
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...Z i m...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
Penyelidikan dilakukan seperlunya saja. Pemakaman dari Tulio berlangsung selama 5 hari setalah mayatnya diantarkan ke- kediaman Vioner.
Tidak ada yang istimewa selain tangisan keluarga dari pihak sang suami, persetan Vioner tak terlalu peduli pada mereka yang menganggap Tulio sebagai anak baik-baik. Bagaimana bisa dulu aku setuju menikah dengan dia? Bahkan beberapa dari keluarga Tulio mencibir sikap acuh tak acuh milik Vioner.
Hah~
Ini melelahkan. Selain khasus pembunuhan berantai secara acak terjadi beberapa khasus orang hilang, sampai sini pihak keamanan kota dibuat kebingungan; entah siapa pelakunya ataupun motif dalam melakukan hal keji tersebut. Kabar burung soal terjadinya pemberontakan juga mulai memperkeruh suasana, sebagian orang beranggapan hal ini merupakan bentuk dari pembangkang itu. Mereka membunuh warga sipil untuk memberi ancaman pada otoritas kerajaan dan para bangsawan.
Ya meski...
Semua sesuai rencana, Zim memanfaatkan dengan baik kabar-kabar yang beredar. Menimpa khasus pembunuhan miliknya dengan khasus pembunuhan sesungguhnya, lalu menghilangkan jejak selama 2 bulan dengan membuat jejak baru dibeberapa daerah; seakan-akan membuktikan dirinya benar-benar kembali berpetualang.
Tempat terbaik dalam menyembunyikan pohon adalah hutan. |
Dan dengan sabar Zim memperhatikan sekitar, menimang-nimang waktu yang tepat untuk kembali kepermukaan. Vioner, nama itu berhasil membuat tubuhnya bergetar. Semakin hari semakin membuat Zim yakin kalau dia sungguh jatuh hati.
Ah~
Ini sungguh gila.
"Aku benar-benar tidak sabar..."
Akan pertemuan kita.
Tunggu aku Vioner.
Ya begitulah akhirnya, Zim kembali menemui sosok Vioner. Dia menunggu gugup didepan istana, harap-harap cemas semoga dayang tersebut benar memanggil Vioner untuknya. Hingga telinga dari kucing besar tersebut mendengar sosok Vioner memanggil namanya.
"Tuan Zim?!"
__ADS_1
Mereka berbincang banyak hal dalam waktu singkat, Zim berpura-pura tidak mengetahui apapun disana. Benar-benar bermuka dua, dia dengan sengaja memberi tepukan semangat dibelakang punggung laba-laba betina tersebut. Wanita yang mengalami kehancuran mental sangat mudah untuk dimanipulasi, beri mereka kenyamanan dan rasa aman—maka mereka akan dengan suka rela menyerahkan diri pada kalian.
Pertemuan singkat tersebut membuahkan hasil; janji makan malam bersama dengan Vioner. Saat ini Zim sangatlah girang, memilah-milah pakaian apa yang pantas untuk ia kenakan.
Vioner memang duduk pada tingkatan yang berbeda, tapi apa yang Zim lihat bukanlah itu. Dia hanya mengharapkan cinta miliknya dibalaskan oleh laba-laba betina cantik tersebut.
Hah~
Setelah makan malam, semoga saja Zim bisa membawa Vioner kedalam sebuah kamar lalu menggagahi tubuhnya. Bukan apa-apa, Zim hanya ingin terikat sepenuhnya secara sempurna dengan sosok Vioner.
Jaminan pasti untuk masa depan. Akan jauh lebih baik jikalau Vioner bisa mengandung anaknya nanti.
Gen dominan bangsa Mächam pasti akan mempengaruhi bayi mereka jadi kemungkinan tidak akan ada bayi yang mirip dengan Vioner nanti tapi tak apa. Laba-laba itu bisa mengandung saja sudah merupakan hal yang melegakan untuk Zim.
"Menunggu lama?" Sapa Vioner memecahkan lamunan milik Zim, dia menoleh. Sedari tadi menunggu sendirian disebuah kedai makan yang lumayan sepi. Wujud cantik dari sosok Vioner berhasil membuat Zim tertegun, sudah lama sekali tidak melihatnya. Zim mempersilakan nona didepan sana untuk duduk dengan cara menarik kursinya kebelakang.
Vioner terkekeh, dari mana kau belajar tata krama seorang bangsawan? Mungkin itu yang ingin Vioner tanyakan tapi memilih untuk ia simpan karena ada hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan, bersama Zim tentunya.
Zim menggeleng sambil berucap,
"Tidak, aku baru saja sampai..." sahutnya. Vioner mengangguk paham, mereka berdua mulai memesan makanan yang menurut mereka menarik perhatian, juga tidak lupa beberapa minuman khusus untuk para orang dewasa. Berseda gurau dengan cerita-cerita ringan, keduanya larut dalam suasana hangat.
Ini benar-benar membahagiakan, bagi Zim maupun bagi Vioner. Sudah lama sekali tidak merasakan perasaan seperti ini, rasanya bebas.
Beginikah cinta? Yang orang-orang cari?
Begitu sederhana dan juga—murni.
Vioner beberapa kali mengejapkan mata, pandangan miliknya buram. Sial apa yang terjadi? Dia terlalu banyak minum. Kenapa rasanya Vioner seperti melayang diudara? Ah~ dia tengah digendong oleh seseorang yang tidak lain adalah Zim.
Terdengar samar-samar sebuah percakapan.
"Untuk berapa lama?"
Sudut bibir Zim terangkat.
"Seminggu," ucapnya ringan berhasil menarik sudut rasa penasaran laba-laba betina itu. Vioner merangkul bagian leher Zim, dia berusaha agar tetap sadar namun tak bisa. Akhirnya malah menggumamkan hal-hal aneh kepada macan kumbang tersebut.
"Hehe... afanyayang Seminggu?" Tanya Vioner dengan kekehan lucu, Zim melirik. Dia memilih tidak menyahuti sosok tersebut, kunci kamar baru saja diserahkan resepsionis. Zim melangkah pergi sambil membawa Vioner dalam gendongan, laba-laba ini mulai meracau tak jelas karena diabaikan oleh Zim.
"Sabarlah Lady~ sebentar lagi..." bisik Zim menggelitik permukaan daun telinga. Tubuh Vioner meremang, jujur dia benar-benar tidak mengerti. Dengan tubuh tidak berdaya miliknya Zim membawa Vioner masuk—kedalam sebuah kamar dengan keadaan remang.
Kalian bisa menebak apa yang terjadi antara dua orang tersebut. Zim yang mengempaskan pelan tubuh Vioner diatas ranjang besar lalu dengan aktifnya menanggalkan seluruh pakaian milik Vioner.
Tapi ada satu momen yang berhasil membuat Zim tertegun, tepatnya ketika Vioner membisikkan sesuatu kepada dirinya.
"Andai saja..."
Tangan Zim tertahan.
__ADS_1
"Andai saja aku lebih dulu bertemu dengan mu... mungkin akhir kisah cinta ku tidak akan seperti ini..."
Zim harap juga begitu.
"Apa lamaran mu masih berlaku?"
Eh?
Sudut bibir Zim terangkat, perasaan senang hampir meledakkan jantungnya. Dengan penuh semangat Zim membalas perkataan sepihak yang baru saja dilontarkan sosok manis dibawahnya.
"Tentu saja~"
Dalam remang keadaan, erangan indah milik Vioner layaknya mantra penyemangat. Zim tanpa lelah mendorong miliknya masuk, menjelajah semakin dalam—memastikan setiap jengkal tidak ada yang terlewatkan.
"Hosh~"
Keringat titik, sudah berapa lama mereka begitu? Entahlah tidak ada yang tahu. Zim dengan kegilaannya membawa Vioner; terjerumus masuk semakin dalam pada sebuah kesenangan.
"Aku mencintai mu..."
Bisik terakhir macan kumbang tersebut sebelum akhirnya tumbang.
...***...
"Hehehe..." Zim tertawa senang, apa yang terjadi malam tadi bukanlah mimpi. Sosok Vioner masih berada tepat disamping tubuh miliknya; terlelap damai tanpa tahu apapun yang terjadi.
Cahaya bintang sangat terang diluar jendela, mereka melewatkan waktu sarapan. Terlihat Vioner mulai menggeliat tak nyaman, Zim mengulum senyum. Dia menunggu momen pertama laba-laba itu membuka kelopak mata.
Akankah Vioner akan terkejut atau mungkin dia akan marah?
Respon Vioner adalah sebuah penentuan untuk kedepannya. Tentang bagaimana Zim dalam bertindak.
"Selamat pagi..." sapaan lembut itu menarik sudut bibir Zim semakin tinggi. Vioner tidak menolak tingkah laku Zim, dia—menerimanya.
Dengan bangga Zin berucap,
"Pagi!" Menyahuti sapaan hangat milik laba-laba betina tersebut.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...