
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...D o m p e t...
..._________________________...
...____________...
..._____...
..._...
Davian merasakan tubuhnya terbawa seretan Eva menjauh dari lilitan tangan Layla. Dengan tampang polos Davian menatap bingung kearah Eva, apa yang dilakukan wanita ini disini? pikirnya aneh.
"Apa-apaan si jala*ng ini?" ucap Eva kasar mengejutkan Davian. Telinga laki-laki berkacamata itu terasa gatal saat mendengar umpatan dari mulut seorang wanita, ditambah pergerakan impulsif dari Eva membuat Davian geli luar biasa. Bisa-bisanya wanita yang baru Davian kenal beberapa jam itu berani merangkul manja lengan miliknya tanpa beban. Ada apa dengan para wanita sekarang ini, lebih agresif dari yang Davian ingat.
Layla menampilkan wajah tak suka sambil melihat dari kepala hingga ujung kaki wujud Eva, wanita yang merupakan teman masa kecil Davian itu berucap—
"Kau yang apa-apaan nona, menyeret kekasih orang seenak jidat?!" ucapnya gondok. Kali ini mata Davian beralih menuju Layla, apa yang baru saja wanita itu ucapkan? Kekasih? Siapa? Davian? Belum mencerna sepenuhnya situasi Davian malah di buat melotot lebar saat tiba-tiba wajahnya dipaksa berpaling dengan tangan kecil milik Eva.
"Kau kenal dia sayang?" tanya Eva lembut dengan nada cukup keras hingga Layla dapat mendengarnya. Davian menatap dalam manik wanita yang tengah membingkai wajahnya dengan tangan sebelum memberi jawaban.
"Ku rasa... tidak." sahut Davian. Eva tersenyum, dia menoleh kearah Layla dengan sorot mata merendahkan, wanita itu kembali buka suara.
"Kau dengar nona, ku rasa kekasih yang kau maksud itu tidak mengenali mu... jadi biarkan aku mengambil kekasih ku dari jala*ng gila yang tidak bisa membedakan yang mana kekasihnya dengan kekasih orang lain... hehe..."
Owh! Pedas sekali. Eva memberikan kalimat menusuk dengan nada canda yang benar-benar mengerikan kearah Layla. Davian bahkan ingin tertawa ketika melihat teman masa kecilnya itu tertunduk malu dengan wajah geram. Menengahi pertengkaran antar wanita Davian akhirnya ambil tindakan, lelaki itu bersuara memecah ketegangan diantara mereka.
__ADS_1
"Boleh aku pergi sekarang nona? Karena kekasih ku sudah menjemput ku..." ujar Davian kian memberi minyak diatas bara api milik Layla. Tanpa berucap sepatah kata Layla memilih berbalik pergi dengan wajah sebal, meninggalkan Eva bersama Davian yang menahan tawa sedari tadi.
Saat sosok Layla benar-benar hilang dari pandangan baru lah Davian tertawa lepas, wanita yang dia kenal dengan sifat licik dan ambisiusnya dipermalukan oleh Eva. Sungguh luar biasa.
"Itu sungguh hebat, haha... seharusnya ku abadikan momen tadi..." bisik Davian sambil menyeka air mata jenakanya. Usai menertawakan harga diri dari Layla lelaki berkacamata itu lalu menoleh kearah Eva yang kebingungan karena Davian tertawa sendiri tanpa mengajaknya.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" tanya Davian penasaran atas acting yang dilakukan Eva. Perlu waktu beberapa detik Eva mencerna maksud dari ucapan Davian hingga akhirnya wanita itu paham, Eva mengangkat bahu acuh seraya melepas tautan tangan miliknya lalu berkata;
"Entahlah. Aku melihat mu kesusahan dari kejauhan, wanita tadi seperti membuat mu risih..." ucap Eva seadanya. Davian salut dengan kepekaan dari wanita ini, dia hebat.
Omong-omong soal itu Davian jadi penasaran, apa yang di lakukan Eva disini? Davian menoleh dengan wajah penasara kearah wanita yang masih menggunakan pakaian sama seperti terakhir kali dia lihat.
"Terima kasih atas bantuan mu; menjauhkan wanita tadi... tapi apa yang kau lakukan disini? Jarak apartemen dengan tempat ku bekerja cukup jauh, ini bukan kebetulan kan?" ujar Davian penasaran. Sambil mulai melangkahkan kaki lelaki berkacamata itu menunggu jawaban dari wanita disampingnya.
Gurat canggung tampil di wajah Eva, wanita itu terkekeh hambar sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ish~ aku tersesat, hehe..."
Davian menghentikan langkah, matanya menatap datar wajah Eva sambil menunjukan raut muka 'kau pikir aku percaya?' melihat itu membuat Eva bergerak gugup.
"Tidak-tidak! Sejujurnya aku—lapar." cicitnya dari suara lantang hingga tak bersuara. Masih dalam diam Davian menunggu Eva menjelaskan sendiri maksud dari kalimat rancu miliknya.
Wajah polos itu kembali muncul, Eva benar-benar sederhana dalam mengekspresikan suasana hatinya.
"Kau bilang untuk mendatangi lantai atas kan tuan saat sarapan tadi, aku sudah mendatanginya tapi itu hanya apartemen kosong tanpa penghuni... lalu aku kembali dan menunggu mu sesuai rencana; malah kaunya tak kunjung datang. Itu membuat ku lelah dan lapar." jujur Eva apa adanya Davian yang mendengar berkerut bingung, tadi pagi saja wanita ini dengan berani memonopoli dapurnya untuk membuat makanan tapi kenapa dia malah mengadu lapar padanya. Sebelum melayangkan komentar Eva berhasil memotong niat Davian untuk bicara, lelaki itu akhirnya memilih diam seribu bahasa dengan telinga yang memperhatikan setiap untaian kata dari wanita periang disampingnya; menunggu Eva selesai bicara.
"Karena bahan makanan mu habis tuan dan aku belum makan siang-malam aku memilih keluar untuk mencari makan tapi malah berakhir diusir karena tidak memiliki uang. Setelah itu aku ingin pulang ke apartemen mu tapi malah tersesat—dan... beginilah akhirnya... haha!"
Haha dengkul mu?!
Davian berwajah tak percaya, apa yang baru saja dia dengar membuat Davian menghela napas gusar. Lelaki itu mengangkat tangannya menuju pelipis, di memijitnya kasar area sana sambil melayangkan pertanyaan pada Eva.
"Apa maksud mu 'bahan makanan ku habis' Eva?"
Itu stok untuk satu minggu dan Davian baru mengisi kulkasnya kemarin tidak mungkin semua benda itu raib begitu saja.
__ADS_1
"Iya!" sahut Eva semangat. Wanita ini tidak menyadari rasa jengkel Davian rupanya.
"Bahan makanan mu memang habis tuan untuk sarapan kita pagi tadi"
Krak!
Davian tersenyum simpul dengan manik berkaca-kaca, sepertinya urat waras lelaki itu baru saja putus. Dia merasakan ulu hatinya dicabik brutal oleh kenyataan, pantas saja menu sarapan pagi tadi sangat banyak ternyata wanita itu menghabiskan semua persediaan bahan makanan milik Davian. Hiks... hiks... bisa stress Davian kalau begini.
"Haha," tawa sumbang Davian tiba-tiba terdengar. Sepertinya lelaki itu perlu berbelanja lagi untuk minggu ini tapi sebelum itu mari tangani wanita disampingnya ini dulu.
Buat dia agar bisa berjumpa dengan keluarganya atau Davian akan bangkrut karena menampung wanita asing yang lupa ingatan dengan sifat jahat ini.
Huh!
Davian menoleh, dia mengambil tangan Eva dengan pandangan kosong. Lelaki itu benar-benar tersenyum ramah dengan wajah munafik, dia lalu berkata kepada Eva—
"Eva, mari ku antar kau ke kantor polisi..." ucap Davian pilu meratapi isi dompetnya.
Mari mulai misi menendang keluar wanita ini sebelum dompet Davian kering!
Haha |
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1