes...


Davian terdiam, setitik air jatuh dari pelupuk mata lelaki itu. Wajahnya tak percaya, tubuh yang sudah meninggalkan ruang dimensi dengan ribuan lukisan jam dinding itu membeku. Sejak kapan dia menjadi se-cengeng ini? Bangunan kota asing yang menyambut pandangan milik Davian seakan tak berarti. Pikiran si hazel kosong dengan jiwa yang entah melayang kemana.


"Bohong." Davian menyangkal ingatan yang baru saja ia lihat dari masa lalu Reva. Dadanya sesak, meski hanya melihat Davian bisa merasakan emosi dari pemilik ingatan. Itu menyakitkan.


Dia jelas menonton bagaimana inci per-inci setiap adegan pemerkosaan Reva.


"Hosh~" uap panas hadir dari sela bibir Davian. Wajahnya menggelap, manik hazel yang selalu menjadi ciri khas lelaki itu berubah perlahan menjadi warna keemasan.


Dia melirik, aura negatif yang tadinya banyak berseliweran tiba-tiba lenyap seketika. Bersama suara rendah Davian berucap—


"Seruling malam milik pembawa lentera, pengasuh dari sebuah kedamaian juga kemunafikan... tunjukan jalan sebelum pengkhianat balas merobek kepingan jiwa!" sarkas Davian memanggil sosok sang ibu mertua; Gabriel.


...***...


...T b c ......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2