
Apa kau menyukai Davian?
Tidak!
Apa kau menyukai Davian?
Tidak!
Apa kau menyukai Davian?
TIDAK!
Apa kau menyukai-Nya?
"Ya?"
TIDAAAK!!!!
Berapa kali pun pertanyaan Adam terngiang dalam benak Eni, wanita itu pasti akan menjawab dengan lantang kalau dia tidak menyukai Davian namun kenyataannya kata 'ya' terucap begitu mudah dari mulut wanita tersebut. Eni tak lupa, ekspresi wajah yang Adam tampilkan ketika mendengar jawaban dari Eni. Gurat dingin muncul; lelaki itu pucat, lidahnya kelu—seakan-akan tak percaya pada kenyataan yang baru saja menampar pedas pipinya.
Eni mendongak, langit sore terlihat. Hitungan menit lagi warna jingga itu akan tergantikan.
"Husff~" hela napas terdengar dari sela mulut milik Eni. Tangan yang berada dipembatas balkon mengerat, firasat aneh hadir. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang buruk akan terjadi; cepat atau lambat.
Eni tak tahu.
Setelah di usir oleh Adam perasaan wanita itu menjadi gelisah. Apa karena Eni melakukan keributan di pagi hari saat berada di apartemen Adam? Makanya suasananya jadi canggung. Jarang-jarang melihat Adam marah, lelaki itu cukup sulit ditebak kecuali dalam beberapa hal seperti—
Kau tahu kalau dia mencintai mu.
Tapi kau menyangkalnya.
Kau hanya ingin bermain-main, lalu mengutuknya dengan kutukan yang paling kuat.
Yaitu—
"Cinta."
...***...
"Perkenalkan, dia adalah putra kedua garis keturunan utama dari nyonya sebelumnya. Tuan muda Adam"
Eni terdiam, tebakan soal Adam adalah tamu yang ditunggu-tunggu keluarganya ternyata benar. Gadis cilik itu duduk tepat disamping sang ibunya, seseorang yang lebih dewasa dari pada Adam tapi tidak lebih tua dari orang tuanya tampak berceloteh ria soal Adam.
"Untuk sementara, anak itu akan tinggal di sini dan menjadi teman sepermainan mu Eni." Bisik wanita cantik disebelah Eni, Eni menoleh. Bingung, apa yang di ucapkan ibunya? Apakah Adam akan tinggal disini? Begitu?
Tapi kenapa ucapan paman itu terdengar 'berbahaya' bagi Eni.
"Nyonya berdebat dengan tuan Kevin,"
"Itu jelas, karena tuan Kevin membawa selingkuhannya nona Sarah dengan dalih 'pasangan takdir' padahal tanpa semua itu kita bisa dengan jelas melihat kalau tuan Kevin 'hanya' membenci pernikahan pertamanya dengan nyonya."
"Sungguh anak-anak yang malang."
Apa yang orang dewasa ini bicarakan?
"Demi menghindari khasus kekerasan, tuan muda Gedion dan tuan muda Adam di kirim ke kediaman keluarga cabang. Agar mereka bisa dirawat dan mendapatkan pendidikan sampai pertengkaran rumah tangga kedua orang itu mereda."
__ADS_1
"Lalu bagaimana tanggapan kepala keluarga utama?"
"Akan jadi sulit jika nyonya meminta cerai,"
Deg!
Eni diam, lirikannya tajam. Selain mendengarkan untaian kata milik orang dewasa disekitarnya gadis cilik ini senantiasa memperhatikan Adam, sosok itu tersentak. Percakapan yang tidak pantas didengar oleh telinga anak-anak mengganggunya. Pandangan Adam semakin menunduk, dia seolah-olah mengerti ucapan para orang dewasa itu namun mencoba menahannya tanpa berkomentar.
Memang—apa arti dari kata perceraian itu sendiri?
"Haruskah kita pergi bermain?" Ucap Eni, terlontar begitu saja menghentikan percakapan para orang dewasa disana. Pandangan mereka tertuju tepat kearah Eni, gadis cilik dengan seragam kumal bekas bermain di taman tadi itu berdiri. Dia menyodorkan tangan kearah Adam, menunggu lelaki itu menyambut genggaman tangan miliknya.
Bocah lelaki itu mendongak, maniknya berkilat. Ragu; ia menyambut uluran tangan Eni. Wajah cerah gadis itu terlihat sambil mengabaikan pandangan aneh orang tua dan si paman asing disana—Eni membawa pergi Adam, menjauh sejauh yang mereka bisa capai.
"Ku rasa akan baik-baik saja. Mungkin."
Bugh!
"Ish?! Ingatan apa itu?" Gumam Eni, wanita dengan manik hazel itu meringis. Ia memijit pelan area kepala, sosoknya baru saja jatuh tepat diatas lantai balkon.
Langit sudah menjadi gelap. Tubuh yang tidak mendapatkan asupan makanan itu jelas menjadi lemah tapi bisa-bisanya Eni melamun ditengah keheningan.
Bahkan apa yang ia lamunkan sangatlah tak masuk akal.
"Apa itu pertama kalinya aku bertemu dengan Adam?" Bisik Eni penasaran. Beberapa kepingan ingatan pecah, wanita ini semakin lupa pada banyak hal. Siapa dirinya, bagaimana orang tuannya, seperti apa kehancuran keluarganya?
Abu-abu.
Semua itu terasa abu-abu dalam satu waktu.
Lalu kenapa aku membenci Adam?
WUSSS!
Penghalang.
Manik Eni membola, wanita itu mendongak. Tumpukan puzzle kaca bermunculan; menutupi seluruh wilayah kediaman Eni layaknya tudung besar. Spontan ia berdiri menatap sekitar, gelapnya langit lebih pekat dari pada warnanya malam.
Apa yang terjadi?! Batin Eni cermat menilai situasi.
"Dia yang tak mungkin pecah, dia yang tak mungkin rapuh. Lindungan sang induk. Cangkang dari sebuah telur; pembawa kehidupan baru, retak lah dari dalam. Tunjukan dunia pada ku."
KRAK!
WUSS!
"Tak mungkin." Desis Eni. Mantra pembatalan yang baru saja ia rapal gagal, itu artinya penghalang ini lebih kuat dari biasanya. Mungkin berkali-kali lipat.
Pertanyaan mendasar kembali muncul, sebenarnya apa yang terjadi?! Sebuah penyerangan atau 'kah sabotase dari pihak-pihak tertentu yang menginginkan tanah kediaman milik Eni.
Wanita itu menaiki sebelah kakinya keatas pembatas balkon.
Tidak ada pergerakan, terlalu hening nilainya dalam hati. Berniat melakukan pengintaian pada daerah sekitar namun gerakan Eni tertahan, sebelum dia melompat dari area balkon Adam tiba-tiba muncul tepat didepan matanya.
DEGH!
Mengejutkan Eni hingga membuat wanita itu nyaris terjungkal kebelakang jika saja Adam tidak menahannya.
__ADS_1
"Ets! Hati-hati..." ucap Adam. Membawa Eni turun dari atas pembatas balkon, wanita itu menampilkan raut keheranan. Kenapa sosok Adam bisa muncul begitu saja didalam situasi janggal ini? Kecuali jika dia menyadari sesuatu lebih dulu atau dia lah yang menciptakan keadaan tersebut.
TAPS!
Eni mengempaskan tangan Adam tanpa sadar, wanita itu bergerak mundur—menjauh dari wajah tenang milik Adam. Was-was ia mencoba untuk tidak menaruh curiga pada sepupunya itu namun tak bisa.
"Apa yang terjadi Adam?" Tanya Eni ditengah situasi aneh ini.
Lelaki itu membeku, menatap kasihan tangan miliknya yang baru saja ditepis kuat oleh wanita pujaannya. Adam mendongak, senyum dangkalnya hadir—menyambut penglihatan Eni seraya memberikan sensasi ngeri.
Glek!
Wanita itu menelan kuat saliva dalam mulutnya. Tenggorokan Eni kering, apa yang terjadi? Suasana mengerikan apa ini? Kenapa? Rasanya sosok Adam mengingatkan Eni pada sesuatu.
Sesuatu yang penting namun dengan gamblangnya ia lupakan.
Apa itu?
DEG!
Sekujur tubuh Eni merinding, bola matanya melotot, dengan cepat sosok tersebut berbalik—lalu berlari pergi meninggalkan Adam seorang diri.
APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU! APA ITU!
Batinnya takut.
TAP! TAP! TAP! TAP! TAP!
Manik Eni berkaca-kaca. Teras dari kediaman miliknya yang langsung menyambung dengan taman di lantai bawah terlihat, wanita itu bergegas kesana. Dia harus menuju ujung dari penghalang ini lalu memecahkan benda itu agar bisa kabur.
Atau Eni tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya tertangkap oleh iblis tersebut.
"Mau kemana kau? Eni?"
Terlambat. |
...___________________...
...A d a m...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
...Tbc...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...