Crazy Baby

Crazy Baby
Wanita Asing


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...W a n i t a - A s i n g...


...________________________...


...____________...


...____...


..._...


Tiga tahun kemudian |


Gerakan jemari yang lihai menekan tombol huruf, lelaki berkacamata menatap datar layar besar bercahaya didepannya. Bayangan komputer terlihat di lensa kacamata pria itu, lenguhan lelah kadang terdengar. Davian ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan lalu pulang ke apartemen sederhana miliknya. Menutup mata lalu terlelap dalam dunia mimpi sambil berharap masih bisa terbangun di ke-esokan harinya. Ha-ha.


Pukul 11 malam waktu setempat, pekerjaan yang ditimbunkan oleh atasan Davian membuat lelaki berkacamata itu ingin sekali merutuki hidup atasannya. Meski hanya sekedar makian, jika dia masih jadi pribadi yang dulu mungkin saja atasannya itu akan mengalami mimpi buruk soal kematian tapi lupakan.


Layar komputer mulai meredup, selesai sudah. Davian bersandar lelah disandaran kursi miliknya sambil melakukan peregangan otot dibagian lengan. Lelaki itu melirik keatas menuju arah jam dinding; 11 lewat 30 menit. Tak ada siapapun di sekeliling Davian selain meja kosong dengan komputer mati. Lelaki itu kemudian berdiri sembari mulai membersihkan meja kantornya, waktu berjalan beriringan dengan kegiatan Davian.


Tap...


Davian melangkah melalui koridor, keadaan sekitar benar-benar remang. Lelaki itu melihat dari kejauhan pintu lift yang sedang terbuka, ada sosok hitam disudutnya. Kemampuan melihat Davian masih ada tapi lelaki itu memilih putar haluan karena tidak ingin terlibat lagi dengan semua itu. Langkahnya membawa menuju area tangga darurat, 5 lantai menuju lantai dasar. Davian menghela napas, dalam diam dia melangkah—menyusuri setiap anak tangga sambil berharap ini semua cepat selesai.


"Hah~"


Akhirnya lobby ruangan terlihat jelas, pintu-pintu dengan bahan kaca buram dari luar itu adalah tujuan akhir Davian. Petugas penjaga masih berada disana, Davian akan menyapanya sebelum benar-benar pergi tapi langkah lelaki itu tertahan tepat didepan pintu kaca. Ada sosok wanita diluar sana, seperti menunggu seseorang.


Hela napas gusar terdengar dari mulut Davian, dia perlu menyiapkan diri selama beberapa detik sebelum melangkah keluar. Sosok wanita itu menoleh kearah Davian, maniknya berkilat senang. Dia lalu melangkah—mendekati Davian sembari merangkul tangan lelaki berkacamata yang sudah menampilkan wajah jenuh luar biasa itu.


"Menyingkirlah Layla..." keluh Davian pada teman masa kecilnya. Seperti tuli Layla mengabaikan permintaan dari lelaki berkacamata itu yang lagi-lagi membuat Davian menghela napas pasrah. Dia membuang pandangan; menuju arah petugas penjaga yang mengulum senyum karena melihat tingkah anak muda didepannya.


"Selamat malam sir..." ucap Davian ramah. Lelaki berseragam penjaga itu mengangkat topinya lalu tersenyum kearah Davian sebagai balasan.

__ADS_1


"Lembur lagi sir Davian?"


Davian tertawa hambar sembari menjawabnya.


"Begitulah," Petugas penjaga itu mengangguk paham.


"Kalau begitu hati-hati saat perjalanan pulang mu sir Davian..."


"Tentu~"


Davian bersama Layla beranjak dari sana, melangkah menjauh dari gedung 15 lantai tersebut. Mungkin sekarang ini sudah pukul 12 malam kurang beberapa menit waktu setempat, tidak ada bus dengan jam keberangkatan seperti ini mau tak mau Davian harus naik taksi agar bisa pulang ke apartemennya tapi sebelum itu dia harus menyingkirkan sosok yang menempel dilengannya ini.


"Apa mau mu Layla?" tanya Davian, langkah mereka berhenti tepat dipinggir jalan. Dengan manik hitam milik Davian—dia memperhatikan sekitar; mencari-cari keberadaan mobil taksi yang lewat sambil membuka pembicaraan dengan wanita itu.


Layla melepaskan tautan tangan sepihak miliknya. Gadis itu menatap keadaan sepi dari jalanan didepan mata sebelum membuka suara.


"Kondisi fisik dari Kepala keluarga utama sedang menurun," ucapnya pada Davian. Lelaki yang mendengar itu terbayangkan sosok sang kakek, benarkah? Beliau pribadi kuat jadi hampir tak bisa dipercaya jika kondisi fisiknya menurun tanpa sebab.


"Terjadi kekosongan kepemimpinan selama kurun waktu 1 tahun belakangan ini" sambung Layla. Davian melirik kecil dari balik ekor matanya, apa maksud dari wanita ini? Kenapa dia membicarakan tentang itu pada Davian yang jelas-jelas bukan bagian dari keluarga Hazel lagi.


"Lalu?" tanya Davian setengah mengabaikan.


"Lalu alasan kau mencari ku selama 2 minggu ini adalah untuk meminta ku kembali. Begitu kan?"


Layla mengganggu, matanya penuh dengan ambisi membuat Davian mual saja.


"Aku tidak ingin kembali atau masuk dalam perang internal demi menjadi ahli waris." ucap Davian, tangannya melambai. Sebuah mobil berwarna kuning dengan tulisan taksi diatasnya stop dibibir jalan; tepat disamping Davian.


"Masih banyak yang pantas menduduki posisi itu terutama Gedion..."


Davian membuka daun pintu mobil bagian belakang dari taksi, dia menoleh kearah Layla untuk terakhir kalinya. Wajah wanita itu memerah seakan tidak terima atas ucapan Davian terhadapnya.


"Dengar, jangan temui aku lagi... atau mengatakan sesuatu seperti kembali kedalam keluarga dan sejenisnya. Kau ingat larangan kakek terhadap ku? Jangan pernah berhubungan dan jadi orang asing sepenuhnya. Itulah hukuman yang harus ku patuhi tanpa terkecuali."


Layla mengepalkan tangan, wanita itu menunduk. Davian yang melihat hanya mampu menghela napas; sebelum benar-benar pergi dengan taksi lelaki berkacamata itu mengucapkan satu kalimat terakhirnya kepada Layla.


"Selamat tinggal Layla~"


Lalu sosok berkacamata itu hilang sepenuhnya dari hadapan Layla bersamaan dengan mobil kuning yang menjauh—memecah keheningan malam.


...***...

__ADS_1


Brugh~


Davian menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Hari ini sungguh sangat panjang dan melelahkan untuk lelaki itu. Davian berbalik matanya menatap langit-langit ruangan dengan warna pucat. Sudah 3 tahun rasanya Davian mendiami apartemen sederhana ini, banyak hal yang terjadi selama kurun waktu segitu hingga akhirnya Davian berada diposisi sekarang ini.


Benar-benar penuh perjuangan.


"Huh~"


Kelopak mata Davian menutup pelan, dia perlu tidur. Keheningan dalam ruangan seperti lagu nina bobo untuk Davian sebelum terlelap sepenuhnya tiba-tiba telinga Davian menangkap suara keras dari arah balkon apartemennya.


BRUGH!


Davian tersentak, kantong mata sudah menghitam. Dengan wajah kesal dia bangkit; mengambil kacamata miliknya yang berada diatas nakas. Lelaki itu mengalihkan pandangan—mencari tahu sumber suara yang menciptakan kegaduan di tengah malam.


Tapi apa yang dia lihat membuat Davian penasaran, lelaki itu berdiri; melangkah menuju balkon. Keningnya berkerut bingung, apa itu? tanya Davian dalam hati merasa salah lihat. Sembari membuka pintu balkon dia masih menatap lekat sosok yang tergeletak diatas lantai.


Sosok wanita dengan pakaian bermotif bunga. Apa wanita itu jatuh dari atas? pikir Davian sambil mendongak. Hanya ada balkon lantai atas yang menyambut penglihatan Davian.


"WA!" Sosok itu bangkit sambil berteriak. Davian melotot kaget tanpa suara.


"Aku pikir aku akan mati?!" serunya tak menyadari keberadaan Davian. Wanita itu lalu tertawa lantang dengan nada mengganggu.


"HAHAHAHA!"


Sudut bibir Davian berkedut jengkel, apa-apaan itu! Apa yang terjadi?! Ada apa dengan wanita asing yang tiba-tiba jatuh dari langit ini?! rutuknya kesal bukan main.


Haha |


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, & comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti......


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2