
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa vote, like dan comments sebagai wujud apresiasi karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._________________________________________...
...T a n p a — S e b a b...
..._________________________________________...
...______________________...
...______________...
..._________...
..._____...
...___...
...__...
..._...
"Nona?"
Reva membuka mata dipanggilan pertama. Dia menatap sang supir yang rela berbalik badan untuk membangunkan. Pemandangan tidak asing terlihat—rupanya Reva sudah sampai dirumah sederhana miliknya.
"Terima kasih..." ucap gadis itu sopan. Sang supir mengangguk sebagai jawaban. Reva lalu turun dari sana; beberapa menit setelah menapaki bumi—Reva lihat mobil itu mulai menyalakan mesin dan beranjak dari tempatnya setelah berpamitan singkat.
Reva membuang napas sejenak. Tubuh terasa lelah. Malas—dia berputar; menyeret kaki-kakinya menuju rumah.
__ADS_1
Setelah mandi lalu tidur, terdengar bagus.
Reva melangkah keteras—membuka pintu dengan kunci, masuk dan menutupnya kembali. Melepaskan mantel; menempelkan benda itu pada tempat seharusnya.
"Hoaaam~"
Mulut Reva menguap lebar. Dia harus cepat-cepat mandi. Pemilik kelam mencoba membuka pakaian yang dikenakannya tapi gerakan tangan gadis itu terhenti.
Kepala yang awalnya menunduk kearah lantai mendongak tiba-tiba. Pria asing bersantai disofa ruangan.
"Lama tidak bertemu Rosè..." ucapnya sambil menyeruput minuman dengan aroma kopi.
Wajah Reva datar. Bagaimana bisa Josan memasuki rumah? Lancang juga ternyata. Perasaan lelah yang hinggap dipunggung Reva sirna, dia melangkah mendekat—duduk disofa tunggal berhadapan dengan Josan.
"Apa mau mu?" Tanya Reva sarkas.
Reva lihat lelaki yang lebih tua 2 tahun itu meletakkan cangkir. Senyum simpul hadir. Manik gioknya melihat Reva seksama.
"Bukannya ibu mu sudah memberi kabar..." sahut Josan basa-basi.
Seingat Reva pesan yang dikirim ibunya bukan berisi tentang kedatangan lelaki giok ini; apa lagi kelancangan dirinya membobol masuk rumah seorang gadis tanpa ikatan apapun.
Josan memanyunkan bibir.
"Kasar seperti biasanya..." komentar lelaki giok tersebut.
Cepatlah enyah! Dewi batin Reva memberontak. Pipi bagian dalam sengaja digigit untuk menahan amarah. Reva sangat tidak suka. Seburuk-buruknya Davian; lelaki dengan sifat temperamen itu jauh lebih baik katimbang Josan.
Josan itu busuk juga licik. Tak ada satupun ingatan baik dibenak Reva perihal dia. Orang ini tidak akan berubah, mau dulu; kini ataupun nanti.
Jangan menyebarkan aura negatif~
Tiba-tiba dengungan kecil terdengar digendang telinga Reva. Dialek dari bahasa yang abstrak berubah jelas; nadanya familiar. Ini suara Davian, tebak Reva.
Stabilkan aura mu~
__ADS_1
Lagi—kembali terdengar. Reva mencoba memahami maksud Davian.
Kau mengganggu jiwa ku~
Maaf, batin Reva. Ternyata pemikiran tentang Josan membuat Reva kehilangan kontrol diri; secara tidak sadar dia malah menyebarkan aura negatif. Reva juga mulai melihat benda-benda hitam bermunculan tak jauh darinya. Gadis itu ingat kalau dirinya terhubung dengan Davian—tak heran lelaki pemilik hazel itu terkena imbas.
"Ku harap kau pergi Josan..." pinta Reva setelah cukup lama mengabaikan pemuda ini.
Wajah cemooh hadir.
Ya tuhan~
Hah...|
"Eh?? Padahal aku ingin lebih lama—"
Omong kosong!
"Bersama dengan tunangan ku~"
"BRAK!" Reva berdiri kasar. Menggebrak meja yang menjadi pembatas antara mereka. Manik hitamnya nyalang.
Seolah siap mencabik apa saja tanpa alasan, Reva benar-benar ingin menerjang—meski sayang sebuah benda hitam tiba-tiba muncul lalu melahap tubuhnya.
WUSH!
Dan seketika menjadi gelap.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa vote, like & comments......
...Terima kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...