
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...A d a m...
...__________________...
...__________...
...____...
..._...
"Aku mendengar kabar soal kondisi kakek yang menurun..." ucap Eni. Adam menghentikan kegiatannya lalu menoleh kearah wanita yang sedang duduk di sofa apartemen miliknya sambil memainkan ponsel tentunya. Lelaki itu melepaskan apron ditubuh lalu meletakan benda itu ketempatnya semula di sudut ruangan dapur. Adam terlihat sedikit merapikan pakaian sebelum melangkah duduk mendekati Eni.
"Ya, kau benar Eni... beliau tidak seperti dulu lagi." Sahut Adam mengingat kembali kabar tentang kesehatan kakek Davian, lelaki yang merupakan kepala keluarga utama tersebut.
"—mungkin sebentar lagi akan ada gejolak masalah perihal siapa yang pantas menjadi ahli waris selanjutnya di kediaman utama." Tambah Adam. Lelaki itu melemaskan tubuh disandaran sofa sambil memejamkan mata miliknya. Ada semacam hal yang sekarang ini mengganggu pikiran Adam, salah satunya adalah beberapa faksi yang menginginkan Adam maju sebagai kandidat ahli waris berikutnya tapi jika boleh jujur sebenarnya Adam benar-benar tidak tertarik dengan posisi tersebut, bahkan jatuhnya dia tidak peduli.
Adam lebih senang memikirkan cara bagaimana dirinya bisa menggaet hati Eni lalu menikahi wanita itu secara suka rela. Dari pada harus membangun kelompok dengan keluarga cabang yang ingin melengserkan kedudukan sang kakek dengan memanfaatkan dirinya, ergh... tidak terima kasih. Toh Adam memang tidak cocok dengan posisi tersebut. Masih ada Gedion yang merupakan kakak tertua mereka yang memiliki potensi besar sebagai ahli waris selanjutnya setelah Davian di usir.
Lelaki itu cukup kuat, dari segi kekuatan hingga sokongan.
Lain cerita jika si bungsu memilih kembali ke-kediaman utama lagi, otomatis posisi dan segala hak atas keturunan utama akan jatuh ketangan bocah nakal itu tanpa terkecuali. Namun sayang pengusiran Davian memberi efek yang luar biasa, sedangkan Gedion sepertinya sekarang ini terlilit masalah besar yang membuat dirinya tidak bisa bertindak. Haruskah Adam turun tangan?
Ck! Tetap tidak.
Sekilas dilihat saja semua hal tersebut terlihat merepotkan. Hah~ ini menyebalkan. Sungguh.
"Kau tidak berminat mengambil posisi itu Adam?"
Lelaki yang dibicarakan membuka kelopak mata lalu melirik sebentar kearah Eni. Terdengar jeda sebelum Adam memilih untuk menjawab pernyataan wanita disampingnya ini.
__ADS_1
"Tidak... aku tidak tertarik." Tutur Adam, kembali memejamkan kedua matanya. Tidak ada sahutan dari Eni, mereka terperangkap dalam keheningan sesaat kemudian.
Deg!
Adam tersentak kecil, cepat-cepat dia membuka mata lalu menoleh kearah objek yang berhasil membuatnya terkejut. Eni tampak bosan dengan ponsel ditangannya lalu memilih bersandar di bahu tegap milik Adam, hal itu membuat Adam membeku. Lidahnya kelu, tubuh Adam meremang dingin. Sial, sikap longgar Eni tak pernah berubah—kenapa wanita itu selalu mudah melakukan sentuhan fisik dengan laki-laki disekitar dirinya? Itu berbahaya, laki-laki manapun bisa menyalah artikan tindakan Eni; mereka pasti berpikir kalau 'Eni tertarik' dengan mereka dan itu menyebalkan, membuat Adam kesal saja.
"Sungguh sayang—" komentar Eni menyayangkan keputusan Adam yang tidak ingin terikat dengan masalah rumit seperti ahli waris. Tapi jika mengingat bagaimana kepribadian Adam Eni bisa memaklumi pilihannya. Adam memang pria yang tertutup dan jarang bicara, dia juga tidak terlalu tertarik dengan banyak hal—ini sebabnya Adam tidak disukai oleh beberapa keluarga cabang lainnya karena memang dia sulit untuk didekati ditambah masa lalu pria itu yang cukup kelam.
Eni bahkan tak percaya sosok disampingnya ini adalah sosok yang sama, yang membantai habis seluruh keluarganya dalam waktu semalam.
Eh?
Eni bukan pembenci tapi dia juga bukan tipe pemaaf, jadi Eni tak yakin dengan perasaan miliknya saat ini. Wanita itu rasa semenjak Davian angkat kaki dari kediaman Eni tak lagi memiliki tempat untuk berteduh—selain rentangan tangan terbuka yang dilihatkan Adam padanya. Mau tak mau Eni berlari kesana, berakhir dalam dekapan hangat yang selalu Adam berikan.
Menyedihkan.
Sekarang ini Eni seperti merasakan perasaan aman ketika berada dekat dengan lelaki itu—Adam. Padahal sosok itu jelas-jelas adalah pria paling berdosa yang pernah ada dimuka bumi.
"Owh ya, aku sepertinya mendengar beberapa orang bicara kalau Layla sedang melakukan pergerakan."
"Layla?" Beo Adam tak tahu. Eni mengangguk.
"Ya, kau tahu? Wanita nakal yang selalu menempel dengan Davian. Entah kenapa aku berasumsi dia ingin menarik Davian kembali ke-kediaman utama lagi, kau tahu seberapa liciknya wanita penjilat itu? Sosok paling serakah diantara kita,"
Kurasa.
...***...
Terlihat Adam meninju beberapa slime didepannya. Lelaki ini sekarang sedang melakukan pelatihan malam, Eni pulang beberapa jam yang lalu. Tugas Adam pun sudah lama beres; area netralisir semakin luas gejolak negatif di wilayah yang Adam kelola akhir-akhir ini juga lumayan tenang. Dengan kata lain sekarang adalah waktu luang untuk pria tersebut, namun Adam tidak tahu harus berbuat apa.
Akan jadi waktu yang indah dan menyenangkan jika dirinya melakukan kencan dengan seseorang, ehm! Maksudnya dengan Eni seorang tapi Adam tahu—dia tidak bisa bertindak gegabah lagi, jangan seperti dulu. Tidak sekarang. Wanita itu baru-baru saja mulai mau berdekatan dengan Adam, apa bila lelaki bermanik hazel ini nekat bertindak tanpa pikir panjang masalah akan bertambah runyam.
Hah~ bersabarlah, kau bisa menahannya Adam—sedikit lagi, sebentar lagi. Menahan agar tidak menyerang tubuh Eni lalu membungkam mulut manis milik wanita tersebut dengan bibirnya.
Hihi |
Sial, Adam jadi tegang sendiri. Memikirkan fantasi liar yang sengaja pikiran lelaki itu ciptakan.
Woabm!
__ADS_1
Sebuah slime besar muncul, Adam mengempaskan tubuhnya kesana—membuat benda cair namun bertekstur padat seperti lumpur itu menjadi sofa pribadi miliknya.
Lelaki itu terpejam, merasakan perasaan nyaman sambil berkhayal ria.
"Hah~"
Eni sekarang rutin kemari sekadar untuk makan bersama pria itu, ini sebuah pendekatan yang bagus. Artinya obat racikan milik Adam bekerja dengan baik; mempengaruhi otak Eni. Menciptakan persepsi kalau kesalahan Adam hanyalah 1 yaitu pembantaian bukan pemerkosaan.
"HAHAHA!" Tiba-tiba Adam terkikik geli. Bodoh! Bodoh?! ENI SELALU MUDAH UNTUK DIBODOHI. WANITA ITU!
"Argh..."
Tidak sia-sia lelaki ini bertindak normal dihadapan seluruh dunia. Usahanya membuahkan hasil, Eni kembali dekat dengannya. Adam menjilat bibir bagian bawah; hatinya terasa senang. Ah~
Rasa ingin menyentuh sesuatu muncul dibagian pangkal bawah area paha, sambil memikirkan wajah Eni Adam bermimpi sebuah kisah pernikahan sederhana penuh canda tawa—bersama wanita impian membangun kebahagian.
"Ergh?"
Dan lupa membayangkan imbas apa yang mungkin akan Adam dapatkan karena sikap bejatnya itu.
Sungguh lelaki ini tak lebih hanyalah sekadar seorang penjahat yang terobsesi pada Eni serta sosok yang sepantasnya patut untuk di kasihani. Ck, ck, ck, lagi-lagi dia benar-benar terlihat menyedihkan.
Dasar pengemis cinta.
"Argh~" lenguhnya.
"Aku rasa aku perlu menyewa beberapa jala*ng untuk ku saat ini..."
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...