
Persetan, bahkan aku tidak peduli jika kau sudah bersuami. Satu-satunya hal yang terpikirkan dalam benak ku adalah menjadikan mu milik ku.
...___________________...
...Z i m...
...___________________...
..._________...
...____...
..._...
"Aku pikir dia akan menentap lebih lama lagi di ibu kota..." gumam Vioner, tadi pagi sosok itu di kejutkan dengan kehadiran Zim didepan pintu masuk istana. Bermodalkan niat agar bisa bertemu dengan laba-laba betina itu, Vioner kira ada perkara tertentu yang menimpa Zim hingga dia meminta untuk bertemu. Angin segar apa yang membawa mu pada ku? Tanya Vioner dalam hati, dia ingat pertemuan terakhir mereka tidak berakhir dengan baik.
Laba-laba betina itu lagi-lagi menolak mentah-mentah pernyataan Zim soal menikah atau apapun itu. Vioner menghargai perasaan milik macan kumbang tersebut, meski sepertinya dia salah memilih tempat untuk jatuh cinta.
Vioner tidak pantas mendapatkan sebuah cinta murni dari seseorang, terlebih lagi dia sudah memiliki pasangan takdir. Meski sedikit kurang ajar Vioner tulus terhadap pasangannya, bahkan demi lelaki itu Vioner rela bekerja hingga akhirnya bisa menjabat sebagai petugas medis terbaik di istana ini.
Dia merangkak dari bawah. Demi cinta semu yang sudah membutakan matanya. |
Kembali ke topik utama lagi, setelah menemui Zim, Vioner akhirnya tahu maksud dan tujuan dari macan kumbang tersebut. Zim ingin berpamitan pergi; dia bilang ia akan kembali berpetualang dengan gemik sedih. Vioner yang mendengar sedikit terkejut tapi dia mencoba memaklumi hal tersebut, meski mereka sudah cukup dekat dalam waktu tertentu ada masanya untuk berpisah bukan?
Sambil melihat punggung tegap dari macan kumbang tersebut Vioner tersenyum—senang mengenalnya. Hingga sosok itu benar-benar menghilang dari penglihatan mata.
Waktu kembali normal, Vioner menjadi aktif bertugas di istana karena sang Ratu membuat ulah dengan acara kabur-kaburannya. Tak heran Ratu terjerumus kedalam bahaya lalu terluka, Vioner harus berjaga 24 jam untuk mengobati ibu dari seluruh makhluk di dunia bawah ini (ungkapan yang biasanya dipakai untuk julukan Ratu). Bahkan sang Raja mulai bertindak agresif, selain sikap Ratu yang membuat pusing ternyata ada masalah internal yang terjadi. Pemberontakan dibeberapa daerah, siapa pemimpin mereka dan apa maksud mereka melakukan hal tersebut di tanah kelahiran mereka; Vioner juga kurang tahu.
Hah~
Selain dari rentetan kisah diatas, ada lagi hal menarik lainnya. Contoh, seperti sikap sang suami yang mulai mencari sosok keberadaan Vioner. Karena terhalang tugas laba-laba betina itu belum sempat menemui sang suami yang katanya mencari-cari keberadaan Vioner. Apa perkara uang lagi? Terka laba-laba itu. Terdengar hela napas pasrah, uang minggu ini sudah dia kirimkan pada sang suami tidak mungkin habis dalam sekejap kecuali jika dia?
Memainkannya dengan permainan taruhan atau—
"Wanita?" Gumam Vioner tak percaya.
Dirundung oleh perasaan takut dan cemas makhluk yang sudah mencapai tingkatan atas itu mendatangi kepala pelayan utama yaitu Sebastian untuk meminta izin agar bisa keluar.
"Maafkan saya Tuan Sebastian, bisakah saya izin keluar istana untuk sementara waktu agar bisa menemui suami saya..."
Sebastian menolaknya karena dalam beberapa waktu terakhir Vioner sudah cukup sering keluar sampai hal ini terdengar oleh telinga sang Ratu, Kian. Sosok tersebut mendekati kedua makhluk dengan ras berbeda sambil bertanya—
"Apa yang sedang kalian bahas?" Tanya Kian penasaran. Vioner tersentak, dia menunduk malu karena nyaris kalah berdebat dengan Sebastian. Sosok yang merupakan orang kepercayaan raja itu membungkuk; memberikan salam hormat pada satu-satunya ratu di kerajaan ini.
__ADS_1
"Tidak ada My Queen..." Bukan sebuah jawaban yang Kian inginkan. Mata wanita itu beralih pada sosok Vioner, menuntut penjelasan yang sebenarnya dari mulut laba-laba tersebut. Vioner merinding ketakutan, antara harus mematuhi perintah sang ratu atau tangan kanan langsung sang raja; Sebastian.
Argh! Sial, dia dalam posisi yang tidak menguntungkan, maafkan Vioner Sebastian—mungkin dia akan memilih memihak pada sang Ratu untuk saat ini. Laba-laba itu juga harus bertatap muka dengan sang suami yang bertingkah mencurigakan dalam kurun waktu tertentu.
"Kenapa tidak kau izinkan saja Sebas?" Ucap Kian yang memahami situasi. Lagi pula Kian tidak ada niatan kabur hari ini, jadi situasi akan aman terkendali. Terdengar hela napas pasrah dari mulut laki-laki itu, dengan berat hati dia mengangguk—mengiyakan permintaan Vioner.
Senyum cerah timbul, Vioner sangat-sangat berterima kasih lalu melangkah pergi meninggalkan Kian bersama Sebastian.
"Anda berjanji Ratu, jadi jangan berpikir untuk mengingkarinya..." ucap Sebastian datar dangan manik dingin, baru sebentar waktu berlalu dan lihat saja itu sang Ratu ingin ikut angkat kaki dari sana.
"Hehe... ketahuan ternyata,"
...***...
DEG!
Ada perasaan menjijikan muncul. Vioner membatu dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dibaca, apa ini? Apa ini? Apa ini? Apa ini? Apa ini? APA INI? Jerit dewi batinnya.
Sudah sekian lama rasanya baru sekarang Vioner kembali ke kediaman miliknya, berharap sang suami berada disana; menunggu kepulangan Vioner tapi apa yang menyambut wanita itu untuk pertama kali adalah—?
Tak heran beberapa pelayan mencoba menahan dirinya agar tidak melangkah masuk ke kamar milik sang suami, ternyata ini jawabannya.
Dalam keadaan remang tapi masih bisa terlihat jelas, Vioner menyaksikan adegan ranjang sang suami bersama wanita lain.
Siapa kau?
Siapa kau? Hingga bertindak berani seperti itu pada ku?
Padahal uang yang kau makan itu adalah—
"Milik ku..."
Vioner tertawa hambar, manik majemuknya menitikan air mata. Tanpa siapapun bisa cegat Vioner menunjukan sosok sejati miliknya, laba-laba raksasa dengan wujud mengerikan.
Beberapa pelayan yang duduk ditingkatkan lebih rendah dari Vioner meringkuk ketakutan atas kemarahan nyonya rumah mereka—begitu juga sang suami dengan jala*ng selingkuhannya.
Mereka takut, takut untuk di mangsa.
JIKA KALIAN TAKUT, KENAPA KALIAN SEMUA MEMBUAT KU MARAH?!
Tidak ada satu orangpun yang dapat menenangkan Vioner, dia meluluh lantak-kan kediaman.
"PERGI KALIAN! ENYAH DARI TEMPAT TINGGAL KU?!" Teriaknya penuh amarah yang menyimpan rasa sakit juga perasaan kecewa luar biasa.
__ADS_1
"Pergi, selagi aku masih berbaik hati—untuk tidak mencabik-cabik tubuh kalian."
DEG!
Tertinggal sosok yang kesepian diantara kegelapan tersebut. Meringkuk diatas kesedihan luar biasa, dia menangis—dengan hati yang terluka.
"Kenapa? Kenapa aku bisa mencintainya? Bajingan gila tersebut? Bahkan tidak pantas untuk dicintai..."
Hiks... hiks...
Vioner tersungkur, diatas lantai kediaman. Dia memejamkan matanya, perasaan lelah merundung hati kecil laba-laba betina itu. Tanpa sadar, ia hanyut dalam kegelapan mimpi yang lebih indah dari pada apapun didunia ini.
.
.
.
.
.
.
Manik hijau menatap dari kejauhan, langkah kakinya terdengar seringan kapas. Zim melenggang—cukup dekat hingga rasanya bisa mengapai pucuk kepala yang terbaring lelah diatas permukaan lantai yang dingin.
"Ini berjalan sempurna," gumamnya senang. Entah pada apa?
...***...
...T b c...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1