Crazy Baby

Crazy Baby
Kabar


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...K a b a r...


...____________________...


...___________...


...____...


..._...


Sudah lebih 3 hari wanita itu menghilang, maksudnya Eva. Terdengar hela napas panjang dari Davian, jemarinya menghentikan ketikan tangan. Lelaki itu menatap datar layar komputer didepannya, entah pergi kemana wanita itu. Bagaimana tempat dia tidur dan seperti apa makannya Davian tidak tahu, dasar wanita menyebalkan. Padahal jika Eva blak-blakan saja bilang 'dia sebenarnya siapa' Davian tidak akan marah; jangan melakukan sandiwara lupa ingatan dan semacamnya seperti ini.


Bohong sih kalau saat ini Davian tidak marah, dia masih kesal dengan wanita itu karena sudah menipunya tapi mau bagaimana lagi—Davian rasa dia ingin pembantu rumah tangga-nya itu untuk kembali. Sarapan pagi seorang diri terasa hambar.


"Hah~" Davian mematikan layar komputer. Saatnya pulang, batin lelaki itu sambil bersiap-siap.


Kehadiran Eva memang berhasil membuat dia nyaman tapi tidak dalam artian lain, mungkin karena selama ini Davian selalu sendiri jadinya dia merasa kesepian. Adanya Eva membuat lelaki dengan wajah berbingkai kacamata itu seperti merasakan hidup kembali; persis seperti dia saat pertama kali mengenal cinta. Rasanya hangat meski berakhir menyedihkan. Jujur Davian sedikit trauma soal itu tak heran kalau semalam dia teramat marah saat Eva memilih meninggalkan sosoknya. Anggap saja Davian yang sekarang takut dengan kehilangan, jadi lelaki itu tak ingin dibuang dan dia berusaha menggenggam erat apa yang menjadi miliknya.


Terdengar egois memang tapi begitulah adanya.


Davian berjalan melewati lorong, interior lantai dasar memenuhi pandangan mata lelaki itu. Dari kejauhan Davian lihat ada sosok yang sudah lama tidak memunculkan batang hidungnya. Layla, untuk apa dia kembali kepermukaan lagi?


Apa menghilangnya Eva menjadi sebuah peluang untuk wanita itu? Agar bisa menemui Davian secara bebas? Tapi dari mana dia tahu kalau Eva menghilang? Haruskah Davian meladeni Layla kali ini, itung-hitung lelaki berkacamata itu mencari tahu sesuatu. Dengan langkah tegap Davian keluar dari pintu utama kontor tempat dia berkerja.

__ADS_1


Layla terlihat ingin memanggil tapi dia ragu. Tidak seperti biasanya, pikir Davian. Berinisiatif sendiri lelaki berkacamata itu mendekati Layla, sambil menepuk pelan pundak wanita itu Davian berbisik kearahnya.


"Ikuti aku..."


Seperti mengerti maksud dari teman masa kecilnya, Layla mengikuti langkah kaki panjang milik Davian. Mereka berjalan beberapa meter menjauhi perusahaan, tepatnya menuju sebuah kedai minum yang sepi pengunjung.


"Aku ingin kopi hitam satu..." ucap Davian pada pelayan disana. Layla ikut bersuara.


"Jus apel tanpa gula..."


Wanita yang menjadi pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan Davian bersama Layla yang mencari tempat duduk ternyaman untuk mereka duduki. Pilihan jatuh pada meja disudut ruangan dekat kaca jendela besar, tanpa basa-basi Davian bergegas menuju sana untuk duduk diikuti Layla.


Beberapa menit setelahnya pesanan mereka sampai. Davian tersenyum simpul kearah pelayan yang mengantarkan pesanan milik mereka hingga membuat wanita pelayan itu tersipu malu sebelum memilih pamit undur diri.


"Kau jadi mudah tersenyum..." komentar Layla. Davian melirik, masih dengan wajah ramah lelaki itu menjawab.


"Benarkah? Aku banyak belajar selama 3 tahun ini..." ucapnya sambil menyeruput kopi hitam dalam cup gelas miliknya.


"Ada apa kau menemui ku lagi? Jika pembahasan mu masih sama tentang ahli waris aku akan memilih pergi..." ujar Davian langsung pada intinya seusai meminum kopi. Terlihat Layla seperti menelan kembali rangkaian kalimat yang sudah dia rancang. Wanita itu perlu memutar otak untuk menjawabi ucapan Davian.


"Putra kedua keluarga utama 'Adam' meninggal..."


DEGH!!!!!


Mata Davian membola sempurna, apa yang baru saja dia dengar? Terasa bohong bahkan meninggalkan rasa gatal di daun telinga. Lelaki itu mencengkeram kuat tangkai cangkir dari kopinya, Davian memang tidak terlalu akrab dengan kakaknya itu tapi tetap saja ini kabar menggemparkan.


"Kau tidak bohong kan Layla?" desis Davian, suasana hatinya tiba-tiba hancur. Jejak pahit di lidahnya meninggalkan bekas yang dalam, itu membuat Davian terganggu. Layla menggeleng itu artinya kalau informasi yang diberikan benar adanya.


Bagaimana bisa? batin Davian tak percaya. Adam itu sosok yang lumayan kuat, bahkan dari segi apapun dia nyaris imbang dengan putra pertama keluarga utama alias kakak mereka Gedion; meski Adam tidak memiliki ambisi soal masa depannya—dia tipe orang yang selalu menikmati kehidupan sesuai arus saja. Tidak mungkin orang seperti itu tiba-tiba mati tanpa sebab kecuali ada yang mengganggu kelemahannya.


Tch! Agaknya ada sesuatu yang terjadi dengan Eni yang merupakan kelemahan satu-satunya milik Adam hingga akhir kisah mereka jadi seperti ini.


"Kondisi ini membuat kake—maksud ku kepala keluarga utama jadi semakin memburuk. Hal itu jadi peluang dan dipakai beberapa keluarga cabang untuk masuk ke garis keturunan utama, ini benar-benar kacau Davian."

__ADS_1


Davian berdehem, dia tahu. Tanpa dijelaskan oleh Layla lelaki itu bisa membayangkan seberapa kacau kediaman utama hazel saat ini. Sosok yang memilki pengaruh nyaris tidak ada lagi dan itu jadi kesempatan untuk mengganti kekuasaan yang ada dengan yang baru.


"Lalu dimana Gedion?" tanya Davian penasaran tentang putra pertama alias kakaknya.


"Dia menghilang..."


...***...


Eva meminum rakus minuman ditangannya. Wanita itu menatap jengkel pemandangan didepan sana; berjarak beberapa meter dari tempat ia bersembunyi.


"Bisa-bisanya dia selingkuh." desis wanita itu lalu mencengkeram kuat kaleng minuman ditangannya sebelum dibuang.


Entah apa yang dibicarakan oleh Davian dan Layla, Eva penasaran tapi wanita ini tidak bisa mendekat lebih jauh lagi atau dia akan ketahuan oleh lelaki bermanik hitam itu.


Tiga hari menggelandang di jalanan membuat Eva merindukan apartemen milik Davian dan makanannya. Hiks... hiks... seandainya Eva tidak ketahuan dia masih bisa hidup enak seperti sebelumnya tapi apa boleh buat, Davian bahkan tidak sudi di hapus ingatannya oleh Eva. Hal ini jadi memberatkan wanita itu, dia belum bisa memberi jawaban untuk Davian karena rencana Eva belum terlaksana secara sempurna.


Ini melelahkan.


"Huh~ aku ingin mandi..." keluh Eva kembali mengalihkan perhatian kearah Davian yang tengah duduk bersama Layla didalam sebuah kedai minum sederhana. Tapi sosok yang dia cari malah menghilang, Eva mengerutkan kening. Dia menjinjitkan jari kakinya sambil menatap dalam dari kejauhan; mancari-cari sosok Davian.


Kemana dia pergi, apa pembicaraan mereka sudah selesai? batin Eva penasaran. Sambil melongo lucu Eva tidak menyadari kalau seseorang sudah berada tepat dibelakangnya, sambil menyilangkan tangan ke dada lelaki itu berucap.


"Makanya pulang kalau kau ingin mandi Eva."


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2