
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...______________________________...
...B i n c a n g...
...______________________________...
...______________________...
..._______________...
...________...
...___...
..._...
Reva ternganga kecil saat melihat Davian dengan santai menaiki ranjang bermotif miliknya. Lelaki itu setengah berbaring di kepala ranjang sambil mengotak-atik handphone yang jarang Reva ketahui keberadaan wujudnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar menganggap ini rumah mu yah Davian..." sindir Reva, melangkah masuk mendekati Davian. Terdengar deheman masa bodoh dari arah lelaki bermanik hazel itu.
Reva berhenti dibibir ranjang, ia memilih duduk disana. Gadis bermanik kelam itu mendongak, jam makan malam sudah lewat; sungguh hari yang singkat. Rangkuman sederhanan hari ini—usai kuliah Reva diseret mengikuti Davian seperti anak itik untuk membenarkan masalah titik pembaharuan atau sejenisnya, lalu menyaksikan Davian terlelap dipangkuan dan berakhir melakukan percakapan sore dengan secangkir coklat panas, sampai siapa kira situasi akan berlanjut hingga makan malam dan kondisi saat ini.
"Hari yang menyenangkan," komentar Reva masih menatap langit-langit ruangan. Davian menghentikan kegiatannya berselancar di dunia maya, lelaki itu melirik. Otaknya bertanya-tanya kenapa Reva tidak ikut berbaring disampingnya.
"Kau tidak berbaring?" tanya Davian kemudian. Alis Reva terangkat, dia menoleh dengan pandangan penuh rasa penasaran atas ucapan Davian yang terdengar seperti candaan tak wajar.
"Pria dan wanita tanpa ikatan bukannya tak boleh berbaring di tempat tidur yang sama." sahut Reva. Mencoba mengikuti alur percakapan Davian. Lelaki bermanik hazel disamping Reva ini mulai bersikap aneh lagi. Apakah mungkin berkaitan dengan masalah insting yang mereka bahas tadi?
Davian berdecih tanpa suara, rasa seperti tersayat mengganggunya lagi. Lelaki itu membuang pandangan kesal. Rona merah muncul di kedua pipi, dengan wajah setengah cemberut dia berkata—
"Kita suami istri."
Deg!
"Kau bergurau Davian," sinis Reva seraya menyandarkan punggung kebagian kepala ranjang.
"Hehehe..." kekeh Davian ringan. Dia mengangkat bahu tak acuh, senang berhasil menggoda sang istri—Reva.
"Jika kau mau kita bisa menikah sungguhan..."
Brak!
Tendang Reva. Davian jatuh terjungkal kesisi lain ranjang karena sepakkan Reva. Terlihat gadis itu berwajah jengah.
__ADS_1
"Benar-benar tak lucu Davian—" ujar Reva menggantung. Terdengar ringisan sakit dari arah bawah ranjang, Davian mencoba bangkit. Barbar juga ternyata, batin lelaki itu.
"—bukannya kau selalu mengeluh ingin melepaskan ikatan kita?" sambung Reva terdengar lugas ditelinga Davian.
Lagi-lagi Davian dibuat mematung dengan bibir membisu. Reva membenarkan posisi supaya sedikit lebih nyaman diatas ranjang sendiri. Gadis itu melirik, tak ada respon dari Davian. Tanda tanya kembali singgah dibenak Reva melihat Davian tak kunjung bangkit dari lantai.
"Kau tak apa Davian?" tanya Reva merasa khawatir. Davian masih diam, mulutnya enggan berkata-kata. Gadis itu jadi sedikit gugup. Keheningan melanda beberapa saat, sampai Davian menoleh—dari balik ekor matanya menatap langsung manik kelam Reva.
"Aku tak ingin lagi," gumam Davian ambigu. Reva cepat merubah posisi tubuhnya menjadi tegak sempurna, pendengaran gadis itu berubah tajam; mencerna baik-baik ucapan lelaki bermanik hezel ini. Apa maksud ucapannya? tanya dewi batin Reva.
Davian membuka bibirnya.
"Rasanya sakit, tidak bisakah jika kita seperti ini saja?"
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...