Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim 3


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...Z i m...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


Glek!


Zim menelan saliva susah payah. Bagaimana ini bisa terjadi? Batin kucing besar itu bertanya-tanya. Debar jantung Zim terdengar tidak beraturan, seperti suara riuh para penonton yang berada diarea pacuan kuda.


"Husfff..."


Manik hijau terangkat, deru napas panas dari sosok besar yang menindih tubuh Zim menarik perhatian sekitar. Beberapa ada yang menghentikan langkah untuk sekadar menonton saja. Gerangan apa yang terjadi? Tanya mereka pada dewi batin.


Jujur situasi yang menghimpit Zim berhasil membuat kucing besar dari bangsa Mächam itu ketakutan. Bagaimana tidak?! Baru beberapa saat lalu Zim rasanya masih berbincang hangat dengan Vioner, namun siapa sangka—dia; Zim melontarkan kalimat kurang sopan dan mungkin menjurus kearah kurang ajar kepada Vioner.


"Tak ingin bercerai? Suami mu tampak kejam dalam memperlakukan mu nona. Lalu, aku bisa menggantikan posisi suami yang baik untuk mu Vioner~" Sekilas terdengar biasa saja tapi itu berhasil menyentil ego kecil milik Vioner. Laba-laba bermata majemuk itu melotot, menatap tak senang kearah Zim. Baru saja? Apa yang indra pendengaran miliknya dengar?


"Haha—" tawa hambar muncul. Manik indah itu berkaca-kaca, setengah mendesis Vioner berucap.


"Dimana tata krama mu?"


Sebuah ketidak sopanan meminta seorang wanita yang sudah bersuami agar mau bercerai. Entah apa maksud perkataan Zim itu? Kasihan 'kah? Atau prihatin akan nasip Vioner yang di aniaya oleh pasangannya? Omong kosong! Nada suara Zim lebih terdengar seperti ajakan 'mari kita berselingkuh, aku lebih baik dari pada suami mu'. Hal ini menyulut amarah dari laba-laba betina itu. Perasaan jengkel menumpuk luar biasa didalam hatinya. Tangan Vioner mengepal, menunggu jawaban dari Zim atau paling tidak sosok kucing besar itu menyadari kesalahan ucapan miliknya.


"Apa yang ku ucapkan itu salah nona?"


Deg!


Ternyata tidak. Tanpa sadar wujud Vioner berubah menjadi laba-laba raksasa, derunya napas terasa lebih berat dengan tudung jubah yang terkoyak habis. Ini adalah jawaban dari situasi diatas, berakhirlah Zim di posisi terhimpit seperti itu.

__ADS_1


Bahkan ia sempat terjungkal jatuh, belakang tubuh Zim menghantam permukaan tanah. Tepat didepan manik hijau Zim menyaksikan pandangan penuh intimidasi; mata itu—sama seperti sebelumnya ketika Zim pertama kali bertemu dan bertarung dengan Vioner. Sebagai petugas medis istana kekuatan laba-laba raksasa tersebut tidak bisa dianggap remeh, Zim ingat dia berhasil dibuat kewalahan dalam pertarungan satu lawan satu dengan Vioner.


"Tentu," ucapnya gantung. Mendesis tak tertahankan, lagi-lagi Zim dibuat menelan salivanya kasar. Dia menatap ragu manik majemuk itu, menunggu sang empunya untuk bicara.


"Tentu saja ucapan mu itu salah, tarik kembali atau ku cabik-cabik tubuh mu hingga hancur... Tuan Zim?"


Macan kumbang bernama Zim ini membuang muka, dia merasa enggan melakukan permintaan nona muda yang sedang menindih tubuhnya dengan badan raksasa tapi karena ditekan oleh perasaan takut; agar tidak dimangsa sesuai insting Zim mau tak mau mengucapkan kalimat itu.


"Maaf, ku tarik lagi perkataan konyol ku. Puas?" Seperti mendengar suara bocah yang tengah merajuk, Vioner sejenak terkekeh dalam batinnya melihat keterpaksaan penuturan Zim lalu merubah kembali wujud menjadi semula. Sosok anggun dan juga—?


Tanpa pakaian?


BLUSH!


Zim melongo sebentar sebelum bergerak panik, melepaskan baju atasan miliknya lalu menutupi tubuh makhluk betina didepan mata dengan benda tersebut. Pandangan penasaran dari beberapa orang berubah menjadi setengah menggoda, menyadari hal tersebut Zim menggeram kesal kearah mereka.


ENYAH KALIAN!


Sorot mata hijau itu berucap demikian hingga sekelompok orang itu memilih untuk bubar. Atmosfer tidak semengerikan sebelumnya, Zim memang takut tapi dia hanya mengikuti insting dasar monster yang harus tunduk dengan tingkatan makhluk yang lebih kuat dari pada dirinya. Respon alami, bukan karena benar-benar takut.


Terdengar seperti beralasan. |


"Terima kasih," berbeda dari yang tadi, nada suara Vioner seketika melembut. Zim menunduk; menatap sosok yang tanpa sadar ia rangkul dengan kedua tangannya agar bisa menutupi wujud seksi laba-laba itu.


"Maafkan aku!" Seru Zim tulus sambil menunduk malu. Lagi-lagi Zim bertingkah konyol tepat didepan Vioner. Tapi mengingat percakapan sebelumnya senyum simpul wanita itu luntur. Dia perlu menegaskan lagi kepada sosok macan kumbang tersebut.


"Maaf aku berlaku kasar pada mu Tuan Zim, tapi perkataan yang kau lontar menyakiti hati ku. Mungkin kau merasa iba terhadap ku, namun bukan berarti kau bisa menghina suami ku. Aku tahu dia bersikap kasar dan kurang ajar, tapi aku mencintainya." Begitu katanya, macan kumbang itu membatu. Dia benar-benar tidak bisa berucap apa-apa lagi.


Inikah kekuatan murni dari sebuah perasaan?


Tidak!


Itu terlihat seperti—OMONG KOSONG! Dimata Zim.


Cinta memang tidak berbentuk, sulit untuk dibedakan. Bahkan jika memilih tuk tenggelam terlalu dalam pada lautan yang disebut cinta, itu hanya akan membutakan seseorang.


Disana terlalu gelap, terasa dingin dan juga sepi.


Wush~


Angin dingin menyapu permukaan kulit Zim, bersama dengan Vioner mereka berdua menoleh kearah sumber angin tersebut. Sosok Sebastian muncul dengan wajah datar khas miliknya. Menatap tajam kearah laba-laba betina yang menjabat sebagai kepala petugas medis istana. Wajah Sebastian seolah-olah bertanya-tanya;


Dari mana saja kau? Bukannya berada di istana dan berjaga jika saja ada situasi darurat malah berkeliaran di ibu kota.

__ADS_1


Glek!


Vioner menelan saliva kasar, dia merinding. Setengah membungkuk, laba-laba betina itu memberi salam sopan kepada kepala pelayan utama istana raja sekaligus orang kepercayaan tuan mereka.


"Salam tuan Sebas,"


"Kembalilah ke istana, Ratu mencari mu..." balas Sebastian datar. Vioner mengangguk, tanpa menunggu jenis aba-aba tertentu makhluk berjenis  laba-laba betina itu angkat kaki dari sana, tidak lupa ia berpamitan sebentar dengan sosok Zim sebelum menghilang sepenuhnya dari pandangan mata.


Kini tersisa sosok macan kumbang yang berdiri membatu bersama Sebastian. Sudut bibir Zim tertarik, senyum simpul hadir. Dia menatap canggung kearah Sebastian. Haruskah Zim memberi salam juga? Atau bagaimana?


Belum memulai untuk bertindak Sebastian sudah memotongnya, dia berucap sesuatu kepada macan kumbang tersebut.


"Semoga hari mu menyenangkan Tuan Zim, sampai jumpa~"


Huwah.


Sungguh berhati dingin, setelah mengucapkan kalimat baku itu Sebastian angkat kaki tanpa menoleh kebelakang sekalipun.


Setidaknya dengarkan balasan dari mulut Zim sebelum menghilang.


"Orang-orang yang tinggal di istana apa selalu bertindak seenaknya?" Gumam Zim penasaran. Kecuali Vioner tentunya, wanita itu menjunjung tinggi kesopanan dan juga tata krama.


Benar-benar luar biasa.


Degh!


Debar jantung kembali terdengar, begitu kencang hingga berhasil mengundang rona merah diantara warna gelap tersebut.


Ah...


"Sial~ apa aku sungguh menyukai-nya pada pandangan pertama?"


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2