Crazy Baby

Crazy Baby
Istana


__ADS_3

"Perlu beberapa kali uji coba, untunglah kali ini berhasil."


Hah? Apa maksudnya?


"Perlahan... buka mata mu..."


Silau.


"Nama mu sekarang adalah Eva~"


Degh!


"Eva kemari 'lah~ lihat dia Davian,"


Siapa?


"Saat aku berhasil mengirim mu pergi dari penjara ini, temui dia."


Haruskah?


Kita cukup damai hidup berdua disini. Untuk apa aku menemui pria asing tersebut?


"Kau harus bisa membangkitkan ku, agar aku terbebas dari sini Eva. Ingat itu..."


Tapi mamah pasti tidak akan suka.


"EVA APA YANG KAU LAKUKAN! KENAPA KAU BERPIHAK PADA MAKHLUK ITU?! AKU YANG MEMBERI MU KEHIDUPAN, JIWA ITU MILIK KU."


Mamah! Kenapa Reva memaki ku?


"Pergi kau Gabriel!"


Tidak, Reva apa yang kau lakukan? Kau menyakiti hati mamah.


"EVA! INGAT DIA ADALAH MUSUH KITA."


Tidak.


"Tch! Sepertinya gagal lagi."


Maaf. Maafkan aku Reva.


"Aku perlu membuat yang baru lagi."


Tidak! Tidak?! Hentikan, maafkan aku Reva. Ku mohon—


"Jangan memusnahkan aku lagi."


Hiks... hiks...


Takut. Ini membuat ku takut. Reva selalu meminta ku untuk bersembunyi saat mamah datang. Kenapa hanya dirinya yang boleh bertemu dengan mamah?


"Dia musuh mu Eva,"


Kenapa Reva? Kenapa kau selalu bilang begitu? Dia tidak jahat. Aku selalu memperhatikan dari kejauhan, mamah hanya—kesepian.


"Aku tak akan pernah memaafkan-Nya."


Kau membuatnya menangis lagi. Kenapa aku tidak diperbolehkan muncul Reva? Kenapa hanya kalian berdua saja yang bisa menikmati waktu bersama? Aku ingin juga, melihat mu bersandar diatas pangkuan mamah dengan tatapan putus asa usai perdebatan panjang.


Aku ingin.


"Jika kau terus bertanya, aku akan benar-benar menghancurkan mu Eva."


Kau membuat ku takut Reva. Jangan marahi aku, ku mohon.


"Berhenti menangis, kau bilang sakit?"


IYA. REVA ITU MENYAKITKAN.


Berhenti menghancurkan ku lalu kembali membentuk ku. Proses itu menyakitkan Reva, aku selalu mengingat setiap rasa sakit ketika tulang betulang milik ku terbentuk. Serat-serat daging seolah membakar ku, kulit-kulit tubuh yang membungkus ku terasa gelap. Rasanya dingin, itu mengerikan. Sungguh! Aku tidak berbohong?! Percayalah Reva!


"Sepertinya aku tidak bisa membuat yang baru lagi, Gabriel bisa curiga jika jumlah kepingan jiwa ku berkurang."


Benarkah? Akhirnya aku tidak akan merasakan neraka itu lagi.


"Sial. Hanya mendapatkan produk gagal."


Jangan menatap ku begitu. Reva.


"Apa ku lakukan saja? Pencucian otak? Itu lebih baik dari pada memiliki sampah tidak berguna."


Apa?

__ADS_1


TIDAAAAK!!!! HENTIKAN! HENTIKAN! REVAAA?! HENTIKAN! HIKS... HIKS...


"Ingat, saat aku berhasil mengirim mu pergi dari sini. Temui laki-laki bernama Davian, kau akan mengingat segalanya nanti. Dia adalah pemicu."


Ya, Reva.


"Siapa Davian?"


Reva tersenyum, jarang sekali kau melihat ku begitu. Tangannya terangkat membelai lembut pipi milik ku, aku terlena. Dia berbisik.


"Dia suami kita."


Suami? Apa itu?


"INGAT EVA, TEMUI DAVIAN DAN KAU AKAN MENGINGAT SEMUA TUGAS DAN ALASAN PENCIPTAAN DIRI MU."


Baiklah.


Cari batu jiwa lalu bangkitkan Reva. Kehidupan ini adalah miliknya, Reva adalah aku. Aku adalah Reva, kami merupakan satu kesatuaan. Tak ada yang bisa memisahkan.


Biarkan Reva bangkit, demi balas dendam kepada Gabriel. Lalu—


Aku akan menghilang jika berhasil membangkitkan mu. Benarkah Reva?


Sial.


"Hiks... hiks..."


Egois 'kah aku?


"Hiks... hiks..."


Reva? Saudari ku?


"Hiks... hiks..."


Tolong jawab aku.


"Hiks... hiks..."


Aku takut.


"Hiks... hiks..."


Aku takut, karena aku mulai memimpikan sesuatu.


Tidak bisa 'kah? Aku ingin bersama mu, aku tak ingin menghilang setelah berhasil membangkitkan mu Reva.


"HIKSS... HIKSS..."


Aku bukan boneka mu. Reva.


"HAHA?! TERNYATA MUSTAHIL. SIAL."


...***...


"Kondisinya menjadi tidak stabil beberapa waktu terakhir ini Ratu..."


Kian mengangguk, tak perlu Vioner jelaskan wanita bermahkota cantik itu juga bisa melihatnya. Kondisi Eva memburuk, wanita itu tak kunjung membuka kelopak matanya. Bahkan pada satu momen tertentu jiwanya bisa pecah sewaktu-waktu, seandainya tidak di pertahankan Eva mungkin akan mati.


BOOM!!!!!


"APA ITU?!" Teriak Kian, lantai-lantai yang ia pijak bergetar. Vioner mengubah wujudnya menjadi laba-laba lalu melindungi Kian bersama dengan Eva.


Para prajurit berlarian keluar. Sesuatu terjadi.


"Apa yang terjadi Vioner?!" Kian mendongak, laba-laba besar dengan 8 kakinya itu menunduk. Benang-benang tipis yang menyebar diseluruh istana berkilat, Vioner tengah mencari informasi melalui benda itu.


"Penyerangan?! Ada yang melakukan penyerangan Ratu!" Seru laba-laba betina itu keras. Kian membeku, apa maksudnya? Ada seseorang yang cukup kuat dan bodoh? Berani menyerang istana raja?


Vioner?! Bawa Ratu pergi, menjauh sejauh mungkin dari sini?! Ucap Sebastian melalui telepati. Vioner mengangguk.


"Ratu naiklah ke punggung hamba, kita harus pergi dari sini?! Istana akan jadi medan pertempuran." Kian mengangguk, dengan gerakkan cepat dia melopat naik menuju atas punggung laba-laba betina tersebut.


"Bawa juga dia Vioner?!" Ucap Kian menunjuk tubuh tak sadarkan diri milik Eva. Tidak bisa membantah, laba-laba itu membungkus tubuh Eva dengan jaring lalu membawanya sejajar dengan Kian.


"Kita pergi dari sini?!"


"Yes my Queen~"


.


.

__ADS_1


.


.


.


"Jelaskan dengan singkat Sebastian?!" Makhluk itu terlihat marah, Sebastian menunduk malu. Karena kelalaian dirinya menjaga istana, serangan berhasil menghancurkan sisi lain istana—dekat kediaman ratu.


"Seseorang dari keturunan mata Tâbi menyerang kita my Lord." Terdengar geraman aneh dari arah mulut Elliot, makhluk besar itu benar-benar murka.


"Bagaimana bisa?! Keturunan mata Tâbi berada disini?!"


Sebastian menunduk, lidahnya kelu. Kalau boleh jujur—makhluk itu sekarang ini sangat ketakutan, Raja-nya sungguh mengerikan.


"Beritahu Vioner, amankan sang Ratu dari sini. Kerahkan seluruh prajurit tingkat S untuk turun kelapangan, hadapi orang dengan keturunan mata Tâbi itu! Sisa prajurit kelas bawah, buka rute pelarian!"


"Laksanakan,"


"Jika situasi menjadi tidak stabil. Umumkan ke seluruh negeri, perang di mulai."


Glek!


"Yes... my Lord—"


Taps!


Taps!


Taps!


"Hua! Ini benar-benar bencana?!" Komentar Zim, merasakan kengerian luar biasa. Baru saja dia melihat serangan secara langsung yang dilakukan oleh Davian, macan kumbang itu sudah dibuat gemetar ketakutan. Amat bersyukur dirinya bisa selamat dan tetap hidup hingga sekarang ini.


"Kau terlalu heboh?!" Ucap Zim.


Tch!


"Jangan mengatur ku. Cepat cari saja Eva?!" Sahut Davian kesal, melihat itu membuat Zim menggeleng tak percaya. Makhluk yang sekarang ini dalam wujud hewannya itu menjauh, melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Sisi utara dari istana hancur, para prajurit tingkat S bermunculan.


Ini akan jadi pertarungan sulit untuk Davian, karena dia membuat keributan besar mirip sebuah—peperangan. Tepat didepan istana raja.


"Semoga beruntung..." bisik Zim meninggalkan Davian. Macan kumbang itu menyelinap masuk kedalam istana namun keberadaannya malah dihadang oleh seseorang.


Sebastian.


Lelaki dengan wajah berbingkai kacamata itu menatap datar Zim. Dia membenarkan tata letak posisi kacamatanya.


"Ini bukan area bebas, harap keluar dari sini tuan..."


Sial.


BUGH!


Suara keras terdengar berbarengan dengan runtuhnya dinding bangunan besar istana. Zim terkejut, ia berbalik. Wujud besar yang selalu di puja-puja setiap makhluk terlihat. Deru napasnya seperti uap, maniknya menyala terang dengan sorot mengerikan.


"Ish?! Ini menyakitkan..." terdengar keluhan tak senang dari arah mulut Davian. Sosok yang baru saja menghantam keras tembok itu terlihat baik-baik saja. Ia berdiri, tepat berhadapan dengan sang Raja dari seluruh negeri.


"Kau cukup tangguh," desis Elliot.


"Terima kasih." Sahut Davian angkuh.


Sial, situasi apa lagi ini?!


..._______________...


...I s t a n a...


..._______________...


...________...


...____...


..._...


...Tbc...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2