
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...S i - M a n j a...
...____________________...
...___________...
..._____...
..._...
Kian benar-benar bingung, tak ada satupun pertanyaan yang terjawab didalam otak kecilnya. Entah itu soal Eva ataupun si macan kumbang jadi-jadian; Zim serta sosok Davian. Bagaimana bisa takdir mempertemukan mereka disini? Rasanya seperti tengah dipermainkan oleh benang takdir itu sendiri.
Merah yang menyebalkan. |
Malahan semakin banyak tanda tanya berseliweran. Ini sungguh memuakkan. Setelah melihat Vioner melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada Davian, wanita itu akhirnya memilih untuk beranjak.
Meninggalkan sosok Davian yang tengah tak sadarkan diri setelah membuat kegaduhan dengan bertindak agresif; mencari tahu tentang keberadaan wanita bernama Eva—Davian malah kembali jatuh pingsan karena kehabisan tenaga didetik selanjutnya. Bukan karena Kian tak ingin memberitahu Davian, hanya saja ada beberapa hal yang harus wanita itu pertimbangkan demi keselamatan kedua belah pihak.
Selain itu ia juga perlu mendatangi Elliot, Kian terlalu lama meninggalkan sosok menyebalkan itu, pasti dia tengah merajuk disuatu tempat karena percakapan terakhir mereka. Tepat disudut ruangan kamar mata Kian langsung mendapati sosok raksasa berkulit coklat kemerahan dengan tangan berjumlah 4 meringkuk dipojokkan. Pfftt! Baru saja Kian masuk ke kamar utama, matanya sudah disambut dengan pemandangan konyol.
Surai-surai rambut menutupi sebagian wajah, Kian menghela napas lelah.
__ADS_1
Tap~
Tap~
Tap~
Dirinya mendekati tubuh Elliot lalu menyentuhnya.
Deg!
Elliot tampak tersentak, tetesan air mata serupa hujan jatuh—membasahi atas kepala milik Kian.
Benar-benar—?!
Rasanya Kian ingin menjerit kesal namun tak bisa. Dia menggigit pipi bagian dalam sebelum berucap,
"Elliot—?!" Namun tertahan.
"Hah~" Terdengar Kian membuang napasnya gusar. Wanita itu mendongak, maniknya bertabrakan dengan mata majemuk milik Elliot.
"Berhenti menangis," ucap Kian malah membuat makhluk besar itu semakin sedih. Titikan air matanya bertambah banyak, benar-benar seperti hujan; imbasnya malah mengenai sosok Kian. Pakaian wanita itu basah, warnanya mulai menerawang. Wajah jengkel kian tampak. Hal ini membuat Elliot menjadi takut.
Tak rela di banci. Si besar dan manja ini ingin di cintai, oleh satu-satunya sosok yang bertahta didalam hatinya. Kian. Ratu dari Elliot.
"Percayalah pada ku, jangan membenci ku sayang..." ungkap Elliot takut. Saat ini Kian benar-benar tak tahu, dia tampak seperti menjadi sosok jahat untuk Elliot. Harus bertindak apa lagi dalam menghadapi lelaki ini?
"Huh~"
Aku pasti akan menyesali ini suatu hari nanti.
Kedua tangan kecil milik Kian terbuka, Elliot menatap penasaran diantara genangan air mata. Untuk apa wanitanya merentangkan tangan dihadapan makhluk tersebut?
__ADS_1
Lama terdiam dan tidak mendapatkan tanggapan, Kian mendengus kesal.
Ia memberi isyarat kepada sosok Elliot, manik makhluk itu berbinar. Cepat-cepat dia mengubah wujudnya menjadi manusia lalu jatuh tepat kedalam pelukan sang pujaan.
Hug~
"Untuk kali ini saja ku membiarkan kau memeluku sepuasnya," bisik Kian berhasil membuat hati Elliot berdebar.
Sangat kencang hingga rasanya ingin meledak.
DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG! DEG!
Ah~
"Aku mencintai mu," sahut makhluk itu pelan serupa dengan bisikan.
Mungkin saja, awal baru akan dimulai.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1