
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupaklik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...Z i m...
...___________________...
...___________...
...____...
..._...
Aku menemukannya?! Zim benar-benar bernapas lega, setelah cukup lama mengelilingi bangunan istana akhirnya dia berhasil menemukan apa yang ia cari. Ya meski ada sedikit hal yang janggal di beberapa bagian.
Tebakan macan kumbang itu tidak salah, Eva berada tepat di istana. Anehnya bukan didalam penjara melainkan diatas punggung sebuah laba-laba raksasa, ditambah—ada sosok lain serupa manusia dengan mahkota tepat disamping Eva.
Mahkota? Lambang dari istri raja, dia?
"Ratu?"
RWAR!
Vioner mendesis nyaring, dia menyadari kalau mata Zim sedang mengawasi pergerakan mereka. Macan kumbang itu mundur beberapa langkah—wujud bayangannya berubah menjadi tampak. Zim berhadapan tepat didepan mata majemuk milik Vioner.
Sosok laba-laba itu terlihat waspada, sebagai monster yang bukan tipe petarung jarak dekat—dia mulai memasang jaring-jaring disetiap sudut yang bisa ia gapai. Kian turun dari pundak Vioner bersama dengan Eva, bersembunyi diantara kaki dengan wajah yang tak kalah siaga. Tak sekali dua kali dihadapkan dengan situasi janis itu, hingga rasanya Kian muak dan ingin sekali keluar dari neraka mengerikan ini.
Terkutuk kau Elliot, karena sudah membawa Kian kemari.
Sama halnya dengan Vioner, si macan kumbang hitam kita mulai memasang posisi bertarung—siap menyerang kapanpun jika diperlukan. Namun tak ada yang melakukan apapun setelah beberapa detik, mereka terperangkap dalam keheningan. Jangan bergerak gegabah, mungkin itu isi pikiran mereka. Zim tidak ingin salah sasaran dan malah mengenai Eva sedangkan Vioner harus memprioritaskan keselamatan Ratu. Sebuah tindakan bijak namun tiba-tiba serangan dadakan muncul, tubuh Zim terlontar kuat menuju tembok.
__ADS_1
BUGH!
BOOM!
"ERGH?!"
Hingga benda itu runtuh menjadi puing-puing baru. Wajah Sebastian menyambut penglihatan Kian, wanita dengan julukan Ratu dari seluruh negeri itu menghela napas—sosok yang ia kenal muncul tepat dihadapan matanya.
"Anda baik-baik saja yang mulia Ratu?" Kian mengangguk, belum beberapa detik kelegaan datang Zim kembali bangkit dan mulai menyerang. Vioner yang berada tepat dibarisan depan menghalau serangan pedang Zim sambil mendesis kesal. Beraninya dia menyerang Ratu, padahal mereka berada di ras yang sama.
Ini pemberontak.
"Tak takut mati rupanya kau! Hingga berani menyerang Ratu negeri ini, ibu dari kita semua?!" Desis Vioner nyalang. Zim berdecih, sesuatu yang kental seperti darah mengalir diatas kepalanya. Berwarna biru gelap dengan bau tak sedap, kapan terakhir kali ia terluka? Zim pikir dia sudah cukup kuat ternyata tidak.
Sembari memperhatikan dari kejauhan, pertarungan antara Zim dan Vioner Sebastian menghubungi sang Raja—beberapa perintah diturunkan makhluk itu pada pelayan setianya. Sebastian mengangguk, dilihat dari pergerakan bertarung Zim hingga cara pandangnya sangatlah hati-hati.
Tebakan pelayan tua itu tentang tujuan penyerangan istana adalah manusia yang sekarang ini berada tepat didalam pelukan Ratu ternyata benar. Sebastian melirik, pada nona muda manusia yang terlihat rapuh. Dia seperti diambang kematian namun masih bisa bertahan tanpa alasan yang jelas. Sungguh unik.
"Hosh, hosh?!" Terdengar deru napas lelah dari arah mulut Zim, bahkan saat dia berhadapan dengan monster yang jelas-jelas bukan tipe petarung saja sudah membuatnya kewalahan. Walau sebenarnya damage serangan Sebastian lah yang paling berdampak besar menghancurkan tubuh kucing besar itu sebelumnya.
Sedari tadi Vioner mengoceh soal tindakan tercela yang dilakukan Zim seperti orang alim, hanya karena menyerang istana—itu membuat telinga Zim gatal tapi apalah daya dia tidak memiliki kekuatan hebat supaya bisa membungkam mulut menyebalkan milik Vioner. Bahkan tidak ada cela dalam berpikir, dibawah pengawasan Sebastian Zim seumpama tikus yang terjebak didalam got. Kucing besar itu tak akan bisa mendekati ratu; seujung jari sekalipun.
Tugas utama yang Zim dapatkan adalah membawa Eva pergi sejauh mungkin jika berhasil menemukannya. Bukan menjadi pahlawan kesiangan, selain dirinya yang babak belur disini ada sosok Davian yang mungkin saja sekarat saat ini.
"RGAAAARMMM!!!!"
DEG!
Semuanya terdiam seketika ketika mendengar auman mengerikan dari arah sang Raja. Lutut Zim bergetar, apa itu? Batinnya penasaran. Jelas-jelas telinga kucingnya mendengar suara mengerikan berkumandang, telah terjadi sesuatu. Davian pasti sedang 'tidak baik-baik saja' saat ini.
Sama seperti Zim, Sebastian mulai menghubungi sang Raja karena rasa khawatir namun tidak mendapat jawaban. Makhluk itu panik, mungkin saja sang Raja dari seluruh negeri tengah murka—hal ini bisa meluluh lantakan sekitar jika dibiarkan.
Melihat sedikit kelengahan, Zim berusaha memaksakan tubuh untuk bergerak. Lawan ketakutan dan rasa tunduk mu pada sang Raja! Rutuknya dalam hati. Zim menelan saliva susah payah, saat semuanya sibuk; hanyut dalam tekanan mengerikan Zim mencoba menggapai tubuh dari Eva.
Kian yang menyadari sesuatu mengeratkan pelukan tubuhnya pada Eva, kejadian berlangsung cukup cepat. Dalam hitungan detik pemandangan mengerikan hadir, tangan Zim terpotong tepat dihadapan Kian.
"ARGHHH!" Jerit Zim menahan rasa sakit.
__ADS_1
"ÈVE!" Panggilnya setelah itu, tangan yang sudah terlepas dari tubuh berhasil menggapai Eva. Antara ingin menangis dan terharu semuanya campur aduk. Melihat itu Kian terdiam, makhluk berbentuk setengah macan kumbang didepan matanya seperti mengenali sosok Eva.
Wanita yang memiliki gelar Ratu itu membuka celah bibirnya, memberi perintah cepat sebelum Sebastian menebas kejam leher dari Zim karena sikap lancang; mendekatinya.
"HENTIKAN!"
Beberapa senti lagi, Zim membatu—tangan dengan kuku tajam serupa pedang dan tombak itu akan memenggal kepalanya. Darah berwarna unik mengalir deras pada kedua tangan Zim tapi ia bersyukur karena masih bisa hidup beberapa detik kedepan karena perintah janggal sang Ratu.
"Kau? Kau mengenali dia?" Tanya Kian mendekati Zim sambil menunjuk kearah Eva. Macan kumbang hitam itu terlihat mengangguk, kepalanya mulai berkunang-kunang.
"Ève..." panggilnya pelan sebelum kehilangan kesadaran. Jatuh tersungkur tepat dihadapan Kian. Ratu dari seluruh negeri.
Bugh!
"Vioner! Rawat dia?!" Titah Kian mutlak, laba-laba itu mengubah wujud lalu melakukan perawatan pertama pada macan kumban tersebut tanpa banyak tanya kepada sang Ratu.
Kian berbalik, dia menatap nyalang kearah Sebastian. Entah kenapa wanita ini cukup kesal tanpa alasan yang jelas kepada makhluk itu. Belum sempat melontarkan kalimat pertanyaan mata Kian disambut dengan pemandangan aneh.
Wujud besar Elliot lewat diatas langit-langit istana yang runtuh—mengejar seseorang. Tubuhnya bersimbah darah, Kian menyipitkan mata. Sebastian meminta sang Ratu untuk menjauh, tempat ini akan jadi medan pertarungan selanjutnya sampai tiba-tiba sosok yang di kejar Elliot jatuh.
Bugh!
Kian melihat, sosok itu memuntahkan darah. Nyaris sekarat. Tidak ingin kehilangan mangsanya Elliot mengubah wujud sambil bertelepati dengan Sebastian—meminta makhluk itu membawa Kian menjauh; ketempat yang lebih aman namun Kian menepisnya.
Manik wanita itu membola, tak percaya. Celah bibirnya terbuka.
"Davian?" Panggil Kian spontan menghentikan sejenak pertarungan.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...