
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________________...
...S i s i...
...__________________________________...
..._______________________...
..._____________...
...______...
...__...
..._...
Apa yang dia oceh-kan? Tatap Davian dingin. Suara Reva terdengar mirip kaset rusak dengan decitan mengganggu. Gendang telinganya jadi gatal.
Davian mengayunkan sedikit jemari tangannya, bola-bola hitam bermunculan. Samarkan wujud kalian, bisik Davian melalui telepati. Benda-benda itu berubah seperti kabut, mulai bergerak menuju arah yang Davian tentukan yaitu leher Reva.
Mereka menyerap oksigen disana; terlihat tanda-tanda Reva mulai mengantuk, gadis itu menguap pelan lalu terpejam. Davian yang memperhatikan itu berkilat tajam, entah bagaimana situasi berubah. Aura hitam berkumpul menjadi satu, menelan setiap jengkal ruangan sedangkan Davian tiba-tiba merubah posisinya menjadi mengkungkungi Reva.
__ADS_1
Davian menggeram, manik hazelnya bergetar menatap lekat wajah damai gadis dibawahnya.
"Tarik, tarik lagi kata-kata mu Reva" desis Davian. Bola mata hazelnya kehilangan warna, digantikan corak keemasan penuh cahaya. Tangan Davian menuju surai-surai milik Reva—membawa beberapa helai untuk diberikan sebuah kecupan lembut.
"Jika aku tidak menidurkan mu, apa kau akan terus melanjutkan kata-kata itu? Apa maksud mu dengan kalimat 'apa boleh buat?' mudah sekali kau menerima candaan tuhan! Tapi kenapa?! Kenapa kau kebingungan dalam menjawab pertanyaan ku?! KENAPA REVA! KAU ANGGAP AKU APA?! JANGAN BICARA OMONG KOSONG, PERSETAN—APANYA YANG NYAMAN?!" maki Davian lantang, tangannya bergerak menuju dada. Laki-laki itu mencengkeram kuat bajunya hingga kumal.
Kau menganggap ku sebuah hiburan bukan?
Reva! |
Tes...
"ARGHH!" jerit Davian bersama ribuan kristal bening yang meluncur bebas dari kedua pelupuk matanya. Dia tak tahu, kenapa bisa benda itu tiba-tiba keluar tanpa seizinnya bahkan dibarengi rasa sesak luar biasa. Lehernya seperti dicekik, secuil oksigen pun dilarang masuk ke-paru-paru.
Layaknya bayi, Davian meraung sedih. Perasaannya campur aduk, dia marah, dia kecewa, dia—
Dengan bola mata keemasan yang terlihat sedih Davian menatap wajah Reva, tangannya gemetar bergerak kearah lekuk tubuh gadis itu. Direngkuhnya pelan pinggang kecil Reva, lalu dibawanya dalam sebuah pelukan.
Hug~
Davian menyembunyikan seluruh wajah miliknya ditengkuk Reva, leher mulus gadis itu banjir air mata. Davian memeluk Reva erat—seakan-akan dia ketakutan kehilangan gadis yang ia cintai.
Tak boleh, Reva takdir ku. Dia milik ku.
Gumamnya tanpa suara seperti sebuah mantra, ini adalah salah satu hal yang paling Davian benci. Seharusnya dia tidak menerima 'perasaan' ini, seharusnya Davian lebih berusaha menyangkal dan mendorong Reva menjauh. Padahal baru kemarin Davian berlapang dada, berharap pada 0.5 persen kemungkinan—tapi inilah kenyataan.
Kenyataan yang tak seindah dongeng-dongeng kebanyakan.
"Tidak! TIDAK!" Davian berteriak—menyangkal isi pemikirannya. Tidak bisa. Karena sudah terlanjur seperti ini, akan lebih baik untuk mempertahankannya; bukan?
__ADS_1
Y-A !
"Benar, aku cukup membuat Reva terus berada disamping ku—" ucap lelaki itu sendirian.
"—tak peduli bagaimana perasaannya."
...***...
"Davian~"
"Argh?!" Davian mengerang tak suka. Dia berpindah posisi, Reva yang melihat itu menyilangkan kedua tangannya ke dada seraya membuang napas panjang.
"Davian? Bangun!" panggilnya lantang bernada perintah. Davian yang terkejut membuka matanya, lelaki itu meringis sakit. Selain berteriak tepat digendang telinga; Reva juga menjewernya.
"Ah~ sakit Reva?! Lepaskan! Hiks..." pinta Davian. Telinganya bisa lepas jika begini, manik hazel itu berkaca-kaca. Reva yang melihat memilih melepaskan tangannya dari daun telinga Davian, gadis itu kembali menyilangkan tangan ke dada. Ditatapnya jengkel wajah baru bangun tidur Davian
"Cepat bangun! Kita bisa terlambat kuliah Davian?!" kesal Reva.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih....
...Bye...
...:3...
__ADS_1