
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________________...
...I c e - C r e a m...
...___________________________...
..._______________...
..._______...
..._...
"Kakek?" ucap Eva membuyarkan pikiran kakek Davian, lelaki tua itu teralihkan—menatap wajah polos milik Eva. Sebenarnya apa yang terjadi? Reinkarnasi? Itu mustahil! Perlu setidaknya 100 tahun jika ingin terlahir kembali, itu pun kalau 'sang Kehendak' mengizinkan kalau tidak reinkarnasi tak mungkin bisa terjadi. Lalu siapa yang berada tepat dihadapan lelaki paruh baya ini? Arwah 'kah atau Hantu?
"Kakek?" kali ini bergantian Davian yang memanggil, dia cukup kaget saat kakeknya itu menyingkirkan tubuhnya menjauh dari Eva. Agak kasar tapi abaikan dulu itu, omong-omong kenapa kakek Davian seakan tertarik dengan kehadiran Eva? Apa yang dilihat lelaki tua itu dari sosok wanita muda ini sampai-sampai dia menampilkan wajah serius luar biasa, penampilan? Atau kekuatan uniknya? Entahlah. Davian bahkan diabaikan.
Melihat tangan renta berkeriput itu semakin bernafsu menjepit pipi Eva membuat Davian jadi kesal; agak cemburu sih tepatnya. Lelaki dengan bingkai kacamata diwajahnya itu menghela napas gusar, tangan panjang miliknya terangkat—bergerak menuju bagian belakang dress Eva lalu menarik wanita itu menjauh dari sang kakek yang terlihat agak mesum.
"Bisa kakek jauh-jauh?" ucap Davian sinis, watak aslinya muncul meski sudah dicoba untuk menahannya tapi tetap saja. Kakek Davian tidak berkomentar, dia hanya menatap dari atas kebawah—seakan menganalisa sesuatu. Beberapa menit dalam keheningan, lelaki tua yang menampilkan gestur berpikir itu lalu tiba-tiba tertawa senang.
Orang-orang disana pasti tengah bertanya-tanya 'ada apa?' dengan kepala keluarga utama. Kenapa beliau tiba-tiba tertawa?
"HAHAHA! Bisa kenalkan kakek dengan pacar baru mu Davian?!" ucapnya membuat seisi ruangan melotot tak percaya termasuk sang pemilik nama; Davian.
Sepertinya kakek tua itu sudah gila.
"Kenalkan kek! EVA! ISTRI DAVIAN?!"
Dan sepertinya lagi wanita disamping Davian ini juga ikut gila, Davian menepuk jidat. Bisa-bisanya wanita itu malah bicara yang tidak-tidak dengan wajah ceria. Bikin sakit kepala saja, meski sebenarnya Davian agak senang mendengarnya—sedikit! Tidak banyak! SUMPAH?!
__ADS_1
Hehehe |
...***...
Davian memijit pelan keningnya, lelaki itu beberapa kali terdengar menghela napas panjang dari sela bibirnya. Sesekali suara berisik dari Eva mengganggu daun telinga Davian tapi berusaha lelaki itu abaikan karena malu.
Bagaimana bisa Eva makan es krim dengan cara seperti itu, batinnya tak habis pikir. Banyak krim cair memenuhi pinggiran bibir hingga ke hidung, kekanakan sekali. Tapi terlepas dari itu semua Davian cukup bersyukur karena mereka bisa bebas dari keanehan yang terjadi di kediaman utama tadi. Jika kalian tahu kegilaan Eva bersama sang kakek seperti apa?! Itu mengerikan bahkan Davian tidak bisa menggambarkannya lewat kata-kata, kedua orang aneh yang entah bagaimana bisa cocok itu berbicara hal tak masuk akal—membuat keributan soal pernikahan atau sejenisnya dengan Davian yang menjadi tokoh utamanya.
Gila 'kan?! Kenapa juga kakeknya mau ikut-ikutan berekspresi senang saat diajak bicara oleh Eva.
"Huh!"
"Mau Davian?"
"Tidak." sanggah Davian cepat saat wanita itu menyodorkan cup es krim yang isinya sisa setengah. Oh ya jika kalian pikir Davian berhasil membujuk Eva pergi keluar dari kediaman ditengah-tengah keasikkan bersama sang kakek dengan jalur damai, maka kalian salah. Perlu drama panjang supaya berhasil membawa Eva angkat kaki dari kediaman utama, hah~ ini melelahkan.
Dengan iming-iming dibelikan es krim, barulah Eva mau mengikuti Davian pergi dari sana. Lelaki itu rasa dia sudah cukup disana dan tidak ada lagi urusan yang mengharuskan dirinya untuk bertahan; kecuali sang kakek yang tidak ingin melepaskan Eva. Ya walau begitu... sebenarnya ada beberapa hal yang ingin Davian tanyakan ke kepala keluarga utama tapi lelaki itu rasa kalau ini bukan waktu yang tepat. Mungkin lain waktu.
"Yakin tidak mau Davian?" tanya Eva sekali lagi, membuyarkan pikiran dari lelaki berkacamata yang duduk tepat diseberang meja. Davian menatap hampa cup es krim yang isinya sudah tidak ada, dalam hati Davian berucap—jangan menawari ku sesuatu yang sudah kau makan habis!
"Tidak." sahut Davian sopan sambil menampilkan senyum andalan miliknya. Eva meringis, dia tahu kalau Davian sedang kesal dengan tingkah wanita itu; tak ingin memperkeruh suasana hati Davian wanita yang bernama Eva ini mengalihkan pandangan acuh lalu membersihkan setiap sudut wajahnya dari krim cair dengan lengan dress yang dia kenakan.
"Jo–" ucap Davian sedikit tertahan, Eva yang mendengar suara menoleh. Wajahnya bersih dari noda.
Dengan tampang bingung dia menatap Davian, menunggu lelaki berkacamata itu untuk meneruskan ucapannya.
"Jorok!"
Wajah Eva menjadi datar, apa yang baru saja wanita itu dengar? Bahkan Davian selaku pelaku utama yang mengucapkan kata itu terkejut, spontan dia menutup bibirnya karena shock.
Mampus!
Sial.
"Maaf Eva aku tidak bermaks—!"
Bugh!
__ADS_1
Tulang kering Davian merasakan sakit, lidah lelaki itu pun ikut tergigit. Davian tidak mengira kalau wanita yang berada tepat didepannya ini akan menendang kuat kakinya tanpa aba-aba—sial, ini sakit sekali. Jerit Davian dalam hati sampai matanya ikut berair.
"A—aku tidak bermaksud Eva..." ujar Davian setelah rasa sakit sedikit reda.
Eva terlihat mengacuhkannya, wanita itu membuang pandangan kesembarang arah; enggan menatap wajah Davian.
"Ish!" Davian mendesis lelah, lelaki itu menyeka surai rambut yang menghalangi wajahnya. Lagi-lagi mereka bertengkar karena hal remeh, hah~ lama-lama menyebalkan juga tapi ya bagaimana lagi. Davian orangnya cukup tajam kalau berucap sedangkan Eva terlalu kekanakan dalam sikapnya. Combo yang aneh.
Seperti pasangan saja.
"Maafkan aku Eva..." ucap Davian gusar, ayo lah~ berhenti marah wahai kaum wanita.
Davian memasang wajah memelas, dia bahkan menopang dagunya imut dengan kedua tangan—berharap Eva menaruh sedikit perhatian pada usaha yang Davian lakukan. Tidak sia-sia, Eva melirik sebentar. Lelaki itu lalu tersenyum licik, agaknya Davian mendapatkan sebuah ide cemerlang ditengah ketidak jelasan situasi ini.
"Ada yang mau es krim lagi?" goda Davian. Nada bicaranya menyebalkan, Eva kembali melirik sosok lelaki itu. Dia memanggil pelayan yang bertugas.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Saya ingin bayar menu yang sudah dipesan, karena sepertinya sudah tidak ada lagi yang menginginkan es krim~"
Pelayan wanita itu menatap jenaka kearah Eva, dia paham maksud dari perkataan Davian. Pelayan itu lalu mengangguk, dia mengeluarkan catatan untuk menghitung total pesanan dari Davian tapi tiba-tiba Eva menyanggah—
"DAVIAN SATU LAGI! COKLAT VANILA!" teriaknya lantang nyaris membuat jantungan.
Hah! Kau ini?!
Davian menggeleng tak habis pikir. Ada-ada saja. |
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...