
...Cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...T e g u r a n...
..._________________________...
...______________...
...______...
..._...
"Ku bunuh kau, dasar manusia menjijikan!"
"Tck!"
BRGAH! BRUKG!
Satu detik jentikan jari membuat semua tentakel itu bergerak mengincar Josan secara brutal, lebih agresif dari sebelumnya hingga menimbulkan suara keras karena mereka menghantam tembok dan menghancurkan seisi ruangan.
Josan yang dikejutkan dengan pergerakan tak terduga dari tentakel-tentakel itu bergerak menghindar, mencoba melawan. Sensasi tumpul berubah menjadi tajam, tubuh Josan seperti bergesekan dengan ribuan pisau dalam satu putaran.
Davian mempertajam pandangan—suara jentikan jari terdengar lagi, pola serangan abstrak yang dilakukan berubah menjadi membundar layaknya pusaran air dengan Josan yang berada di pusatnya; mencoba bertahan dari gesekan kekuatan milik Davian. Tubuh manusia itu tak mungkin bertahan lama, banyak luka menganga di sekujur badan dengan darah segar yang mengalir bebas semaunya di tambah tentakel yang mulai memecahkan diri menjadi kepingan kecil membuat dampak dari serangan yang ditimpa Josan jadi semakin besar.
"Tarik udara dari paru-parunya, ubah itu menjadi racun hingga jantungnya meledak!"
BRUGH!
Josan tersungkur.
"Ergh!"
Lelaki itu mengerang sakit dengan dada yang begitu sesak usai mendengar Davian merapalkan sesuatu padanya. Agaknya laki-laki bermanik identik hazel itu menarik oksigen yang berada di sekitar sehingga menciptakan efek delelusi seakan-akan Josan tengah dicekik sesuatu untuk kedua kalinya.
Tanpa berkedip sekali pun lelaki berstatus pasangan takdir Reva menyaksikan bajingan bernama Josan itu kesusahan—seperti ikan yang kehabisan oksigen disekitarnya dengan mata memerah dan tampang menyedihkan, komentar Davian gamblang; tanpa perasaan.
Memang penyiksaan jenis ini prosesnya sedikit pelan tapi Davian benar-benar berharap; ini selesai dengan cepat. Ha-ha tanpa meninggalkan jejak? Bercanda.
Dia ingin merobek makhluk itu hingga organ terdalamnya. Dengan perlahan.
Ah~
__ADS_1
Rasanya—
DAVIAN!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!
"Argh!" Davian dikejutkan oleh lengkingan nyaring yang memenuhi gendang telinganya meski tanpa suara benda itu berhasil mengacaukan isi pikiran Davian. Telepati mendadak yang di lakukan oleh Kevin—ayahnya membuat seluruh konsentrasi si bungsu keluarga hazel ini buyar seketika. Dia mendesis sambil mengernyit alis lalu menjawab ketus panggilan jarak jauh milik sang ayah.
Ada apa ayah?
Kau mengganggu ku. |
Tanggapan singkat dari si bungsu. Membuat Kevin mendengus tak percaya; sungguh reaksi bodoh jenis apa itu yang di berikan Davian padanya. Tapi kesampingkan sikap kurang ajar dari anaknya itu dulu, mari kita langsung ke inti permasalahannya saja 'kenapa Kevin melakukan panggilan mendadak' pada anaknya.
Apa yang coba kau lakukan Davian? Gejolak emosi mu tidak stabil hingga memberi dampak pada segel pembaharuan dan membuatnya melemah... aura negatif jadi semakin pekat dan sulit untuk di kendalikan?! tanya Kevin keras, mengawasi setiap penjuru kekacauan yang terjadi di beberapa titik dengan kekuatan matanya. Gideon dan Adam bahkan harus turun tangan bersama anggota keluarga cabang untuk menekan kekacauan.
Dan kunci dari masalah ini adalah si Davian, sosok yang selalu di banggakan oleh kepala keluarga utama. Ada apa dengan anak bungsunya itu?!
Awalnya ayah dari Davian ingin mengabaikan semua jenis tindakan putranya karena Davian adalah si jenius luar biasa yang hadir ditengah-tengah keluarga tapi jika di biarkan lebih lanjut, sepertinya Kevin akan menanggung sebuah dosa besar karena pengabaiannya terhadap sang putra atau lebih tepatnya dia tak ingin namanya tercoret lebih dalam lagi.
Mem-bunuh-nya.
DEG!
Kevin membeku di tempat. Perkataan bengis jenis itu; terasa familiar juga asing di telinga Kevin. Sebenarnya ada apa dengan anaknya itu, kali ini dia benar-benar bertanya dengan penuh rasa minta—sampai bisa memunculkan sifat setan turunan dikeluarga mereka, hal apa yang mengganggu Davian? Batin Kevin, kilasan ingatan tentang masa muda memenuhi sebentar isi pikiran pria berwajah sedikit lebih tua dari Davian itu; mengingat Kevin juga pernah di posisi ingin membunuh seseorang.
Siapa dan kenapa kau ingin membunuhnya Davian? Bukannya kau tahu jika kita tidak diperbolehkan menyakiti manusia—?!
Argh! Rasanya memuakkan. |
HEH!
Jujur Kevin ingin sekali melontarkan amarah tapi dia memilih diam sambil mengalihkan pandangan; biar dia cari tahu sendiri objek apa yang di maksud Davian dengan kemampuannya tapi yang Kevin dapat adalah—sebatas sosok menantunya diatas ranjang tanpa busana?
Apa yang terjadi? gumam Kevin tanpa sadar sambil mencoba mencerna perlahan semua situasi yang ada.
Seperti yang ayah lihat. Dia-menyentuh-milik-ku.
BRAK!
Kevin tersentak, telepati yang mereka lakukan di putus secara sepihak oleh Davian tanpa aba-aba. Momen terakhir yang Kevin lihat adalah sosok Davian yang melakukan penyerangan terhadap Josan, pria asing berlabel bajingan.
"TUNGGU—DAVIAN!" Kevin berteriak tanpa sadar didetik ketika sambungan mereka berakhir, lelaki berumur itu menghela napas frustrasi lalu berdiri dari tempat duduk sambil menghantam kecil meja didepannya dengan kepalan tangan.
"HUH?!"
Yang benar saja!
Dasar anak nakal! maki lelaki bernotabe ayah dari Davian itu dalam hatinya.
"Ayah! Kau mendengar ku?! Cucu mu menggila—!" gerutu Kevin kesal dengan tampang geram, rasa hormat Davian terhadap Kevin hilang sepenuhnya.
__ADS_1
Ha-ha |
"Jangan berteriak nak, aku tidak tuli dan buta."
"He!" Kevin kaget dengan tampang horor, tiba-tiba suara rendah milik ayahnya muncul—menggelitik daun telinga milik Kevin. Sial, membuat jantungnya berdegup kencang saja. Kevin menelan ludah kasar, tak menyangka sang ayah akan muncul tanpa di undang.
"Ya ampun, ayah ternyata disini..." gumam Kevin canggung dengan raut mencoba menstabilkan perasaan terkejut. Ditatapnya sosok yang memilik umur berkali lipat lebih tua darinya itu, tekanan serta wibawa sang ayah tak akan pernah luntur.
"Tentu saja aku disini, aku tidak selemah itu hingga tidak menyadari gejolak aneh kekuatan milik Davian yang mulai tak stabil lagi..." ucap kakek Davian datar, pria tua itu benar-benar kejam dan hanya sayang pada cucunya saja; Davian. Hiks... hiks...
"Jelaskan," tanya kakek Davian memilih acuh, Kevin mau tak mau menjelaskan apa adanya tentang situasi yang terjadi hingga lelaki bau tanah itu mengerti. Terlihat kakek Davian mengangguk kecil—tak bertanya lebih karena otaknya tidak setumpul itu, usai mendengar semua situasi yang terjadi dari mulut anaknya Kevin, lelaki berstatus kepala keluarga utama membuka sedikit celah bibirnya. Mengucapkan sepatah kata yang di tunjukan kepada telinga milik Kevin.
"Buka koordinat,"
Kening Kevin berkerut, tak paham.
"Ayah? Anda ingin menyusuli Davian?"
Hanya jawaban dingin yang didapat Kevin.
"Ya."
"Kenapa? Mungkin Davian tidak serius dengan niatnya, dia hanya lepas kendali sebentar seperti sebelumnya kan?" gumam Kevin meski dia sedikit ragu dengan opininya juga.
Kakek Davian melirik tak suka. Beberapa detik dia tidak berucap apapun pada anaknya itu hingga akhirnya pria tua itu berkata—
"Dia cucu ku."
Deg!
"TAPI—?!"
"Kau pikir sifat bengis itu berakar dari mana? Jika dia ingin membunuh, maka dia harus membunuh."
!!!!
...***...
...TBC...
...Jangan lupa like, vote, dan comments-nya......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1