Crazy Baby

Crazy Baby
Selesai


__ADS_3

Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar mendominasi suasana. Ini benar-benar canggung kalau Zim boleh jujur, tidak Davian-nya tidak juga Reva-nya. Sama-sama memilih berdiam diri dalam kesunyian panjang ini. Mereka ibarat 2 orang asing yang duduk di 1 meja yang sama. Isi pikiran kucing besar itu hampir mirip dengan Kian, mau tak mau ia menghela napas panjang.


Hah~


Garis besarnya Kian paham, kisah apa saja yang sudah dilalui kedua orang didepannya. Tentu dengan bantuan Elliot atau tepatnya Kian yang menggasak raja Demon itu untuk membuka gerbang ingatan, jauh lebih mudah dari pada menunggu yang empunya mulut untuk bicara. Hubungan yang sudah jauh dari kata normal, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menerima semua ketidak masuk akalan ini dengan lapang dada. Menormaliasi-kannya.


"Kau tampak lebih dewasa dari terakhir kali aku melihat mu," tiba-tiba ucapan Reva memecahkan keheningan, Elliot bersiul tanpa suara. Sedikit tertarik atas keberanian Reva yang ingin membuka percakapan ditengah kecanggungan. Terlihat Davian menaikan pandangan, membalas tatapan penuh minat yang Reva berikan padanya. Wajah itu, sudah lama sekali rasanya. Pikir Davian seraya menghentikan gerakan tangan yang ingin menyuap makanan diatas sendok ke mulutnya. Lelaki itu meletakan kembali sendok diatas piring, dia membenarkan gestur tubuhnya agar terlihat lebih tegas; sambil berucap.


"Kau terlihat sama saja seperti terakhir kali aku melihat mu." Benar-benar dingin, jika orang normal mendengarnya pasti akan merasa sakit hati karena diperlakukan seperti itu. Zim bertepuk tangan dalam hatinya, sosok Davian selalu berhasil membuatnya bertanya-tanya 'kenapa dia bisa bersikap seangkuh itu setiap hari?' Bagaimana caranya Ève menghadapi Davian? Hingga lelaki itu berhasil berubah sikap menjadi lunak.


Sungguh luar biasa kau Ève. |


Terdengar kekehan hambar, hal ini tergolong momen aneh lainnya yang muncul. Kenapa pula wanita bernama Reva itu malah menanggapi guyon ucapan dingin Davian? Seolah dia sudah terbiasa dengan situasi baku ini.


"Hanya wajah ku saja yang tidak bisa menua," sahut Reva senang; setidaknya Davian mau menjawab penuturan ampas miliknya.


Terdengar hela napas panjang dari kedua belah pihak, ish! Ini menyebalkan?! Komentar Elliot yang memilih bangkit dari duduknya bersama Kian.


"Ku rasa kami selesai," ucap raja pemilik istana lalu menggandeng tangan kecil milik ratu, agar bisa menbawa sosok itu pergi dari ruang makan bersuasana menyedihkan ini secepatnya. Namun sebelum itu Elliot sempat berucap—


"Nikmati makan malam kalian." Lalu benar-benar melenggang pergi dari sana hingga punggung kedua orang tersebut menghilang dari pandangan. Tidak mau ditinggal sendiri Zim ikut berpamitan, menyusul sang raja bersama ratu negeri ini. Menyisakan Reva dan Davian yang terperangkap dalam senyapnya keadaan.


Ketiga orang itu pasti memiliki pemikiran yang sama, mari beri ruang untuk mereka. Agar setidaknya ada 1 masalah terselesaikan; itu akan jadi langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus mereka ambil—entah kembali bergandeng tangan atau 'kah memilih untuk berpisah.


"Jadi? Kau ingin aku bersikap seperti apa sekarang?" Tanya Davian tiba-tiba, Reva menilik dari balik ekor matanya. Wanita yang sekarang memiliki sifat 180° berbeda dari sosok sebelumnya itu menyandarkan tubuh disandaran kursi.


Eva sudah cukup banyak mempengaruhi Davian, sekilas itu terlihat dari pancaran wajah yang lelaki ini tampakkan. Tak masalah, batin Reva.


"Entahlah~" sahut Reva acuh. Ia mendongak, menatap dalam langit-langit ruangan yang begitu menawan. Isi pikiran wanita itu melayang, terpikirkan sesuatu seperti—Gabriel pasti tengah mengamuk saat ini; mendapati sosok Reva yang menghilang dari penjara keabadian.


Hehe.


Davian mendesis, merasa tak suka dengan jawaban Reva. Apa benar sekarang ini hatinya sudah membeku untuk wanita tersebut? Rasanya biasa saja; meski lebih condong kearah muak.


Jujur, Davian tampak seperti tidak ingin terlibat lagi dengan Reva. Cinta atau apapun itu bullshit!


Persetan. |


Omong-omong soal lain, Davian jadi teringat sesuatu; haruskah ia menanyakan pada narasumber langsung? Ha-ha.


"Eva bilang kau mencintai ku?" Tanya Davian bernada rendah, lebih terkesan meremehkan. Hal itu membuyarkan pikiran Reva, wanita bermanik gelap itu tersenyum tipis sambil menopang pipinya dengan kedua tangan diatas meja makan.


"Memang~" jawab Reva gamblang berhasil membuat bola mata Davian melotot tak percaya. Wajahnya memerah, bukan karena malu tapi lebih karena amarah yang menggebu-gebu. Kedua tangan yang berada disisi lain tubuh Davian mengepal kuat hingga buku-bukunya terlihat.

__ADS_1


"Omong kosong macam apa itu?" Geramnya kesal.


"Sejak kapan? Reva yang ku tahu—dia hanya mencintai 1 orang, lelaki bajingan yang merusak tubuhnya."


Deg!


"Tolong jaga ucapan mu Davian." Sela wanita itu dingin. Lihat itu, wajah tersinggung Reva menjelaskan segalanya. Davian tertawa timpang, tiga tahun kepergian Reva membuat Davian banyak mencari tahu masa lalu; hal ini sekadar ia lakukan untuk menutupi luka serta rasa bersalah karena menghantarkan Reva pada kematian—setidaknya sebelum ia mengetahui kalau semua ini adalah permainan takdir yang Gabriel sengaja ciptakan.


"Jangan memanfaatkan aku lagi," tutur Davian dingin. Air matanya titik tanpa alasan.


Sudah cukup, berhenti menginjak-injak sebuah cinta yang memiliki ketulusan murni didalamnya. Davian puas merasakan itu semua dan dia ingin berhenti melakukannya.


"Jangan membuat ku membenci mu," bisik Davian seraya beranjak dari duduknya. Langkah kaki lelaki itu tertahan ketika mendengar Reva bertanya.


"Apa semua ini berakhir?"


Davian menggeleng, celah bibirnya terbuka.


"Tidak, tapi aku yang memilih untuk menyerah."


Satu kata samar setelah percakapan tersebut, permintaan maaf yang terdengar hambar di telinga Davian. Mungkin ada beberapa orang yang tidak menyukai ending seperti ini tapi beginilah adanya.


Keputusan final yang sudah ditentukan.


Jika ditanya—


"Apa kau menyesal sudah memutuskan hal tersebut?"


Davian menggeleng, tidak. Tidak sama sekali.


"Cinta pertama ku memang luar biasa, tapi ingat... nak, itu hanyalah bagian awal dari sebuah kehidupan. Roda akan terus berputar dan kita akan selalu dipaksa untuk melangkah, satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah menerima apa adanya dengan sikap bijaksana. Jika tidak begitu, kau mungkin tak akan terlahir dari rahim wanita yang sekarang ini kau panggil sebagai ibu."


"Antrian nomor 25 silakan~"


Davian mendongak, sekarang adalah giliran mereka. Lelaki itu menunduk, berbisik tepat disamping telinga kecil milik putrinya.


"Ayo..."


Anak kecil dengan rambut dikuncir 2 itu mengangguk, melangkah duluan bersama perawat rumah sakit anak. Davian tersenyum tipis melihatnya, ikut melangkah sebelum terdengar bisikan halus dari arah mulut seseorang.


Memberikan sensasi merinding bukan main. |


"Putri mu benar-benar manis..." nada suara yang begitu familiar. Davian menoleh,

__ADS_1


Reva?


Panggilnya penasaran.


..._________________...


...S e l e s a i...


..._________________...


...________...


...___...


..._...


...Story Reva & Davian (End)...


...+ Eva wkwkwk...


...Terima kasih sudah mengikuti jalan kisah mereka hingga akhir....


...Keseluruhan cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Catatan :...


...Kalian pasti bertanya-tanya, kok bisa berakhir begitu saja?!...


...Enim-pun tak tahu. :")...


...Enim bahkan tidak mengira bisa sampai di titik ini, walau masih banyak hal yang harus Enim pelajari tapi Enim benar-benar berterima kasih pada kalian semua. Terutama yang merasa menikmati jalan ceria Davian & Reva ini, jujur saja sebagai Author Enim bahkan hampir menyerah karena kerumitan plot didalamnya. Masih terlalu banyak plot hole disini dan Enim akan berusaha menyelesaikan masalah itu nanti....


..."Tunggu beberapa Ekstra Chapter dan Side Story lainnya"...


...Hanya disini, bukan lainnya :v Hahaha...


...Ketemu lagi nanti (dilain waktu)...


...Terima kasih,...


...Bye-bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2