Crazy Baby

Crazy Baby
Sekutu


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...S e k u t u...


...__________________...


...___________...


..._____...


..._...


Glek!


Zim menelan kuat ludahnya. Kaki dari macan kumbang itu seolah tertancap mati dipermukaan tanah, sosok Davian benar-benar mengerikan. Apa yang harus ia lakukan? Zim sudah terlanjur membangkitkan amarah lelaki tersebut.


Kekuatan aneh mengelilingi tubuh Davian, rasanya seperti makhluk itu menyerap kegelapan disekitar area tempat yang mereka pijak. Sial. Haruskah Zim mengalah? Dari pada melakukan pertarungan singkat tak berarti yang sudah jelas siapa pemenangnya. Itu pasti Davian, mustahil untuk Zim—bahkan untuk sekedar meletakan ujung jarinya ke tubuh Davian. Dari pada itu, sosok Eva jauh lebih penting saat ini.


Gejolak muncul, Davian benar-benar tidak bisa menunggu. Dengan posisi siaga Zim mengambil keputusan.


"BE-BERHENTI! AKAN KU BERITAHU?!" Sela Zim panik ditengah-tengah situasi. Agak memalukan memang, bisa-bisanya Zim kalah dengan manusia satu ini. Tapi kalau boleh jujur Davian benar-benar mengerikan.


Di mata Zim yang merupakan seorang monster, Davian sendiri lebih mirip iblis ketimbang manusia.


Ucapan itu berhasil membuat Davian teralihkan, energi besar dari kekuatan lelaki itu berubah menjadi tenang walau belum lenyap sepenuhnya. Syukurlah~


"Katakan."


Haha, dasar tak sabaran. Kekeh Zim ketika mendengar Davian berujar, lelaki itu hanya menuntut jawaban yang ingin ia dengar bukan yang lainnya. Dasar sialan, dimana dan bagaimana Eva bisa bertemu Davian bahkan sampai terjebak dengan sosok menyeramkan tersebut.


Zim menyimpan kembali pedangnya. Sebelum memberi jawaban pada lelaki itu dia perlu mempersiapkan diri, berada dekat dengan Davian membuat Zim sesak tanpa alasan yang jelas. Namun belum sempat macan kumbang itu berucap sosok Davian tiba-tiba tumbang.


Bugh!


Menimbulkan suara renyah. Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan ada serangan dadakan? Batin kucing itu panik ya meski sepertinya bukan begitu. Kening Zim berkerut, macan kumbang ini lalu mendekat—tepat kearah posisi Davian.


"Pingsan?" Monolognya sendiri saat melihat wujud tak sadarkan diri dari Davian.

__ADS_1


Uu~ menarik.


Kenapa bisa? |


...***...


Suara hujan terdengar gaduh diluar sana. Fenomena itu cukup jarang terjadi namun beberapa waktu terakhir ini hujan merah sering muncul. Aneh, apa penyebabnya? Beberapa orang beranggapan kalau itu semua adalah sebuah pertanda buruk. Meski Zim tidak terlalu percaya dengan takhayul zaman dulu.


Lelaki yang tengah duduk tepat didepan api unggun sesekali melirik kearah sosok Davian. Kapan manusia itu bangun? Batinnya bertanya-tanya.


Seharusnya tadi Zim tinggalkan saja Davian, toh dia tidak memiliki ikatan khusus pada pria itu hingga memberinya alasan kuat untuk menolong Davian. Tapi hati nurani Zim menolak, mengingat kembali sosok dari Eva—Zim jadi tidak bisa apa-apa.


Syukurlah mereka berhasil menemukan gua sebagai tempat persembunyian sementara sebelum hujan. Pokoknya ketika Davian sadar Zim harus menuntut balas—setidaknya macan kumbang tersebut bisa memanfaatkan Davian; dalam menolong Eva nantinya. Tidak buruk juga.


"Ergh!" Terdengar erangan tak nyaman, Zim menoleh. Sedari tadi Davian terlihat mengalami mimpi buruk yang panjang, bodohnya manusia itu tidak mau membuka matanya untuk mengakhiri mimpi buruk tersebut.


Zim melempar beberapa balok kayu kearah tumpukan api. Udara semakin dingin disini, macan kumbang itu perlu mempertahankan bara api-nya atau mereka akan terkena hipotermia nanti.


"ARGH!"


DEG!


Jantung Zim seperti melompat dari tempatnya. Dia melirik kesal kearah Davian, pelaku yang berhasil membuatnya jantungan.


Manik hazel dingin menatap penuh intimidasi kearah Zim.


Sial!


Memangnya kau setan?! Ringis Zim merasa merinding. Dia mengunci bibirnya gugup saat Davian bangkit dari posisi berbaringnya diatas tanah gua. Lelaki bermanik hazel pekat tersebut berjalan mendekati Zim, walaupun dia baru saja bangun Davian mudah menyadari situasi jenis apa yang menimpa dirinya.


Karena terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuatan sepertinya Davian mendapatkan 'dampak' dari kekuatannya sendiri. Itu wajar, sosok lelaki itu selama beberapa waktu terakhir ini bergerak membabi-buta dalam mencari keberadaan Eva. Ia tak lupa momen terakhirnya; sebelum menjadi gila seperti ini.


Kepingan jiwa.


Seseorang bermain-main dengan kepingan jiwa milik Eva. Entah siapa itu Davian tidak tahu, tapi lelaki ini bersumpah—jika sesuatu yang buruk menimpa wanitanya Davian akan dengan lapang dada.


Menghancurkan segalanya.


Dilihat-lihat Zim, si macan kumbang ini tidak terlibat dengan kepingan jiwa Eva—tercium dari aromanya. Makhluk itu juga sepertinya sudah menolong Davian ketika ia kehilangan kesadaran.


"Terima kasih," ucap Davian tiba-tiba. Sungguh berhasil membuat Zim tersentak kaget, tolong berhenti membuat kucing besar itu terkejut? Bisa mati muda dia.


Untuk apa? Zim sebenarnya ingin bertanya tapi ia rasa situasinya kurang bagus. Biarlah, mari abaikan itu dulu dan terima saja ucapan 'terima kasih' dari manusia mengerikan satu ini.


"Katakan, kau bilang kau akan memberitahu ku soal Eva..." tutur Davian melembut. Pantulan api terlihat di manik hazelnya, baiklah Zim harus mulai dari mana?

__ADS_1


Lebih baik berbicara jujur dari pada mendapatkan risiko dari kebohongan. Zim memutuskan memberitahu semua hal yang ia ketahui, soal perpisahan dirinya dengan Eva lalu tujuan sebenarnya wanita tersebut ke tenggara.


"Kristal bertuah?" Beo Davian, Zim mengangguki kecil.


"Ève selalu menyebutnya sebagai batu jiwa tapi benda itu selalu kami panggil dengan nama kristal bertuah atau permata darah."


Giliran Davian memberi anggukkan. Untuk apa Eva mencari benda tersebut? Adakah kaitannya dengan 'jiwa?' Pikir Davian penasaran.


"Benda itu selalu di jadikan perhiasan di istana raja. Selain itu kristal bertuah tidak memilki hal yang istimewa,"


Kecuali jika kau bisa mengolahnya, sambung Davian dalam hati atas perkataan Zim. Sepertinya begitu.


"Lalu beberapa waktu kemudian aku malah mendapatkan kabar yang cukup mengejutkan—setelah perpisahan kami..." sambung Zim, berhasil menarik perhatian Davian. Seluruh fokus lelaki itu kembali teralihkan kepada macan kumbang didepan matanya, manik Davian menatap tajam gerakan mulut Zim dalam diam.


"Manusia lain yang tinggal di istana raja bersama dengan Ratu."


Garis besarnya Davian paham, seperti tebakan Zim—lelaki itu pun curiga kalau sosok Eva lah yang dimaksud disini. Singkat cerita mungkin saja Eva tengah terperangkap atau ditahan di istana raja oleh para Demon. Makhluk paling tinggi juga berbahaya diseluruh daratan dunia bawah. Kenapa bisa berakhir seperti itu? Hanya Eva yang tahu.


"Jadi kau melakukan perjalanan setelah mendengar kabar burung tersebut?" Zim mengangguk, apa yang ia ceritakan benar adanya. Setelah bergerak secepat mungkin menuju timur sosok macan kumbang ini malah bernasip sial, yaitu bertemu dengan mu; Davian.


Lama termenung Davian akhirnya membuka celah bibirnya, hal itu tertangkap langsung oleh daun telinga milik macan kumbang ini. Meski begitu Zim berhasil dibuat melongo karenanya.


"Sepertinya aku harus menghancurkan istana raja..."


Hah?


Dia gila. Tak bisa dibantah lagi, Yups~


DAVIAN GILA.


Nilai Zim seketika.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2