
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________...
...T a m p a r a n...
..._____________________...
...__________...
...____...
..._...
Plak!
Wajah Davian dipaksa menoleh kesamping saat tangan kecil milik Eva mendarat tepat di pipinya. Cetakan lima jari membekas disana, Davian meringis ngilu dibuatnya. Wajah marah Eva lagi-lagi muncul kepermukaan, kali ini Davian benar-benar merasa bersalah. Lelaki itu menundukkan kepala, celah bibirnya terbuka—seperti tengah menggumamkan sesuatu. Eva ingin bersikap abai tapi kalimat yang di keluarkan Davian membuat wanita itu mendesis tak suka.
"Maafkan aku Eva, aku hanya bercanda barusan..."
Candaan apa yang memerlukan proses menyakitkan begitu? Rasanya Eva seperti akan mati di setrum tadi. Huh! Menyebalkan.
"Terus ini masih kau sebut candaan?" hardik Eva menunjuk tato diperutnya. Davian mengalihkan pandangan kesana kemari, dia tidak berkomentar atau lebih tepatnya takut untuk berkomentar.
Mata Eva menyipit.
"Batalkan simbol ini Davian." pinta Eva kesal. Lagi-lagi lelaki itu tidak menanggapi Eva, membuat wanita didepan Davian ini melenguh keras. Dia jadi sakit kepala menghadapi tingkah aneh pria kecamatan-an itu, ada apa dengan Davian hari ini?! Dia benar-benar membuat Eva tak habis pikir, perasaan beberapa waktu kemarin lelaki itu masih seperti biasanya.
Eva melirik tajam, Davian memang menampilkan wajah bersalah tapi entah kenapa sikapnya dimata Eva tidak terlihat tengah menyesali perbuatannya sendiri. Seakan-akan Davian senang pada sesuatu yang Eva tidak tahu apa itu. Ah! Lupakan. Eva beranjak dari duduknya, Davian yang melihat bergerak panik.
Mau kemana wanita itu?! pikirnya gelisah.
"Kita perlu ganti baju Davian, bukankah kau bilang kita akan berangkat jam 10 ini?" ucap Eva acuh. Manik Davian berbinar, dia mengangguk mantap sebagai jawaban. Eva merotasi matanya; terserahlah—wanita itu berjalan menuju kamar, tempat satu-satunya ruang mereka untuk tidur.
Tap...
__ADS_1
Tap...
Tap...
Dari kejauhan Davian menatap dalam lengkuk tubuh Eva yang berjalan menjauhi-nya lalu menghilang saat daun pintu kamar didepan sana perlahan tertutup. Lelaki itu bernapas lega; kemarahan wanita itu tak pernah lama, sembari menunggu Eva berganti pakaian Davian mengalihkan pandangan kali ini ia menatap lekat jari-jari tangannya.
Apa yang ku lakukan? batin lelaki itu, momen saat dia memasang simbol pada tubuh Eva kembali muncul. Bagaimana bisa Davian bertindak senonoh terhadap Eva; apa yang merasuki pikiran Davian saat melakukan itu? Entahlah, dia juga tidak tahu atau lebih tepatnya tidak mengerti.
Ada suatu gejolak aneh dalam diri Davian, pikirannya juga menjadi kalut lalu percaya atau tidak Davian mulai membayangkan kalau sosok Eva adalah Reva. Bisa saja itu disebut hasrat atau hanya sekedar kerinduan tapi Davian seperti ingin memonopoli Eva yang sedikit punya kemiripan dengan Reva.
Davian tahu simbol pengekang sama saja ingin membuat seseorang menjadi budak tapi Davian tidak menyesali tindakannya. Malah sebaliknya Davian merasa aman karena dia akan dengan mudah mencari tahu keberadaan Eva jikalau wanita itu memilih menghilang dari kehidupan Davian.
Krett...
Terdengar suara pintu yang terbuka, sosok Eva muncul dengan mengenakan dress hitam selutut. Davian ingat pakaian itu; kalau tidak salah lelaki ini yang membelinya ketika ia pulang kantor kemarin. Davian tidak mengira kalau itu benar-benar cocok, Eva jadi terlihat sangat cantik saat mengenakannya.
"Cepat berganti pakaian Davian." pinta Eva. Wanita ini bingung karena melihat Davian yang tiba-tiba melamun setelah kemunculannya, apa ada yang salah dengan pakaian Eva?
Lelaki yang mendapat teguran langsung menyelinap masuk kekamar; bergantian dengan Eva. Aneh. Eva kembali melihat dress yang ia kenakan, barang kali ada sesuatu yang salah tapi tidak ada—cukup normal, batin Eva. Lalu tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar di gendang telinga, Eva terkejut saat tahu Davian sudah selesai berganti pakaian. Cepat sekali.
"Ayo kita berangkat!" seru lelaki itu kembali seperti biasanya.
Tanpa ba bi bu Eva berjalan mengiringi Davian; beranjak pergi dari sana menuju satu tujuan—kediaman utama.
"Apakah itu tempatnya Davian?!" tanya Eva girang. Sangat besar, Davian yang melihat Eva kembali cerita tersenyum senang; dia berucap.
"Iya... selamat datang Eva di kediaman utama orang tua ku."
.
.
.
.
.
Kedua orang asing menjadi sorotan menarik, Layla tampak menunggu gelisah didepan gerbang. Sebuah taksi stop tepat didepan lalu muncullah Eva bersama Davian, tanpa pikir panjang Layla melangkah cepat menuju mereka yang sudah jadi pusat perhatian.
"Kau terlambat Davian!" desis Layla setengah berbisik. Lelaki yang mendapat teguran itu mengangkat bahu tak peduli berbanding terbalik dengan Eva yang sudah menampilkan wajah kesal ketika melihat keberadaan Layla. Eva menyipitkan mata lalu merangkul tangan Davian yang berbalut dengan setelan jas formal.
__ADS_1
"Setidaknya aku hadirkan Layla..." Ringan, benar-benar ringan lelaki itu menjawab. Layla menoleh, dia mendengus tak suka kearah Eva.
"Dan untuk apa kau membawa peliharaan kesini?!"
Mendangar kata yang dikeluarkan Layla sudut mata Eva berkedut jengkel. Apa yang baru saja wanita jala*ng itu sebutkan tentang dirinya? Peliharaan? Siapa? Eva 'kah?
Belum sempat Davian menyahut Eva sudah lebih dulu memotong perkataan miliknya.
Sambil tersenyum Eva menjawab perkataan Layla.
"Dasar sialan, kau ingin aku menggigit mu hingga mati 'kah jala*ng?"
Davian bersiul kecil, Eva kambali menunjukan kepribadian lain miliknya; mulut manis Eva itu mulai berkata-kata kasar. Layla membalas tajam Eva.
"Dasar wanita penggoda."
"Jangan salahkan aku jika aku menggorok leher mu sialan." ucap Eva datar dengan mata melotot. Sebenarnya Davian ingin sekali tertawa, kedua wanita ini benar-benar melakukan perang dingin lewat kata-kata; setidaknya mereka tidak bertindak barbar seperti sebelumnya. Seperti saling jambak.
"Kalian berdua sudahlah..." ujar Davian melerai, kemunculan 3 orang ini sudah benar-benar menjadi pusat perhatian padahal baru didepan gerbang utama. Layla maupun Eva mendengus, mereka membuang muka. Layla memilih berbalik lalu berjalan pergi lebih dulu dari sana diikut oleh Davian dan Eva.
Mari buat kehebohan.
"Sebenarnya siapa dia Davian?"
Davian melirik sebentar lalu kembali menatap kedepan. Bibir lelaki itu terbuka—
"Tak usah cemburu, dia adalah teman masa kecil sekaligus sepupu jauh ku dulu..." terang Davian memberi sebuah jawaban atas pertanyaan Eva. Wanita itu mengangguk paham, dia menatap sekitar. Sekarang sepertinya mereka sudah melangkah masuk menuju area aula.
Seberapa besar kediaman ini? batin Eva yang mulai merasa familiar. Seperti pernah kesini dengan suami ku. |
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...