Crazy Baby

Crazy Baby
Hotel


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...______________________...


...H o t e l...


...______________________...


...___________...


...____...


..._...


Berisik, batin Davian risih. Sesekali lelaki berkacamata itu menilik sekitar; banyak pasang mata menatap penasaran kearah mereka atau tepatnya kearah Gedion yang menangis kencang. Seharusnya Davian memesan private room saja, bukan ruang makan terbuka seperti ini. Membuat malu ya meski Davian sekarang sudah tebal muka gara-gara Eva yang selalu bertingkah didepan khalayak ramai. Tapi tetep saja agak menyebalkan jika diri mu selalu jadi pusat perhatian bukan?


Baik mari kita rangkum informasi yang Davian dapat dari celotehan kakaknya. Pertama lelaki itu bilang kalau istrinya kabur, itu berarti Diana—kakak ipar dari Davian angkat kaki dari rumah Gedion. Alasannya? Tanpa menunggu kakaknya bicara Davian sudah bisa menebak, pasti wanita itu tidak betah dengan sifat Gedion. Haha, bercanda. Seperti yang diceritakan sebelumnya kalau Davian tidak terlalu dekat dengan kakak-kakaknya jadi Davian tidak terlalu peduli tentang mereka tapi setahu lelaki berkacamata itu Gedion tak pernah menganggap dirinya sudah menikah; alias meski dia sudah berkeluarga dia tidak pernah menganggap istrinya ada.


Lalu yang Davian dengar dari mulut Gedion selanjutnya adalah perceraian. Mungkin saja ada satu alasan kenapa kakak iparnya ingin bercerai dengan Gedion selain kelakuan dia tentunya.


"Kenapa tidak kau ceraikan saja kakak ipar Gedion? Dia sudah cukup menderita karena berpasangan dengan suami yang tidak pernah menganggapnya ada. Tak heran kalau dia memilih kabur..." Ini hanya opini Davian semata tapi sepertinya tepat sasaran, dilihat dari reaksi Gedion yang terdiam. Hm~ menarik. Ternyata kehidupan pernikahan yang sesungguhnya cukup rumit jika tidak didasari oleh cinta.


Davian tahu kalau Gedion itu tipe pria yang tidak suka terikat apa lagi dalam sebuah pernikahan, dia berjiwa bebas; dan semaunya tapi siapa kira Gedion lah sosok yang paling pertama menikah dengan pasangan takdirnya dalam garis keturunan keluarga mereka. Bagaimana bisa? Khasusnya cukup sederhana karena wanita buta—Diana, kakak ipar Davian itu menemukan Gedion labih cepat lalu mereka menikah ya meski Gedion tidak pernah menganggap wanita itu ada dan membiarkannya membusuk di pojok rumah dengan 1-2 pelayan yang merawat dia.


Kasihan sekali, Davian hanya pernah berpapasan sekali dengan kakak iparnya itu.


"Tidak!" sanggah Gedion tidak terima sambil mengentakan tangan ke meja, piring bekas makan malam mereka bergetar sebentar. Davian tidak mengerti, apa maunya Gedion? Tidak mungkin dia tiba-tiba berubah menjadi suami bertanggung jawab lalu ingin menebus dosanya pada Diana?


Lucu.


"Kenapa tidak?" tanya Davian sambil menopang sebelah danggunya, kepala lelaki itu mulai sakit. Kelopak matanya berat. Dia kelelahan, lelaki ini perlu tidur tapi Gedion seperti tidak mengizinkan Davian untuk pulang karena dia perlu teman curhat setelah menghilang selama berbulan-bulan.


"Aku tidak ingin bercerai dengan Diana..."


"Karena apa? Kau jatuh cinta padanya?" Itu percakapan terakhir yang Davian ingat sebelum kegelapan menyambut penglihatannya.

__ADS_1


Bugh!


Tubuh lelaki itu membentur kecil permukaan meja, dari sela bibirnya terdengar dengkuran halus yang teratur. Ups! Ternyata Davian tertidur, meninggalkan sosok Gedion yang tengah menatapnya lucu.


...***...


Dentingan jam mengusik telinga Davian, pukul berapa ini? batinnya penasaran sambil berusaha membuka kelopak mata. Remang, meski samar-samar Davian bisa melihat di kegelapan ruangan, interior sekitar nampak asing.


Aneh, ini bukan kamar dia. Lalu embusan napas disamping Davian juga terasa bau tidak seperti milik–Eva? Lelaki itu melotot, sambil bangkit dari tidurnya dia meraba nakas untuk menghidupkan lampu tidur dan alangkah terkejutnya Davian saat sosok dari kakak tertua dia menyambut penglihatan mata. ISH! INI MENJIJIKKAN! teriak Davian dalam hati sambil menggulingkan tubuh Gedion kelantai dengan kakinya.


Bugh!?!


Suara renyah terdengar, dibarengi ringisan sakit dari Gedion.


"Bagaimana bisa aku berakhir disini!" ucap Davian lantang sambil membayangkan yang tidak-tidak, akan lebih baik jika itu dengan Eva bukan dengan pria tengil yang tidak lain adalah kakaknya.


Gedion menguap, masih setengah sadar dia menjawab pertanyaan adik bungsunya.


"Karena kau tertidur dan aku tidak tahu alamat mu Davi, makanya kita ke hotel..."


Heh!


Sudut bibir Davian berkedut, wajah jengkelnya benar-benar hadir. Dia menatap tak percaya kearah kakaknya yang seakan tak peduli; lelaki itu memilih untuk bangkit dari lantai menuju ranjang agar bisa melanjutkan tidur.


"Mau kemana?" tanya Gedion menyadarkan diri saat melihat si bungsu menghidupkan semua penerangan kamar hotel lalu memakai kemeja-nya. Ini masih pukul 4 dini hari lho.


"PULANG!" sahut Davian tanpa basa basi lalu mengambil tas kerjanya dan melenggang pergi, mengabaikan Gedion yang masih memanggil dirinya sambil bilang kalau lelaki itu perlu teman curhat labih lama.


PERSETAN URUS SAJA URUSAN MU! ATAU APAPUN ITU!


Balas Davian dalam hati, melangkah sendiri dilorong panjang yang sunyi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Davian bernapas lega saat melihat lingkungan tempat apartemen dia berada terlihat jelas di balik kaca jendela menumpang. Bersyukur kalau ada taksi yang lewat saat dini hari tadi jadi Davian tidak perlu berpikir banyak selain pulang kerumahnya. Pasti Eva menunggu lelaki itu dengan perasaan khawatir, ini benar-benar perbuatan teledor; bisa-bisanya Davian tertidur karena kelelahan.


Ban mobil hitam dari taksi yang Davian tumpangi berhenti, lelaki itu bergegas turun setelah membayar sejumlah uang pada supir. Tanpa menoleh kebelakang lelaki dengan wajah berbingkai kacamata itu berlari kecil melewati lorong menuju lantai tempat dia tinggal.


Tap...


Tap...


Tap...


Langkah kakinya menggema disepinya keadaan, lelaki itu lalu tersenyum cerah saat melihat daun pintu dari apartemen mereka. Terakhir yang Davian ingat Eva pernah tidur diruang tamu gara-gara Davian lupa bilang kalau lelaki itu melakukan perjalanan bisnis keluar selama 2 hari 1 malam. Tangan Davian terangkat, menggapai kenop pintu. Di bukanya cepat tapi apa yang menyambut mata lelaki itu malah hanya kekosongan semata.


Degh!


Davian membeku, tanpa sadar dia melempar tas kerja yang ia pegang lalu berlari menuju kamar.


Brak!


Kosong. Tidak ada siapapun disana.


"Dimana Eva?" gumamnya tak percaya.


Dimana kau? |


Lelaki itu lalu membisikan kata; mencoba mencari lokasi tapi wujud dari wanita bernama Eva itu tidak bisa temukan dimanapun. Bagian kecil dari sudut hati Davian terdengar retak.


Tangannya mengepal.


"Kemana lagi wanita nakal itu pergi?" desisnya nyalang dengan bola mata hazel yang menyala.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2