Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Adam (Final Chapter Part 2)


__ADS_3

Aku hanya ingin tertidur, tapi kenapa banyak hal mengganggu pikiran ku.


..._____________________...


...A d a m - F i n a l...


..._____________________...


...____________...


..._____...


..._...


Tangan dengan permukaan kasar itu selalu ku genggam, ku bawa sosoknya menjauh dari cibiran orang dewasa yang hendak bercerita tentang orang tuanya.


Adam.


Bocah lelaki seumuran dengan ku adalah sosok yang sangat pendiam, secara harfiah dia adalah sepupu ku. Aku senang bersama dengannya, bahkan saat menyadari sorot penuh cinta miliknya yang selalu ia tujukan pada ku.


Haha.


Banyak hal yang kami lalui, suka duka dan segala macam momen menarik tapi aku tak mengira kami akan sampai pada satu titik dimana aku menyesalinya.


Pertemuan kami, itu kesalahan.


"Jangan terlibat terlalu jauh dengan keturunan garis utama, ibu tahu kau dekat dengan Adam. Tapi kita tidak bisa bersanding bersama mereka."


"Baik bu,"


Kenapa kau membantai habis seluruh keluarga ku Adam?


Deg!


Aku membeku, benar-benar tak bisa berpikir bahkan setelah kejadian tersebut. Aku jadi sangat membenci mu.


Ku pikir kau akan menjadi kupu-kupu indah namun nyatanya tidak dan semua itu adalah salah ku.


Maafkan aku Adam.


Aku tahu! Aku tak seharusnya membenci mu, aku yang telah mengutuk mu dengan hal-hal bodoh yang orang-orang sebut sebagai cinta!


Dendam ku menguap, begitu saja.


"Bukannya aku tidak ingin bersama mu, hanya saja aku merasa tak pantas untuk mu. Adam,"


...***...


Kabar meninggalnya putra kedua garis keturunan utama menggemparkan seluruh kediaman. Eni menampilkan wajah kosong bahkan saat orang-orang dari keluarga cabang melontarkan banyak pertanyaan soal kebenaran. Hanya kepada kepala keluarga utama Eni berani berucap.


Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana bisa berakhir seperti ini.


Sang kakek menggeleng, fisiknya semakin lemah. Bisa-bisanya lelaki tua itu kehilangan cucu sebelum ajal menjemput dirinya.


Pemakaman dilangsungkan beberapa hari setelah itu. Eni hanya bisa menyaksikan dari kejauhan proses persiapan dari pemakaian Adam, lelaki yang katanya sangat mencintai Eni hingga rela menyerahkan satu-satunya kehidupan miliknya untuk wanita itu.


Betapa bodohnya dia.


"Kau benar-benar egosi," kekeh Eni. Maniknya benar-benar hampa, jiwa yang kehilangan jiwa-nya. Eni harus apa?

__ADS_1


Setelah objek kebenciannya menghilang. Dia harus apa?


Tepat di hari yang mendung, jajaran bunga masuk kedalam aula pemakaman. Benda-benda itu nantinya akan diserahkan pada jasad Adam sebagai tanda penghormatan terakhir terhadap sosok tersebut.


Sarah menilik masuk, dia melihat sosok kacau dari Eni. Wanita yang sekarang ini berstatus sebagai nyonya kediaman utama itu mendekati Eni.


"Ku dengar kau tidak ingin menyentuh makan mu Eni?" Ucapnya, pada wanita yang sudah cukup lama mendekam dalam ruangan sempit disudut kediaman utama. Eni menggeleng, ia terkekeh sebelum berucap.


"Makhluk tanpa jasad seperti ku tidak memerlukan semua itu."


Banyak dari keluarga cabang menghadari pemakaman tersebut, termasuk sosok yang sudah lama sekali tak pernah memunculkan batang hidunganya kepermukaan. Eni dengar Davian datang—menghadiri pemakaian dengan seseorang.


Bocah nakal itu masih menghormati kakaknya.


Tak sempat Eni ingin menyapa sosok yang merupakan si bungsu dari garis keturunan utama itu. Gilirannya akhirnya datang, bunga berwarna putih berada tepat digenggam wanita tersebut.


Tap~


Dia maju beberapa langkah, mungkin untuk segelintir orang raut muka Eni tampak tersiksa. Maniknya benar-benar kosong tanpa rona kehidupan. Hal itu mengalihkan fokus dari Davian sejenak mengingatkannya dengan kejadian 3 tahun lalu yang menimpa lelaki itu.


Davian tak tahu detailnya seperti apa, kehidupan rumit jenis apa yang Adam maupun Eni telah jalani. Ia tak tahu tapi Davian rasa dia turut berbela sungkawa.


Tangan Eni terangkat, maniknya terasa perih. Melihat sosok Adam untuk terakhir kalinya, wanita itu menyerahkan bunga tepat diatas dada lelaki itu.


Harus 'kah aku membalas cinta mu?


Adam?


Tes...


Titikkan kecil luruh, air mata mengalir dari sudut kelopak mata milik Eni.


Wanita itu terpejam.


"Ku beri kau kesempatan..." bisik Eni pelan.


KRAK!


Tubuhnya menjadi retak, semua orang terkejut. Apa yang mereka saksikan? Raut muka mereka menjelaskan.


Jiwa Eni hancur, ini adalah pilihan wanita itu sama seperti sebelumnya. Sekarang tidak ada lagi sosok yang akan menghalangi kebebasannya. Kepingan-kepingan jiwa mulai beterbangan, memenuhi ruangan lalu menguap perlahan di udara. Disaksikan seluruh pasang mata dalam keheningan; tak ada yang berani mencegah—jika itu adalah sebuah keputusan maka mereka tak berhak untuk mencampurinya.


Ku beri kau 1 kesempatan, cintai aku sekali lagi di kehidupan selanjutnya jika memang benar-benar ada. Maka aku akan membalas cinta itu, bahkan rela menukar segalanya seperti mu termasuk jiwa ku untuk mu. Adam.


"Hanya ini satu-satunya yang bisa ku lakukan..."


Dosa itu, kini aku yang akan menanggungnya.


"Aku mencin—"


Mencintai mu~


Terima kasih.


...***...


"Eni?" Adam memanggil, Eni menoleh. Sosok gadis kecil itu menatap penasaran, saat ini dia sedang tidak bisa tidur—lihat saja kelopak mata dibawahnya menghitam.


"Apa yang kau lakukan disitu Adam?" Seharusnya itu pertanyaan Adam pada gadis bernama Eni tersebut, kenapa sosok itu bisa berdiam diri di teras rumah pada waktu dini hari? Menyeramkan.

__ADS_1


Melihat raut muka aneh Adam membuat Eni terkekeh. Gadis itu menepuk pelan tempat duduk kosong disampinganya, meminta Adam untuk ikut duduk disamping gadis itu.


Dengan tampang polos Adam bergerak kesana lalu ikut duduk bersebelahan dengan Eni.


"Aku tidak bisa tidur." Ucap Eni tiba-tiba. Kelihatannya begitu, batin Adam.


Sosok Adam yang terbangun di separuh malam untuk pergi ke kamar kecil itu bahkan berhasil dibuat merinding.


Omong-omong?


"Kenapa kau tak bisa tidur Eni?" Tanya Adam, basa-basi. Gadis itu sejenak tersenyum lalu menjawab.


"Aku takut—"


"Takut dengan kegelapan?"


Adam mengerutkan kening, bingung atas ucapan gadis seumuran dengannya itu. Apa maksud ucapan Eni?


Lalu dia tidak takut dengan kegelapan malam diluar rumah? Begitu?


Seakan tahu apa yang dipikirkan Adam, Eni mendongak—menunjuk langit dengan jari telunjuknya.


"Diluar terang." Serunya pada bintang.


Adam terdiam, apa jangan-jangan Eni melantur. Dia sama sekali tak mengerti percakapan tidak nyambung antara dirinya dengan Eni. Tch! Dari pada berlama-lama tak jelas disini dan membeku lebih baik tidur.


Adam berdiri, beranjak dari posisinya mengabaikan sosok Eni.


"Jika kau takut, tidur saja dengan ku..." ucap Adam, menyodorkan genggaman tangan kearah gadis cilik disampinganya. Eni mengedipkan mata beberapa lalu tersenyum, dengan senang hati ia menyambut uluran tangan milik Adam.


Lelaki itu membawanya berdiri, beranjak pergi dari teras menuju kamar paling ujung ruangan.


"Selamat tidur," bisik Eni. Adam membuka kembali matanya, mereka sudah berada diatas ranjang yang sama berbalut dengan selimut. Lelaki pendiam itu menatap datar sejenak sebelum menyahuti ucapan dari Eni.


"Hm, selamat tidur. Mimpi indah."


Manik Eni berbinar, ia mengangguk.


"Kau juga!"


Mereka pun terlelap, bersama—hanyut dalam indahnya bunga mimpi kegelapan. Tanpa tahu masa depan.


...***...


...Side Story (End)...


...Tbc...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2