Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim 5


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...Z i m...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


"Maafkan aku, hiks... hiks..." ucapnya setengah mencicit, Zim menunduk malu. Sekarang tubuh dari macan kumbang itu tidak lagi terasa panas, malahan terlihat lebih segar.


Ets! Jangan menduga yang tidak-tidak, karena itu tidak seperti apa yang kalian bayangkan. Sungguh. Asal kalian tahu jenis situasi apa yang tengah menimpa kucing besar tersebut? Saat ini, tanpa mengenakan baju atasan dia bersimpuh diatas lantai dengan sosok Vioner yang baru saja membereskan peralatan medis miliknya.


Mari mundur beberapa detik sebelum kejadian memalukan itu di mulai.


Zim tidak terlihat dimanapun Vioner pikir sosok kucing besar tersebut sudah angkat kaki dari ibu kota bagian timur. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Zim menyela pertengkaran antara Vioner dengan sang suami. Entah motifnya apa tapi Vioner merasa sangat berterima kasih, berkat Zim setidaknya tidak ada lebam baru yang muncul ditubuh laba-laba betina itu. Memang dia bisa mengobati lukanya sendiri, hanya saja—ada bagian lain yang tidak bisa ia obati. Contohnya perasaan.


Dengan izin dari Sebastian, Vioner cuti istirahat selama 3 hari. Niatnya ingin bertemu Zim untuk mengucapkan kata terima kasih tapi sosok Zim nihil; tidak ada dimanapun sampai akhirnya dia mendengar pembicaraan beberapa orang dari pengurus penginapan yang biasanya ditempati oleh para petualang.


"Salah satu menghuni kamar tidak keluar selama 3 hari, apa yang terjadi padanya yah?"


Bukan hal khusus jika ada petualang yang memilih beristirahat total didalam penginapan, tapi dari penuturan petugas itu—dia bahkan tidak turun untuk makan pagi, siang ataupun malam selama waktu tersebut. Tidak heran mereka curiga, bisa saja sosok penghuni didalam kamar itu sedang membusuk; meninggal ditempat. Ini akan mempengaruhi reputasi penginapan. Tapi ada satu hal yang menarik dari percakapan mereka.


Vioner melangkah mendekat.


"Permisi?" Ucapnya, beberapa orang yang dipanggil menoleh—menatap penasaran kearah laba-laba itu.


"Ada yang bisa dibantu nona?" Sahut salah seorang diantara mereka. Vioner mengangguk.


"Bisa tolong jelaskan ciri fisik penghuni kamar yang kalian ceritakan barusan? Mungkin saja dia teman ku..." tutur makhluk itu dan benar saja, apa yang mereka ucapan menjurus kepada sosok Zim yang sangat identik.


Berpikir pasti ada masalah tertentu yang menimpa Zim, Vioner langsung mendatangi pengelola penginapan untuk mengijinkan dirinya masuk. Awalnya terjadi perdebatan soal privasi pelanggan tapi Vioner berhasil mendesak pengelola penginapan dengan ancaman miliknya. Dan sekarang sosok laba-laba betina itu sudah berada tepat didepan pintu kamar Zim, tentu dengan kunci cadangan dan beberapa alat medis. Mungkin saja ada hal tak terduga dibalik daun pintu tersebut.

__ADS_1


Tanpa ragu, Vioner membukanya.


Krett~


"Permisi?"


Suara engsel pintu terdengar, begitu gelap. Komentarnya menantap sekitar. Kamar sempit itu benar-benar rapat, tidak ada sedikitpun cahaya yang merambat masuk untuk menyinari ruangan tersebut. Bahkan sosok Zim yang merupakan macan kumbang dengan ciri warna gelap seperti terkamuflase.


"Tuan Zim?"


Vioner melangkah masuk, perasaan merinding muncul. Ada yang mengintai dirinya sampai tiba-tiba sosok besar dengan wujud hewan mencoba untuk menerjang Vioner. Ya meski itu berhasil ditangkis, wujud laba-laba Vioner lebih besar dan mengerikan ketimbang Zim. Dan berakhirlah mereka disituasi tersebut.


Zim yang terlempar lalu menghantam dinding dan nyaris pingsan. Vioner meringis—pasti sakit, ucap dewi batinnya lalu melangkah gamblang menuju sudut kamar untuk membuka tirai jendela. Setidaknya ada cahaya yang masuk, ucapnya bangga.


Melihat wujud mengenaskan Zim membuat Vioner prihatin. Feromon unik khas bangsa Mächam tercium di indra laba-laba itu, sepertinya dia bisa menebak apa yang terjadi pada kucing besar bernama Zim tersebut. Cepat-cepat Vioner menutup pintu supaya aroma menggoda Zim tidak keluar dari ruangan. Feromon seseorang dapat memicu perasaan panas dan terangsang, terlebih pada makhluk yang memiliki sensitivitas tinggi di indra penciuman mereka.


Tidak ingin turun derajat Zim yang dikendalikan insting mencoba bangkit dan menyerang Vioner meski akhirnya tetap sama. Zim kalah telak dan berujung dipukuli laba-laba itu karena berhasil membuatnya kesal.


Kembali ke-masa sekarang, Vioner membereskan peralatan medis miliknya dengan wajah dongkol. Beruntung dia membawa beberapa suntikan penenang; jenis obat yang dibuat untuk menenangkan bangsa kucing (jenis apapun) yang tengah memasuki siklus puncak birahinya. Setelah mendengar ucapan maaf dari Zim Vioner rasanya ingin tertawa, bisa-bisanya macan kumbang tersebut bertingkah imut. Tanpa sadar rona merah memenuhi pipi laba-laba betina itu.


Zim tertegun, apa dia berhasil membuat Vioner tersipu?


Ah~


"Kau cantik nona, jika sedang tersenyum..." ucap Zim spontan. Vioner tersentak, dia mulai gugup—salah tingkah karena Zim mengucapkan kalimat itu secara tiba-tiba. Ini membuat sosok Vioner malu.


Sudah lama tidak mendengar seseorang memujinya. Bahkan sang suami lebih sering memaki dari pada bertindak manis, miris. Laba-laba itu menggigit bibir bagian bawah sambil berucap.


"Terima kasih," atas pujian kucing besar tersebut.


Zim memajukan wajahnya, sangat dekat dengan wajah Vioner. Terlihat hela napas mereka bergantian, manik hijau Zim menjelajah setiap inci kecantikan dari rupa milik Vioner.


Lama terjebak dalam keheningan, bahkan Vioner tidak keberatan diperhatikan dengan jarak yang begitu dekat oleh Zim. Ya setidaknya situasi itu bertahan hingga akhirnya Zim buka suara.


"Aku benar-benar ingin menikahi mu..." Kali ini bukanlah gumaman tidak berarti seperti sebelumnya, terdengar kesungguhan didalam kalimat tersebut. Juga sedikit memelas. Bahkan tatapan Zim tak memberikan celah untuk Vioner berpaling. Napas sosoknya menjadi berat.


Vioner merasa takut sekaligus nyaman dalam satu waktu.


"Kau bercanda bukan Tuan Zim?"


Dia mencoba menyangkal, Zim menggeleng. Apa yang ia ucapkan benar adanya.


"B-bagaimana bisa? Maksud ku, tidak—argh?"

__ADS_1


Melihat tingkah Vioner yang mulai panik dan bingung harus bertindak apa, Zim kembali buka suara.


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mu..."


Deg!


Degup jantung laba-laba betina itu terdengar nyaring, bahkan wajah miliknya memerah besar hingga kebagian telinga. Seperti orang linglung saja, Zim terkekeh senang.


Tangan macan kumbang itu terangkat tanpa permisi, menuju kearah garis rahang milik Vioner. Kukunya menyusuri pipi hingga kebibir, benar-benar dengan gerakan sensual yang mengundang.


Glek!


Zim menelan saliva kasar, sial! Dia kembali bernafsu saat melihat sosok dungu tepat didepan matanya ini.


Aku ingin menerjang tubuhnya.


Sial! Sial! Sial! Sial!


Segalanya berputar, kembali terasa panas. Pengaruh obat penenang seakan lenyap diudara, ditambah Vioner tidak melakukan penolakan atas sikap kucing besar itu.


Zim mempertipis jarak, bibirnya terbuka—siap melahap benda kenyal milik Vioner tersebut; bibir. Namun tertahan saat tiba-tiba laba-laba betina itu buka suara—


"Tapi aku bersuami Tuan Zim..."


Argh!


PERSETAN!


Siapa yang peduli?


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2