
...Cerita bersifat fiksi / karangan semata, apabila terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan saja....
...Sebelum baca silakan klik like, 'vote' dan comment di akhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya orang lain....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._________________________________________...
...I s t i m e w a...
..._________________________________________...
...__________________________...
...___________________...
...___________...
...______...
...___...
..._...
"Bugh!"
Tubuh Reva membentur marmer. Gadis itu kehilangan kesadarannya karena tekanan yang diberikan kakek Davian.
Dua laki-laki berbeda usia itu menatap lekat tubuh Reva.
"Pindahkan dia Davian..." ucap sang kakek.
Hela napas berat terlihat; Davian menjentikan jari. Tubuh Reva dilahap oleh bayangan pekat. Lelaki itu memindahkan tubuh Reva menuju salah satu ruangan kosong dengan kasur besar didalamnya. Reva terbaring; damai disana.
"Apa maksud kakek kalau dia istimewa?" Tanya Davian. Usai memindahkan Reva; cukup jauh dari jarak mereka.
Sang kakek menyeringai kecil. Manik yang sama-sama berwarna hazel saling bersinggungan.
"Setitik darah Gabriel ada padanya..." terang kakek itu pada cucunya. Mata Davian terbelalak. Sedikit kaget mendengarnya.
Reva? Memiliki setitik darah dari makhluk itu?
Yang benar saja?
"Kakek bercanda?"
"Tidak..." ucap kakek Davian sambil menggelengkan kepala.
"Kakek serius, dia sosok istimewa—"
"—dan sedikit langka."
...***...
Baru saja Reva membuka matanya. Langit-langit kamar yang asing terlihat menyambutnya.
Dimana ini? Batin gadis itu. Sambil mencoba bangun dari tidurnya. Kepala Reva sedikit pusing, dia hanya mampu bersandar disandaran ranjang.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi mu?"
Deg!
Reva terkejut. Suara perempuan tiba-tiba muncul—tak jauh dari posisinya. Cepat-cepat Reva menoleh, mendapati sosok wanita yang menyambut dia didepan tadi.
"Kau bisa panggil aku Eni..." ucapnya tanpa dipinta. Lagi-lagi senyum lebar itu hadir. Tanpa terdengar suara langkahnya, Eni tahu-tahu sudah berada cukup dekat dengan Reva.
"Aku sepupu dari pasangan mu—Davian..." tambah wanita itu.
Reva mencengkram selimut yang menutupi setengah badannya. Memilih bungkam.
Hal itu malah membuat Eni tersenyum girang. Rasanya geli; ada sesuatu yang mengocok perutnya.
"Aku tahu bajingan itu tidak menjelaskan apapun pada mu..."
Reva lihat Eni mengambil kursi, duduk didekat bibir ranjang; tempat Reva berada. Manik wanita ini juga berwarna hazel—meski tidak sepekat milik Davian. Cukup samar dan menyatu.
"Baiklah... akan ku jelaskan dengan singkat dan sederhana" ucap Eni mengalihkan fokus Reva. Gadis itu tanpa diminta malah mengaktifkan pendengarannya dalam diam. Lagi-lagi respon lucu Reva mengundang senyum aneh Eni.
"Bisa dibilang Davian itu 'pemburu'—objek yang dia buru adalah aura negatif yang sudah memiliki wujud... kau lihat bukan? Semenjak kau bertemu Davian, kau selalu melihat benda aneh berwarna hitam yang bergerak dan hidup?"
Reva mengangguk ragu. Eni benar. Meski Reva tidak terlalu memahami, anggaplah dia sudah mengerti.
Davian itu unik—sesuai dugaannya. Entah itu pemburu, cenayang atau pun dukun. Sepertinya Davian mampu melihat sesuatu yang kasat oleh mata manusia—lalu memburu atau memusnahkannya. Singkatnya begitu.
Pftt! Eni ingin sekali melepas tawa. Apa-apaan dengan Reva! Benar-benar?! Gadis ini sungguh istimewa. Dia bahkan tidak mencoba menyangkal sepatah kata pun dari Eni. Tidak takutkan dia seandainya Eni berbohong?
Kenapa Reva terlihat menganggap semua ini adalah hal yang wajar?|
Tangan Eni terangkat, menyangga pipinya. Tersenyum sambil menatap Reva. Manik hazel yang tidak sepekat dan semerah Davian terlihat meneliti.
"Lalu soal ikatan... atau sebut saja pernikahan kalian—"
"Itu karena kau..."
Hah?
"Karena kau terlalu istimewa!"
...***...
"Kau sudah bangun?" Tanya Davian begitu memasuki sebuah ruangan dengan ranjang besar. Reva menoleh dengan posisi setengah duduk; memberikan anggukan kecil sebagai jawaban.
Langkah lelaki dengan surai coklat itu berhenti tepat dibangku yang beberapa menit lalu diisi Eni. Aroma busuk dari sepupunya itu tercium jelas dihidung Davian. Tangannya terangkat spontan.
"Berapa lama wanita jelek itu disini?" Tanya Davian. Menendang jauh kursi itu.
"Brak!"
Reva tersentak kaget. Davian selalu berhasil mengejutkan dirinya karena semua tingkah tidak biasa lelaki itu.
"Dia baru saja pergi..." sahut Reva.
Davian menurunkan tangan begitu aroma aneh itu berangsur hilang. Kedua tangan dimasukkannya kedalam saku celana. Ternyata Davian cukup arogan juga.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya lelaki itu.
Sungkan, Reeva membuka mulutnya.
__ADS_1
"Hal yang harusnya kau jelaskan..." Davian membulatkan mulutnya dengan nada oh yang terdengar samar.
Baik, dia harus berterima kasih pada Eni yang mau menjelaskan secara suka rela pada Reva. Davian tidak harus repot-repot nantinya.
Sejenak keterdiaman terjadi. Davian maupun Reva bungkam; diam seribu bahasa.
"Pernikahan ini terjadi karena rasa penasaran ku bukan?" Sampai Reva memilih mengucapkan sesuatu. Teringat akan perkataan Eni. Davian melirik.
"Benar..." Sahut Davian cepat. Tangannya keluar dari saku lalu suara jentikan terdengar. Reva yang belum siap dilahap begitu saja oleh kegelapan. Gadis itu terbelalak kaget tanpa suara.
"Dengar, aku tidak menyukai mu—"
"—bagitu juga sebaliknya" ucap Davian. Tubuh Reva nyaris oleng. Pemandangan sekitar berubah total menjadi tempat yang sangat dia kenal.
"Kau juga tidak berharap kehidupan normal mu berubah bukan?"
Davian menatap lekat Reva.
"Begitu juga dengan ku, aku tidak butuh pendapat mu..." tutur lelaki itu. Reva jelas memperhatikan setiap detail Davian—maniknya benar-benar indah.
Reva benci mengakui.
"Jadi aku ingin kita memutuskan ini..."
Reva mengepalkan tangannya tiba-tiba. Respon aneh yang dia tunjukkan tanpa sadar.
"Sebelum aku menemukan cara untuk melepaskan ikatan ini, ku harap kau menjauhi kegelapan..." tutup Davian.
Reva diam. Mengunci rapat mulutnya. Maniknya hanya mampu membalas tatapan arogan milik Davian. Angin sore berembus, menyapu geli sela tubuh mereka. Davian menjentikan jari lagi; benda hitam melahapnya—membawa pergi sosok bersurai coklat itu, meninggalkan Reva. Berdiri tepat membelakangi rumahnya.
Sebelum benar-benar menghilang. Reva mampu membaca sebuah gerak samar dari bibir Davin.
"Kau hanya beban untuk ku, jadi jaga diri mu dengan baik..."
"—sebelum aku menemukan caranya"
Tes...
"Ah...?"
Reva mengangkat kedua tangannya. Aliran darah mengalir dari hidung Reva. Gadis itu tidak mengerti; dia hanya mencoba mengerti.
Meski ini semua terlalu penuh dengan teka-teki.
Rasanya Reva sudah terlibat cukup dalam.
Entah kenapa Reva sedikit merasa—
Menyesal?
Haha! Lucu?!
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, tap love dan comments serta share yah......
...Terima Kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...