Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim 2


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...Z i m...


...__________________...


...__________...


..._____...


..._...


"TIDAK! Itu-itu Bukan begitu! Maksud ku?!" Teriak Zim gagap, wajahnya perlahan memerah.


"A-aku hanya bertanya, anu maksud ku apa kau mau menikah deng—Ku! Eh! Apa kau sudah menikah?!"


Ahh~


Kubur aku dalam lubang. |


Zim menutup cepat wajahnya dengan kedua tangan lalu berjongkok. Harap-harap rerumputan tinggi menutupi sosoknya, bahkan dengan warna bulu gelap—rona merah dipipi masih dapat terlihat. Vioner yang melihat serta mendengar menampilkan wajah keheranan, tingkah Zim lumayan konyol dimatanya.


"Pft!" Terdengar suara tawa yang ditahan, Zim mengintip dari sela-sela jemari miliknya. Sosok Vioner yang duduk tepat diatas hamparan tanah tampak tertawa kecil. Perlahan rona merah diwajah Zim menghilang, ia tertegun ketika melihat begitu indahnya sosok rupawan wanita didepan sana.


Deg!


Jantung kecil milik kucing besar itu berdetak. Sial, apa artinya itu?! Rutuknya dalam hati.


"HAHA-Apa kau sedang mencoba melamar ku Tuan Zim?" Ucap Vioner dengan nada menggoda, lelaki yang dimaksud hanya bisa membuang pandangan acuh. Tak ingin mengiyakan ataupun menyangkalnya.


Seusai tawa singkat, Vioner terlihat menyeka sudut matanya yang berair bekas tertawa tadi lalu memilih menyahuti sosok Zim.


"Maafkan aku Tuan Zim, tingkah mu terlalu lucu. Tapi jujur aku sudah menikah,"

__ADS_1


Krak!


Bagian kecil diarea ulu hati tampak retak. Haha, Zim tertawa hambar dengan senyum simpul yang terpatri manis diwajahnya.


"Ah! Benarkah, maafkan aku. Aku hanya bercanda." Tutur Zim kaku dengan nada yang begitu tenang.


Siapa kira setelah kejadian itu, Zim malah dirundung oleh perasaan sakit hati. Lihat saja sekarang ini, dia malah menghabiskan waktu disalah satu pub terkenal dipusat kota bagian timur; dengan beberapa minuman tentunya.


Sial! Sial! Sial! Rutuknya dalam hati, kenapa dia menjadi makhluk menyedihkan yang selalu saja ditolak?! Sebelumnya Ève sekarang Vioner, padahal baru beberapa detik kucing besar itu terkesima dan nyaris jatuh cinta pada pandangan pertama. Benar-benar tertohok, mari rayakan dengan meminum beberapa botol minuman lagi.


Haha.


"Hiks... hiks..." tanpa sadar Zim menitikan air mata, entah pengaruh minuman miliknya yang berkadar kuat atau terlalu terbawa suasana.


Seharusnya aku menikah saja, bukan menjadi bujangan abadi seperti ini. Penyesalan selalu datang terlambat, ya meski kata-kata itu bertolak belakang dengan kalimat yang pernah Zim ucapkan dulu.


AKU INGIN BERPETUALANG DAN TAK AKAN MENIKAH?!


Apa itu karma yah? Haha, kasihan.


Bugh!


Dentuman keras terdengar, beberapa pasang mata yang duduk diarea pub menoleh. Ada jenis keributan apa yang terjadi, itu juga menarik minat Zim ternyata. Dia berbalik, seseorang berbadan kecil dengan mengenakan tudung kelapa tampak jatuh—atau tepatnya didorong dengan seseorang berbadan besar.


"Nona Vioner?" Gumamnya pelan. Beberapa saat saja memikirkan laba-laba cantik itu berhasil membuat Zim kembali berpikir jernih. Dia beranjak dari tempatnya duduk lalu melangkah ke lokasi kejadian. Keributan terdengar, Vioner yang berusaha menutupi wajahnya dengan tudung diseret paksa oleh pria besar didepannya. Urat-urat leher muncul, Zim menggeram. Bola matanya melotot, apa-apaan perlakukan kasar tersebut?


Dengan gamblang, Zim menarik pedang miliknya lalu mengarahkan benda tersebut tepat ke leher bajingan gila yang mulai memaki-maki Vioner.


"Lepaskan sialan! Kau mengganggu pelanggan lainnya." Ucap Zim datar. Wajah tak senang menyambut mata si kucing besar, selain itu sepertinya hanya badan lelaki ini saja yang besar—nyatanya ia ketakutan lalu menuruti perintah Zim begitu saja.


Tangan macan kumbang Zim tergerak, menggapai pergelangan milik Vioner. Tanpa menoleh kebelakang Zim membawa sosok itu melangkah keluar meninggalkan area pub.


Beberapa kali telinga kucing Zim mendengar ringisan Vioner, mungkin dia kesusahan menyamakan langkah dengan Zim. Tapi jujur saja lelaki itu agak marah tanpa alasan yang jelas dan ingin pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu.


Di rasa cukup, Zim akhirnya melambatkan langkah. Mereka berhenti disebuah taman besar dengan air mancur ditengahnya.


"Hosh! Hosh!" Napas tersengal dari bibir Vioner terdengar semakin jelas, dia sampai menekukkan tubuhnya saking kelelahannya.


"Apa yang kau lakukan disana nona?" Bukannya meminta maaf Zim malah menanyai Vioner dengan pertanyaan frontal. Manik majemuk milik laba-laba betina itu terangkat, dia menatap sejenak sosok Zim sebelum berkata-kata—


"Hosh~ kau cukup kurang ajar yah Tuan," sarkas laba-laba itu. Punggung Zim seperti ditusuk sesuatu, tiba-tiba dia menyadari tindakan apa yang telah ia lakukan. Zim menunduk malu sambil berucap maaf dengan nada teramat pelan. Untung saja Vioner baik hati, dia memaafkan Zim begitu mudah lalu masalah berakhir dengan damai.

__ADS_1


Omong-omong—


"Apa yang kau lakukan di pub nona? Lalu siapa bajingan kurang ajar tadi?" Seingat Zim, penanggung jawab kesehatan istana tidak bisa keluar masuk istana seenak jidat diwaktu malam kecuali sudah mendapat izin resmi dari kepala pelayan istana. Atau mungkin saja Vioner menyelinap keluar?


"Hah~"


Terdengar hela napas pasrah, Vioner tahu Zim pasti penasaran dengan beberapa hal. Dari pada berbohong labih baik Vioner ungkapkan saja kebenaran, toh tidak ada yang dirugikan juga.


"Aku ingin menemui suami ku," Zim mengangguk paham, lalu sepertinya Vioner malah bertemu bajingan gila yang mencegat langkahhya? Begitu? Terka Zim menebak-nebak tapi apa yang ia dengarkan justru berbanding terbalik dari apa yang Zim pikirkan.


Kalimat itu, Vioner tidak salah ucap bukan? Atau telinganya tidak salah dengar 'kan?


Deg.


Manik hijau milik Zim menyala, wajahnya benar-benar tak bisa dibaca. Raut janggal terpatri manis bersama senyuman kecil yang hadir disudut bibir, begitu tipis—nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan lebih seksama.


"Tapi aku tidak mengira kalau dia akan menolak kehadiran ku,"


"Jadi itu suami mu?" Tanya Zim tenang. Vioner mengangguk polos. Dia melirik bekas lebam yang diberikan suaminya.


Huh~


"Tak ingin bercerai? Suami mu tampak kejam dalam memperlakukan mu nona," bisik Zim. Mata Vioner melotot, apa maksud ucapan laki-laki didepannya. Ingin melayangkan suara protes Vioner malah tertegun, membeku ditempat dengan perasaan ngeri.


"Lalu, aku bisa menggantikan posisi suami yang baik untuk mu Vioner~"


Haha, kurang ajar sekali. Selain tidak sopan, Zim juga terlihat seperti seorang bajingan.


Itu artinya kucing besar ini ingin merusak pernikahan milik Vioner, begitu?


"Haha, dimana tata krama mu?" umpat Vioner datar, merasa tak terima.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2