
Aku merasakan sesuatu mendekap erat tubuh ku. Rasanya hangat tapi juga menyakitkan dan ketika aku bangun dari mimpi itu hanya putih yang tersisa—
Dimana aku?
Siapa aku?
...__________________________________...
...P e n g h u n i - R u a n g - P u t i h...
...__________________________________...
...___________________...
...________...
..._...
Hari apa ini? Dimana ini? Bagaimana bisa aku berakhir disini? Pertanyaan yang sudah muak untuk ku tanyakan.
Tak ada siapapun selain warna putih yang menemani, tubuh ku berbalut gaun tipis tanpa renda dengan warna senada ruangan. Ku tatap sekitar tidak ada jalan keluar; pintu, jendela ataupun perabotan. Rasa lapar dan nafsu duniawi lainnya tak mempengaruhi ku, siapa aku? Atau tepatnya apa aku ini?
Entah luas atau sempit—jarak, tinggi, dan lebar dari ruangan ini tidak bisa diperkirakan. Seberapa besar keinginan ku untuk lari dari sini aku akan tetap berakhir disini; seperti berjalan ditempat. Usaha ku sia-sia.
Puluhan jam atau hari, bisa juga bulan dan tahun aku hanya menatap kekosongan tanpa jawaban sampai aku semakin lupa siapa diriku.
Lalu tiba-tiba pada satu waktu sebuah benda muncul, bentuknya kubus dengan antena diatasnya serta kaki-kaki kecil yang menjadi penyangga benda itu. Aku mendekati, layar cembungnya menyala; dalam diam manik ku menyaksikan sebuah kisah yang menarik perhatian.
"Davian?"
Berabad-abad waktu sudah ku lewati disana dan kata itu menjadi kata pertama yang berhasil ku sebutkan. Tangan ku terangkat, mata ku pekat menatap—setiap tayangan ulang dari kisah tak masuk akal namun manis milik pria itu.
Aku iri.
Sangat iri.
Aku—
"Ingin keluar dari sini."
Meringkuk dalam ruangan putih, berharap semua kehampaan ini mencuci bersih otak ku. Namun sayang rasa janggal seperti menancap di hati, lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul kembali.
"Siapa aku?"
"Bagaimana mana bisa aku berakhir disini?"
Aku takut.
Takut pada kesendirian ini—Davian?
Selamatkan aku.
...***...
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Ku ketuk kaca cembung didepanku, pantulan dari cahaya terbias di retina mata ku. Suara Davian memenuhi gendang telinga, tidak ada penuaan disini.
Hanya saja—
Aku bosan menyaksikan, aku ingin kesana. Ketempat Davian berada. Membekap, memeluk, dan menjadikannya milik ku. Haha... egois sekali.
Tapi itulah kenyataan.
Siapa aku?
"Reva!"
DEG!!!!!!
__ADS_1
Jantung ku berdebar kuat. Nama itu memberi sensasi aneh pada tubuh ku, aku mendongak—kembali menyaksikan tayangan ulang yang di perani oleh Davian. Sosok yang tak ku perhatikan 'pemeren lainnya' menjadi titik minat ku.
Seperti mendapat tontonan baru, aku kembali menyaksikan kisah itu berulang kali dalam diam hingga aku bosan.
Ku lihat penghujung dari cerita itu adalah kematian. Kisah selanjutnya hanya di-isi-i oleh kesedihan, cinta yang tak terbalaskan.
Sungguh kasihan.
Davian ku yang malang.
"Dia jatuh cinta pada ku."
BUGHHH!!
Air mata ku mengalir. Tangan kecil milik ku memukul keras layar cembung itu, aku ingin kesana. Aku ingin kesana!
Aku terus bergumam. Aku ingat siapa aku.
Aku—REVA?!
"DAVIAN!!!!" lengking ku, menyerukan namanya. Nama lelaki yang mencintai ku secara sepihak. Kemarahan, pengkhianat, dan cinta mu memang terlambat sampai pada ku tapi—
"DAVIAN SELAMATKAN AKU?!"
"AKU TIDAK MATI PADA SAAT ITU, AKU TIDAK BENAR-BENAR MENGHILANG DARI MU! JADI TOLONG DAVIAN!!! AKU TAKUT!!!!"
Aku takut.
"Hiks... hiks..."
Kaki ku lemas. Tubuh berbalut gaun tipis tanpa renda itu luruh, aku jatuh keatas lantai dengan tangan yang menutupi seluruh wajah.
Mencoba menahan isak tangis dan ribuan kristal bening.
Apa ini karma? Dimana letak kesalahannya?
Kenapa semua ini bisa berakhir seperti ini?
Aku tak tahu, aku tak mengerti.
Kenapa kau mencintai ku Davian?
"Wanita yang sudah cacat ini tak pantas untuk dicintai..."
Lagi-lagi aku hanya bisa menyaksikan 'seberapa menderitanya dirimu' saat mencintai ku. Kadang kala aku tertawa, kadang juga aku bersedih; menyaksikan ketulusan mu itu.
Aku berharap bisa keluar dari sini lalu menebus dosa ku dengan cara bersama mu.
Tapi itu terdengar mustahil.
Kecuali aku mengetahui sebab dari kematian ku.
Waktu terus berjalan, bahkan aku tak sanggup lagi untuk menghitungnya. Dan sekarang mata ku hanya tertuju pada mu DAVIAN.
Pantaskah ini disebut cinta?
Atau hanya kebosanan dalam hidup lalu mulai memilih satu tujuan karena sebuah ketakutan?
Dengan cara mencintaimu aku tidak akan kehilangan arti dari kehidupan ku.
Tentang siapa kamu dan siapa aku.
Davian.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tring~
Suara lonceng menggema kepenjuru ruangan. Reva mendongak, wanita yang selalu duduk tepat didepan televisi dengan layar menyala itu mulai menoleh, sosok Gabriel berdiri dibelakang sana.
Reva membuka celah bibirnya lalu berucap.
"Kau terlambat 50.000 tahun? Atau lebih? Haha.." dengan suara getir.
Gabriel diam seribu bahasa, sosok yang bukan pria ataupun wanita itu memadamkan lentera. Semua berubah gelap, termasuk penglihatan milik Reva.
"Tidurlah sayang ku~" bisiknya kemudian. Reva yang mendengar mendesis, selama ini dia tak pernah tertidur. Wanita itu hanya menyaksikan kehampaan menggerogoti otaknya—menghancurkan jiwanya.
Reva mengedarkan pandangan kesana kemari, melihat dalam kegelapan; mencari sosok bernama Gabriel tersebut namun nihil. Hanya ada hitam. Hitam. HITAM. HITAM YANG MEMUAKAN SETELAH PUTIH!
"Kenapa kau campur tangan atas kematian ku?!" teriak Reva. Nadanya putus asa, tanpa sadar air mata kembali jatuh. Air mata yang selalu mengalir selama 1.000 tahun dan akhirnya bisa berhenti tapi malah kembali mengalir.
Haha, ini lucu.
Lucu sekali |
Keheningan menjawab pertanyaan Reva. Sosok itu sudah menghilang dari sana meninggalkan Reva seorang diri untuk kembali dalam kehampaan.
"Kau... makhluk rendahan!" desisnya sebelum terlelap.
Hari itu menjadi hari dimana Reva mengerti kenapa Josan melakukan hal tersebut padanya, lalu hari itu juga menjadi hari kematiannya.
Diatas tangan Davian.
Saat tubuh Reva dibalut dengan kekuatan Davian, lelaki itu ingin menjaga Reva tapi serbuk terang seperti kilauan sayap peri muncul. Mengacaukan kekuatan Davian lalu membawa Reva pergi tepat kedepan lelaki itu. Tombaknya menembus jantung Reva, menghancurkan satu kehidupan milik wanita itu. Dibarengi tangisan Davian—Reva menyaksikan sebuah kejanggalan didalamnya.
Tubuh memang mati tapi dia masih berada disana, menontoni segalanya dalam kebisuan hingga menyadari bahwa Gabriel mengharapkan kematian untuk dirinya.
"Kenapa kau ingin aku mati?"
^^^"Karena ini rencana ku..."^^^
"Lalu pasangan takdir dan sejenisnya itu, apa hanya sandiwara mu?"
^^^"Karena aku ingin bersama mu..."^^^
"Ini tak masuk akal!"
^^^"Aku gagal berkali-kali."^^^
"Jangan libatkan aku?!"
^^^"TAPI KAU ANAK KU."^^^
^^^"Semenjak sang 'Kehendak' memisahkan kita, aku kesepian... aku ingin anak ku kembali tapi tak bisa."^^^
^^^"Ribuan tahun aku mencoba, berkhianat, mengacaukan dunia... tapi apa?! Aku selalu melihat mu terlahir di alam yang berbeda dengan ku?!"^^^
^^^"AKU TERSIKSA?!"^^^
"Apa aku ini?"
^^^"Kau anak ku sayang, anak ku..."^^^
...***...
...Tbc...
...Cerita hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1