
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih....
...Selamat membaca....
...__________________________...
...A n a k - K e c i l...
...__________________________...
..._______________...
...______...
..._...
"TCH!" Davian berdecih, sosok gelisahnya mengganggu Eni yang duduk tidak jauh dari sana. Sesekali sepupu hazel itu melirik; Davian tengah mengeram gemas—menggigiti kuku tangan. Entah sudah berapa lama dia melakukan kegiatan tersebut hingga kelima jari kirinya rusak parah, kini giliran jemari kanan yang di gigit brutal olehnya.
"Bagaimana kakek?!" dengus Davian, selain kesal lelaki itu juga cemas. Dia menatap penuh harap pada sang kepala keluarga, satu-satunya kakek Davian menoleh. Lelaki tua itu sedari tadi mencoba menenangkan sang cucu kesayangannya tapi Davian malah semakin gelisah.
"Ayah mu akan kemari, bersabarlah Davian..." Hanya itu yang bisa lelaki tua ini katakan. Tak perlu menunggu lama Kevin—ayah dari Davian akhirnya muncul bersama Adam, kakak kedua hazel. Melihat figur sang ayah Davian seperti kesetanan; beranjak dari tempatnya mendatangi Kevin.
"Ayah!—" seru si bungsu. Adam yang bekerja dengan Kevin terpaksa mengikuti lelaki itu kemari gara-gara panggilan mendadak dari sang kakek, ada hal penting dan mendesak katanya tapi yang Adam lihat saat ini hanya rengekkan menyebalkan dari wajah adik manja-nya. Ya, tak salah juga sih jadi penonton; akhir-akhir ini si jenius Davian banyak bertingkah. Dia terus-terusan merepotkan semua orang.
Bersama Eni, Adam menyaksikan Davian dari kejauhan.
"Ayah bisa buat replika kejadian setengah jam yang lalu di kediaman Reva?" ucap Davian meminta tolong pada lelaki itu. Kevin sebenarnya ingin bertanya lebih jauh, tapi dia merasa firasat kurang tepat sekarang ini. Tanpa basa-basi lelaki itu mengabulkan permintaan anak bungsunya.
Salah satu kemampuan dari Kevin adalah 'membuat ulang' kejadian meski dia tak pernah sekali pun menonton secara langsung perisitiwa tersebut, Kevin memiliki mata dimana-mana bahkan dalam tidur dia bisa melihat segalanya.
Seperti di rangkum dalam sebuah film, mereka yang ada di sana menyaksikan keadaan sekitar berubah menjadi persis layaknya di rumah Reva. Pada satu menit pertama tidak ada yang aneh ataupun salah—kakek Davian, Kevin, Adam, Eni maupun si hazel masih menyaksikan kegiatan sarapan pagi Davian di dapur lalu kemudian sosok Reva mendatanginya.
Srett—!
"Kemana kau pergi Davian?" tanya sang kakek ketika melihat cucu bungsunya itu tiba-tiba berdiri dengan wajah memerah malu. Sama seperti lelaki tua ini; Eni, Kevin dan Adam juga penasaran tapi sepertinya para pria disana mulai menyadari sesuatu. Jika saja suasana mendukung mereka pasti menggoda si bungsu tapi sayangnya tidak. Lebih memilih serius mereka diam menyaksikan seluruh reka adegan yang terpampang jelas didepan mata.
.
__ADS_1
.
.
Langkah kaki seseorang samar terdengar dari kejauhan, wajah Reva tampak biasa-biasa saja; mungkin dia menganggap kalau pemilik langkah tersebut adalah Davian. Gadis itu melirik ke-meja bar, makanan diatas piring tergeletak mengenaskan bekas di tinggalkan si empunya ke kamar mandi.
"Haha~" Reva terkekeh lucu—menanggapi tingkah Davian yang masih mengganggu pikiran gadis pemilik kelam itu.
Tap~
Semakin terdengar jelas, Reva ingin menoleh; menyambut Davian dengan wajah gembira namun tiba-tiba tangan besar menyambar dari arah belakang, gadis bermanik kelam itu tersentak agak familiar dengan sepasang tangan tersebut. Dia mencoba berbalik meski sayang—terlambat, sebuah sapu tangan sudah menyumpali mulut juga hidungnya.
"ERHM?!" Reva memberontak kaget. Maniknya bergetar horor, sapu tangan itu menekan kuat—aroma lain tercium; merambat masuk dari rongga hidung milik Reva. Apa ini!
Obat bius 'kah?
Menyadari hal tersebut membuat Reva menggeliat gelisah, cengkeraman lain menahan pergerakan gadis itu. Reva berharap Davian muncul menolongnya tapi usaha yang ia lakukan berakhir sia-sia karena aroma kuat obat bius itu memanipulasi otak, tubuh juga kesadaran; semuanya melemah perlahan Reva merosot jatuh—dalam sebuah pelukan hangat sang kegelapan.
Bayangan Josan terlihat sebelum mata gadis itu terpejam.
.
.
.
Krak?!
Davian menatap bengis seluruh reka adegan singkat itu, kuku ibu jari lepas akibat gigitannya sendiri. Eni bergidik ngeri, tingkah Davian mengingatkannya pada seseorang. Darah segar menitik jatuh kearea lantai, semua orang disana menunggu keputusan apa yang akan di buat oleh Davian. Lelaki bermanik hazel itu diam cukup lama, otaknya berkenalan memikirkan banyak hal.
Seharusnya kau tidak menyempurnakan tanda! Gara-gara hal itu kau tidak bisa merasakan keberadaan Reva?!
SIAL!
Lelaki itu mencoba terhubung dengan istrinya tapi gagal, keberadaan Reva seakan hilang dari radius jangkauan Davian. Bahkan Davian tidak bisa memanfaatkan aura seperti sebelumnya untuk mencari tahu keberadaan Reva gara-gara 'tanda' yang dia buat menghalangi pengaruh negatif.
BODOH SEKALI!
Baru kali ini rasanya Davian menyesali tindakan yang ia buat.
Dia pikir, tital jenius sudah cukup membuatnya jadi sosok yang selalu benar dalam bertindak. Sungguh naif. Davian salah besar kali ini.
__ADS_1
"Kau ingin ayah membantu mu?" tanya Kevin tiba-tiba memecah lamunan Davian, si bungsu menoleh. Wajah tak karuan Davian sungguh sangat mengganggu. Benar, anaknya ini masihlah seorang anak kecil, entah seberapa jenius, mandiri, dan dewasa-nya mereka dalam bertindak—mereka hanya anak-anak yang menirukan tingkah orang dewasa disekitar mereka.
"Ayah akan temukan dia untuk mu, " ucap Kevin serius. Mencengangkan semua orang yang ada disana termasuk sang kepala keluarga utama, kakek Davian.
Tes...
Adam merinding ngeri, hanya dia yang benar-benar terkejut bukan main ketika melihat si bungsu meneteskan air mata lalu mulai merengek luar biasa.
"AAAAAAAA!!! TE—TEMUKAN REVA AYAH HIKS... HIKS... AKU INGIN MENCABIK-CABIK MUKA BAJINGAN SIALAN ITU KAKEK, HUWAAAA?! HIKS... HIKS... AKU INGIN MEMBUNUHNYA!!!"
Davian berteriak lantang dengan nada rengekan kesal, ribuan air mata berjatuhan deras. Davian terduduk lemas menangis layaknya seorang anak kecil yang telah di sakiti hingga ia memilih meraung kuat menumpahkan semua emosi sederhana miliknya. Kevin maupun sang kakek menepuk pelan pucuk kepala Davian sambil tersenyum simpul, mereka menatap dalam si bungsu lalu berkata—
"Baiklah~" mengiyakan permintaan Davian begitu saja tanpa peduli akan resiko apa yang diciptakan si bungsu nantinya.
...***...
"BAGAIMANA BISA!" Reva menyambar cepat selimut didekatnya, membalut tubuh telanjang dengan benda itu sambil bergerak menjauhi Josan.
Lagi-lagi Josan terkekeh. Melihat Reva benar-benar sebuah candu untuk lelaki itu, ya... meski akhir-akhir ini dia tidak bisa dengan damai menyaksikan tunangannya gara-gara pria monster bernama Davian. Mengingatnya saja membuat Josan muak. Huh!
"Kau tahu sayang ku? Aku menderita gara-gara makhluk setengah manusia itu, rencana yang ku buat gagal hanya karena dia... itu menyebalkan, makanya aku memutuskan untuk membawa mu pergi, jadi tidak ada lagi gangguan... benarkan?" racau Josan yang sama sekali Reva tak mengerti, apa maksudnya? Setengah manusia? Davian 'kah? Kenapa dengan lelaki itu? Banyak tanda tanya menggeliat layaknya ulat di dalam kepala Reva. Gadis ini ingin sekali bertanya dan memperoleh kejelasan meski sayang situasi yang menimpa Reva kurang menguntungkan.
Lupakan!
Bukannya lebih baik memikirkan cara melarikan diri dari pria gila didepannya dari pada rasa penasaran?
Coba lihat, kenapa Josan malah menanggalkan pakaian yang ia kenakan lalu mengikis jarak diantara mereka? Sial, firasat Reva buruk sekali.
Bajingan itu ingin melakukan apa kali ini? |
...***...
...T b c ......
...Jangan lupa like, vote, dan comments......
...Terima kasih,...
...bye...
...:3...
__ADS_1