Crazy Baby

Crazy Baby
Lubang Hitam


__ADS_3

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Terima kasih,...


...Selamat membaca....


..._________________________________...


...L.u b a n g—H i t a m...


...__________________________________...


...________________________...


..._________________...


...___________...


...______...


...___...


..._...


Tunggu? Apa?


Reva tersentak kaget dalam diamnya, apa yang baru saja diucapkan kakek Davian? Reva tidak salah dengar bukan? Cerai? Davian ingin melakukan pemisahan ikatan? Tanpa persetujuannya?


Bukan karena terlalu percaya diri, tapi Reva rasa Davian setidaknya harus membicarakan soal ini dengannya. Hasil dari tindakan gegabah itu tidak baik.

__ADS_1


Reva jadi teringat satu hal, Davian pernah bilang seperti ini—jika ingin melakukan ritual pemisahan mereka perlu menumbalkan sesuatu dikarenakan hubungan ini diawali dari ketidak sengajaan.


"Apa Davian berhasil menemukan tumbalnya?" gumam Reva tak sengaja; menumpahkan isi pemikirannya. Kakek Davian sedikit tersentak mendengar itu semua, dia ingin mencoba bertanya balik pada Reva tapi tiba-tiba sebuah goncang besar terjadi.


Reva maupun sang kakek bermanik hazel itu kaget, lubang hitam muncul diantara mereka. Semakin besar bentuknya seiring waktu, kakek Davian menatap tajam. Ada yang mencoba menerobos masuk ruang dimensi miliknya tanpa izin.


"Nak! Tetap bersama ku!" pinta lelaki tua itu. Reva yang setengah gugup mengangguk, dia berjalan menuju keberadaan kakek Davian dengan pandangan was-was kearah lubang hitam yang perlahan berubah menjadi retakan besar pada dinding dimensi.


Keadaan sekitar yang awalnya indah dengan pemandangan hamparan padang rumput dan semilir angin sejuk perlahan menghilang—berubah menjadi menghitam.


Reva melihat rerumputan mulai layu, pohon mati dan udara terasa kotor. Apa ini?! Apa yang tengah terjadi?! Jerit dewi batinnya. Gadis bermanik kelam itu berdiri tepat dibelakang kakek Davian.


Angin besar seperti badai muncul dari arah lubang hitam didepan mereka.


Kakek Davian berdecih kesal, dia masih mencari siapa pelaku yang mencoba membobol masuk gerbang dan ruang dimensi buatannya. Lelaki tua itu bersumpah akan memberi pelajaran berat pada sipelaku jika dia berhasil menangkapnya.


Tiba-tiba panggilan telepati dari cucunya Eni terdengar.


Pekik arwah itu.


Kakek Davian mau tak mau menyahutinya.


Ada apa Eni?


Davian—


Kenapa lagi dengan cucu laki-lakinya itu? Padahal mereka baru saja membicarakan Davian, tidak mungkinkan hal ini ada sangkut pautnya dengan Davian?


Dia lepas kendali!


DEG!

__ADS_1


Kakek Davian terlalu tua untuk memaki, tapi sungguh dia benar-benar ingin mengumpat saat ini. Tangan lelaki itu terangkat menuju area lubang hitam, dimata Reva kakek Davian seperti mencoba mengontrol retakan sekitar yang terjadi agar tidak terjadi perpecahan hingga kehancuran tempat mereka berpijak.


"Nak!" seru kakek Davian. Reva menyahut seadanya dengan ucapan 'ya' secara lantang.


"Ku rasa kau harus keluar dari sini!" ucap kakek Davian, seribu tanda tanya hadir diotak Reva.


Kakek Davian tahu kalau gadis belia dibelakangnya ini pasti mendahului pemikirannya yang penuh pertanyaan itu ketimbang perintah kakek Davian.


"Jangan terlalu berpikir nak! Lari saja, aku akan membuka pintu keluar untuk mu!" pinta kakek Davian. Reva yang merasa benar-benar janggal memilih bungkam untuk sementara waktu.


Dia ingin beranjak sesuai perintah kakek Davian, tapi fokusnya malah teralihkan. Betapa kesalnya kakek Davian melihat Reva malah terpaku.


Arghhh!


Bukan hanya Reva yang melihat, kakek Davian juga. Sosok familiar didepan mereka mencoba keluar dari retakkan didepan mereka.


Itu—


"Davi... an?" panggil Reva sedikit ragu.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote & comments......


...Makasih,...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2