
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._____________________________________...
...P e n g a w a s a n...
..._____________________________________...
...________________________...
..._____________...
...____...
..._...
Dimana ini?
Dimana aku?
Mungkin itu yang dipikirkan Davian ketika menjumpai dirinya disuatu tempat aneh, tanpa langit-langit dan tanpa pijakan. Semuanya hitam, rapat, juga tidak memiliki apapun didalamnya—seperti ruang hampa.
Davian berbalik, sepasang mata tiba-tiba muncul diantara tempat Davian. Begitu besar dengan sorot tajam yang tidak begitu asing. Warnanya familiar, Davian melihat pantulan bayangan dirinya tepat disana.
Kakek, batin lelaki itu.
Sosok yang diserukan dalam hati itu menutup matanya perlahan–sesuatu mirip debu hadir mengantikan sepasang mata tadi lalu menggumpal membentuk sesosok yang teramat Davian hormati. Sang kakek dengan pakaian khas miliknya berjalan menuju Davian, sorot mata lelaki tua itu menyiratkan kemarahan.
__ADS_1
Davian tidak tahu apa maksud dari pandangan yang diberikan sang kakek kepadanya; lelaki itu memilih diam memperhatikan.
"Apa kesalahan mu? Cucu ku?"
DEG!
Seperti terkena serangan jantung, tiba-tiba Davian tersentak kuat saat merasakan benda yang tersimpan didalam dadanya ini berdetak sangat kencang bersamaan dengan rasa sakit luar biasa.
Rentetan kejadian beberapa waktu lalu juga ikut ambil bagian—terlintas bagai kaset rusak didalam kepalanya.
Apa ini?
"Hosh!"
Apa ini?!
"HOSH!"
APA INI!
Kaki Davian lemas, lelaki pemilik manik serupa sang kakek itu tidak bisa menahan bobot tubuhnya lagi hingga jatuh terduduk dihadapan sang kakek yang hanya diam memperhatikan semua gerak-gerik Davian.
Ergh!
Davian merasakan ngilu disetiap jengkal tubuhnya, lain dari pada itu—rasa-rasanya mental Davian seperti ikut tersakiti saat dengan jelas semua bayangan kejadian dirinya yang kesetanan, menggila serta menyakiti Reva dan para saudaranya lewat. Mengikis habis isi kepalanya.
Apa yang—?!
Tangan Davian gemetaran, lelaki itu menatapnya. Meski tidak ada sesuatu disana Davian merasakan perasaan—
J i j i k.
"Ma—MAAF 'KAN SAYA KAKEK!" Ucap Davian cepat sambil mendongak, ekspresi wajahnya terlihat 'tidak baik-baik saja'. Bola mata gelisah, wajahnya juga ikut mepucat bukan main, gejolak mual dari dalam perut memperparah keadaan Davian.
__ADS_1
"Hah~"
Kakek Davian menghela napas panjang. Pandangannya mulai melunak terhadap Davian, rupa-rupanya sang kakek juga tidak terlalu sanggup untuk memarahi cucu kesayangannya. Sedikit frustrasi—seperti bertindak tidak adil pada cucu-cucunya yang lain saja.
Lupakan saja |
Kakek Davian berjongkok tepat dihadapan Davian, tangannya terangkat merengkuh bahu lelaki muda yang membawa darahnya disetiap nadi didalam tubuh.
"Tenang Davian," ujar sang kakek mutlak. Secara ajaib Davian berubah menjadi tenang.
Davian melirik dari balik ekor matanya, manik mereka bersinggungan.
"Dimana ini kek?" Tanyanya begitu saja, nada bicara Davian terdengar seperti dirinya sudah kembali ke-keadaan normal; seolah kejadian yang lalu-lalu hanyalah tayangan film hiburan disebuah siaran televisi.
Haha, konyol.
"Bukan tempat seharusnya kau berada." singkat, padat dan jelas. Davian tidak perlu bertanya lagi. Lelaki itu leluasa bisa menebak apa yang terjadi pada dirinya dan bagaimana dia bisa berakhir disini.
"Ruang pseudo..." gumam Davian. Sang kakek bertepuk kagum dalam hatinya, Davian benar-benar luar biasa bisa memahami situasi yang menimpanya begitu saja tanpa harus menggali lebih banyak informasi.
Davian kembali menunduk, menatap jari-jari serta telapak tangan.
Mati rasa.
Ujarnya ketika menggerakan benda itu.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote & comments......
...Terima kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...