
Seandainya~
Seandainya aku lebih dulu bertemu dengan mu, akankah akhir kisah milik ku berbeda?
Ataukah—tak ada bedanya?
...***...
Beberapa dayang istana sudah mendengar kabar perihal Vioner, hal ini juga sampai ketelinga Sebastian. Dia menyayangkan kejadian yang menimpa laba-laba tersebut, Sebastian bahkan ingat sekali motivasi pertama yang Vioner miliki saat pertama kali memulai bekerja di istana.
Aku ingin membuat suami ku bahagia.
Hanya itu, cukup sederhana tapi siapa kira akan berakhir begini. Karena rasa iba Sebastian memberi izin lebih untuk waktu istirahat Vioner di kediaman miliknya. Biarkan dulu laba-laba itu membenah isi hati dan juga pikirannya.
Rumah besar dengan segelintir pelayan melayani Vioner, beberapa yang terkena imbas serangan brutal nyonya pemilik rumah masih dirawat. Vioner menatap hampa makanan yang tersaji di meja panjang, pikirannya melayang entah kemana.
Seandainya~
"Seandainya saja..." bisik Vioner pelan, serupa dengan bisikkan sebelum kembali menitikkan air mata. Hanyut dalam pemikiran sedihnya.
Sang suami—tidak! Maksudnya bajingan itu pergi entah kemana, terserah! Bukan urusan Vioner juga. Jika dia menginginkan perceraian dan kabur dengan selingkuhannya Vioner akan turuti itu semua tapi jangan harap; kau bisa kembali mengemis uang pada ku.
Merasakan tekanan mengerikan, beberapa pelayan yang berjejer dekat tempat Vioner berada mundur secara teratur. Mereka ketakutan, hal ini membuat Vioner menghela napas panjang.
"Hah~" Dia berdiri dari duduknya sambil berkata.
"Aku sudah selesai..." Para pelayan mengangguk lalu melangkah mendekat untuk membersihkan meja makan bekas Vioner. Mengabaikan pekerjaan para pelayan, laba-laba itu angkat kaki dari sana. Sudah cukup lama dia tidak mendiami mansion, Vioner nyaris lupa semua tata letak ruangan disana.
Jalan-jalan mungkin akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
Rumah kaca berisi tumbuhan herbal langka, taman besar penuh hamparan bunga lalu kediaman super mewah. Vioner tidak mengira, kekayaan miliknya sudah sebanyak ini. Dia ingat sekali, dulu Vioner tidak memiliki sepeser-pun harta selain cinta miliknya tapi sekarang lihatlah dia—dia sudah memiliki semuanya kecuali cinta. Miris.
Apa itu patut untuk ditangisi?
Tidak.
Vioner kira ketenangan yang ia dapatkan akan berlangsung lebih lama, sampai tiba-tiba salah seorang pelayan laki-laki mendatangi dirinya dengan langkah tergesah.
TAP! TAP! TAP!
Laba-laba yang duduk di kursi gazebo taman melirik dari balik ekor matanya. Gerangan apa yang terjadi? Tanya dewi batinnya.
Terlihat pelayan itu tengah mengatur napas, dia pasti berlari dengan cepat hingga bisa sampai ke taman ini dalam waktu yang singkat.
"Ada apa?" Tanya Vioner membuka percakapan lebih dulu. Sang pelayan menunduk malu karena menunjukan tampilan tubuh yang berantakan, tapi terlepas dari semua itu dia ingin menyampaikan sebuah berita yang baru saja masuk kedalam kediaman.
"Tu-tuan besar ditemukan terbunuh nyonya!" Begitu katanya. Vioner membeku seketika, apa yang baru saja ia dengar?
Tanpa pikir panjang laba-laba itu bangkit, dia berucap panik kearah sang pelayan.
__ADS_1
"Jelaskan lebih detail pada ku!"
.
.
.
.
.
Vioner memang terkejut, informasi yang di sampaikan pelayan sudah di konfirmasi oleh pihak keamanan kota.
Katanya dalam beberapa hari terakhir memang ada kejadian aneh, seperti terbunuhnya orang-orang secara acak. Tidak ada yang tahu motif ataupun pelaku sebenarnya yang melakukan hal keji tersebut. Mungkin secara kebetulan dimalam ketika Vioner mendapati sang suami selingkuh adalah waktu beroperasi pembunuh gila tersebut. Sang suami yang jelas tidak memiliki sepeserpun harta pasti menginap diluar lalu jadi target incaran makhluk itu.
Sore ini mayat dari sang suami akan diantarkan ke-kediaman Vioner.
Jujur, laba-laba yang terbiasa melihat luka saja di buat mual saat pertama kali menjumpai mayat sang suami. Ini mengerikan, juga sangat brutal.
Tubuhnya di cincang habis hingga menyisakan bagian kepala. Benar-benar halus, bahkan jika disatukan dengan sihir—itu mustahil. Potongan dileher cukup rapi seperti sayatan pedang tapi tubuhnya seperti di palu habis-habisan. Pelaku harus memastikan korban miliknya benar-benar kehilangan napas sebelum meninggalkannya disudut kota.
Sungguh kejam.
Selain rasa iba Vioner tidak menyayangkan kematian sang suami, seakan-akan dia memang pantas mendapatkan semua itu.
Haha, ironis sekali.
"Kau mungkin tidak akan berakhir seperti ini," gumam Vioner datar. Dia menutup kembali tubuh sang suami dengan kain. Beberapa pelayan yang masih bertahan menatap mual, Vioner terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengutarakan keputusannya.
"Siapkan pemakaman dalam waktu 3 hari," titahnya mutlak. Sang pelayan mengangguk paham.
"Yes Madam..."
...***...
Vioner kembali bekerja seperti biasanya, waktu pemakaman sudah lewat 2 bulan yang lalu. Sosok anggun dan penuh kehati-hatian dari Vioner telah lenyap digantikan sosok dingin juga tegas.
"Nona Vioner?" Panggil salah seorang dayang istana. Yang empunya nama menoleh penasaran, jarang sekali dayang istana mengajaknya untuk berinteraksi diluar jam pekerjaan.
"Ya?" Dayang istana itu meminta Vioner agar bergerak mendekat, dengan polosnya Vioner mendekati dayang tersebut.
"Ada apa Nona Łiàna?" Tanyanya penasaran.
"Ada seseorang yang mencari mu diluar istana Nona Vioner..." bisik Łiàna. Gurat bingung tampil, siapa? Batin laba-laba betina tersebut. Seingatnya dia tidak memiliki kenalan yang berarti; yang dengan berani menemuinya didepan pintu istana. Kecuali?
Tunggu?
Benarkah?
__ADS_1
Vioner mengangguk paham, sorot senang muncul entah dari mana. Dia mengucapkan terima kasih pada Łiàna lalu angkat kaki dari sana. Beberapa kesatrian menaruh minat kepada sosok Vioner yang terlihat kembali ceria. Dia melangkah cepat menuju gerbang istana, sosok yang tampak familiar menyambut penglihatan mata.
Tanpa sadar Vioner menyerukan sebuah nama—
"Tuan Zim?!"
Macan kumbang itu berbalik, dia disambut dengan wajah cerah milik Vioner. Sebenarnya hal apa yang berhasil mengembalikan senyuman indah tersebut dipipi Vioner? Rindu? Ataukah ada sesuatu yang lain? Pokoknya entah kenapa dia merasa sangat senang ketika menjumpai Zim, sosok yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Lama tidak bertemu nona?" Sahut Zim tak kalah cerah.
Vioner gugup tanpa sebab, dia jadi teringat momen-momen saat Zim menyatakan perasaan miliknya dan ingin melamar Vioner.
Apakah itu masih berlaku?
Ha-ha, pemikiran bodoh apa itu? Laki-laki mana yang mau menerima sosok yang sudah menolaknya berkali-kali. Ini memalukan ketika Vioner membayangkannya.
"Kau sakit nona? Pipi mu memerah?" Tanya Zim membuyarkan lamunan, Vioner menggeleng tidak tapi wajahnya justru semakin merah.
Sial! Sial! Sial!
Kau bahkan tidak muda lagi?! Tapi kenapa jantung mu bisa berdetak seperti anak-anak yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta!
Respon alami yang ditunjukan Vioner berhasil menarik senyum seringai dari arah mulut Zim. Manik hijaunya berkilat.
"Akhirnya," gumamnya pelan serupa bisikan.
...____________________...
...Z i m...
...____________________...
..._________...
...____...
..._...
...T B C...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...