
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________________...
...I n s t i n g...
..._____________________________...
..._____________________...
...______________...
...________...
...___...
..._...
"Hahaha!" tawa Reva terbahak-bahak. Apa itu tadi? batinnya dalam hati. Tak pernah sekali pun melihat Davian tergagap dengan tingkah konyol, menggebrak meja lalu mulai berdalih macam-macam yang bahkan Reva tak mengerti secuilpun maksud tindakan Davian. Lihat, lelaki itu asik berceloteh ria dengan bahasa planet. Wajahnya merah.
__ADS_1
"—anu, tidak maksudku... jika aku bertindak diluar kebiasaan, aku sedang dalam pengaruh ingin kasih sayang? Sejenis itu, kau tahu... eh? Tunggu! Tidak Reva bukan itu maksud ku ARGH—!" Davian menyerah, dia memejamkan mata lalu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. Lelaki bermanik hazel itu mengempaskan tubuhnya; kembali duduk ke kursi meja bar.
Lupakan! Persetan! makinya kesal dalam hati.
Terdengar kekehan renyah milik Reva, gadis itu melanjutkan tugasnya membuat secangkir coklat panas untuk Davian.
Tlak~
Davian mengintip dari sela jari tangannya begitu mendengar suara halus sebuah benda menyentuh permukaan meja bar.
"Satu coklat panas siap..." ucap Reva bernada manis. Rona kemerahan pada pipi Davian berangsur hilang, lelaki itu menjadi sedikit lebih santai dengan keadaan. Tangannya terangkat menuju cangkir dengan pegangan melengkung disisinya. Uap panas bersama aroma khas coklat tercium nikmat di kedua lubang hidung Davian, rasanya luar biasa.
"Enak," gumam Davian usai menyeruput benda itu. Sudut bibir Reva terangkat, gadis itu membawa secangkir lain yang berisi coklat panas untuk dirinya. Gadis itu duduk berhadapan Davian dimeja bar.
"Dari kemarin sikap mu terasa manis Davian." Kekeh Reva, menatap kepulan asap dibibir cangkir. Otaknya mengingat sedikit perlakuan tak biasa Davian yang terasa hangat, tidak seperti biasanya. Lelaki itu berjiwa abnormal dengan tingkah temperamental, sering marah-marah dan kadang menyebalkan.
Tlak~
Davian meletakan kembali cangkirnya. Apa yang diucapkan Reva, mengingatkan Davian tentang semua perlakuan yang pernah lelaki itu tunjukan pada gadis didepannya ini. Sangat biadab, jahat dan kurang ajar—nilai Davian. Lelaki bermanik hazel itu juga mengingat ucapan mertuanya, EHM! Gabriel tempo waktu tentang tingkahnya sendiri.
Manik Davian terangkat. Warna hazelnya pekat menatap rupa milik Reva, bibir Davian mulai terasa gatal. Tenggorokan lelaki itu ingin menyerukan kata maaf tapi Davian terlalu malu untuk bersuara.
"Sama seperti insting buas dimana aku tidak ingin ada yang menyentuh pasangan ku, hal ini cukup normal jika aku bertindak manis untuk dimanja. Itu murni dari respon tubuh, bukan hatiku." ucap Davian tanpa sadar setelah beberapa saat.
"Ah... benar, itu hanya insting rupanya," sahut Reva membuat Davian tersadar. Lelaki itu membolakan kedua matanya. Dia menatap gugup sosok Reva. Gadis itu tersenyum simpul, tampilan manis dimata Davian yang tak pernah hilang biar seribu kali dipandang tapi—
__ADS_1
Rasanya ada sesuatu yang tersayat. |
Entah apa itu.
Hah~
"Boleh aku bermalam lagi?" tanya Davian memutuskan sepihak tanpa berpikir panjang. Ada sedikit nada getir disuaranya, Reva membisu. Dia tidak merespon pertanyaan Davian.
"Aku sangat kelelahan," ujar Davian lagi. Kali ini lelaki itu menundukkan kepala, tak sanggup menatap wajah Reva. Gadis yang melihat semua tingkah laku Davian mulai menggerakan bibirnya. Terdengar kata—
"Baiklah..." dari bibir pucat itu.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, dan comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1