
...Cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...M e n j a d i - A k h i r...
..._________________________...
...______________...
...______...
..._...
"Davian?" panggil Reva menyerukan satu nama dengan suara serak, siluet hitam dari punggung Davian tersentak.
Reva baru saja terbangun karena suara dentuman keras yang mengusik telinga gadis bermanik kelam itu. Membuatnya mau tak mau harus terbangun untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi tapi apa yang ia lihat berbanding terbalik dari apa yang ia pikirkan.
"R... Reva?" gumam Davian bergetar. Bola mata lelaki itu bergerak gelisah, menimbulkan kecurigaan dari Reva sendiri terhadap sosok itu. Reva melarikan pandangan, Davian seolah ingin menghalangi penglihatan gadis itu—hanya saja terlambat karena Reva sudah melihat apa yang coba Davian sembunyikan.
Bola mata Reva membola sempurna.
Sosok Josan terkulai lemas tak sadarkan diri dengan tubuh mengenaskan. Apa yang Davian lakukan pada lelaki itu? Kenapa posisi mereka—MENYERAMKAN?
Apa yang ada di tangan Davian? Sebuah tombak 'kah? Lalu kenapa lelakinya itu melepaskan kekuatan penuh miliknya ke penjuru ruangan? Seolah dia memang ingin membantai sesuatu atau tepatnya seseorang?
Reva merinding, aura gelap milik Davian menampilkan wujud seperti sosok Iblis. Dengan raut muka berubah pucat, Reva mencoba menganalisa baik-baik segala situasi yang tengah terjadi. Sambil beranjak dari ranjang, mata Reva tak berkedip sedikit pun.
"Re, Reva...?" panggil Davian panik. Apa yang lelaki itu takutkan?
"KaU aka—n masuk Angin..."
Hah?
Reva menunduk, mendapati tubuh tanpa busana miliknya sendiri. Situasi apa ini? Davian maju memberikan pakaian yang ia kenakan ke bahu Reva, masih dalam proses mencurigai; Reva memilih diam—menerima semua perlakukan manis Davian lalu mengalihkan perhatian kearah Josan yang kini sudah berada diatas lantai.
Kecurigaan yang dapat Reva ambil adalah Davian marah pada Josan dan mengamuk gila karena dia diculik oleh bajingan gila itu. Dan mungkin ditambah Davian melihat Reva tanpa busana sebelumnya, kesalah pahaman si hazel itu jadi berlipat ganda.
Masuk akal.
Persis seperti kejadian tempo lalu, Reva juga merasa kalau Davian cukup posesif terlebih lagi jika insting buas lelaki itu aktif. Tak akan ada hal baik yang terjadi jika berkaitan dengan itu seperti terakhir kali.
Hanya saja—dampak yang Josan derita lebih besar dan nyata.
Nyata?
"Itu bukan luka sungguhan kan? Davian?"
Tak ada tanggapan dari Davian, lelaki itu membeku dengan wajah kikuk. Menghentikan pikiran, Reva bergerak sesuai intuisi. Menampilkan wajah panik kearah Josan, melihat reaksi itu Davian menelan ludah kasar sambil mengikuti langkah milik Reva; mendatangi tubuh Josan yang seharusnya sudah menjadi jasad itu.
Tch!
Davian berdecih tak suka ketika menyaksikan raut khawatir Reva yang di tujukan pada bajingan itu.
Sungguh?
Menyebalkan. |
__ADS_1
"DAVIAN?! APA YANG TERJADI?! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!" teriak Reva lantang, melihat tubuh Josan lebih mengenaskan dari yang ia kira meski napasnya masih terasa tapi cukup samar jika ingin dibilang baik-baik saja.
Reva menarik tubuh Josan lalu meletakkan kepalanya keatas paha telanjang milik Reva. Sejujurnya Reva hanya ingin memeriksa tapi dimata Davian malah berbeda.
Deg?
Deg!
Deg!!
Gadis itu terlihat lebih mementingkan lelaki bajingan itu ketimbang dirinya yang merupakan pasangan takdir Reva.
Apa yang Reva pikirkan?
Kenapa Reva memberikan perhatian pada seonggok daging yang nyaris meregang nyawa?
"Reva?" panggil Davian. Maniknya membola sempurna; mengharapkan Reva mengalihkan fokus kepadanya seorang. Tapi yang Davian dapat justru berbanding terbalik, dia malah mendengar Reva—
"JAWAB AKU DAVIAN! APA YANG KAU LAKUKAN HINGGA JADI BEGINI?!" Berteriak padanya.
DEGH?!!!!
Davian membeku, pandangannya tiba-tiba menjadi kosong. Lelaki itu mengangkat tangan kanan miliknya; coba menggapai bahu Reva meski berakhir di tepis kasar oleh gadis bermanik kelam itu.
Sejatinya Reva hanya perlu jawaban tapi Davian benar-benar bungkam. Pikiran si hazel yang sekarang bermanik hitam itu mulai kemana-mana, baru saja 'dia ditolak Reva' baru saja.
Davian ditolak Reva. |
Kenapa Reva begitu kejam pada ku?
Apa Reva luluh hanya karena mereka kembali berhubungan badan lagi? Begitu kah?
TIDAK!
Mata Davian berair, kepalanya menyangkal bisikan lain yang berusaha menghasut pikirannya. Apa ini? Perang batin 'kah? Mungkin saja. |
Davian sakit, kepalanya pusing.
Apa mereka akan kembali bersama?
Apa Reva akan memaafkan Josan?
Apa mereka akan menikah?
Memiliki anak?
Hidup bahagia?
Selamanya?
Tidak!
"TIDAK!!!" jerit Davian nyaring, hal itu mengejutkan Reva. Lelaki yang baru saja dia tepis tiba-tiba berteriak, Reva mendongak mendapati wajah pucat Davian dengan manik berair. Lelaki itu menjambak kuat rambutnya sambil bergumam tak jelas pada udara.
Bisikan mengganggu itu semakin jelas memperkeruh emosi dan pikiran Davian. Air mata Davian luruh, tangannya semakin brutal— Davian mencoba mengenyahkan isi pikiran mengerikan itu tapi tak bisa.
Semakin dia berusaha semakin jelas gambaran wajah Reva yang bahagia bersama Josan.
Davian seperti kehilangan arah—bergerak gelisah. Maniknya menatap liar dengan tangan yang terus menjambak kuat, ada apa dengan Davian? tanya Reva dalam hati, gadis itu meletakkan tubuh Josan kembali kelantai dan ingin mendatangi Davian tapi tiba-tiba ada yang menyeretnya.
"Arhh!"
Reva terkejut tubuhnya ditahan sesuatu yang tidak lain adalah kekuatan Davian. Semakin Reva bergerak semakin kuat jeratan mirip tentakel hitam pada tubuhnya itu, bahkan mulai membungkus Reva seperti layaknya sebuah kepompong.
__ADS_1
"DAVIAN?!" jerit Reva panik tapi tak di dengarkan oleh lelaki itu.
Reva dibawa paksa menjauh dari Josan oleh kekuatan Davian. Lelaki yang bertingkah tak biasa itu tiba-tiba kembali tenang, kerasukan apa Davian?! Reva semakin panik ketika tentakel-tentakel Davian menjerat tubuh Josan keposisi pertama yang Reva lihat.
Benda menyerupai tombak itu kembali muncul tepat diatas tangan Davian.
Davian bahkan belum menjawab satupun pertanyaan Reva tapi Reva sendiri sudah bisa menebak apa yang ingin Davian lakukan.
Lelaki itu ingin membunuh Josan.
Membunuh dalam artian sebenarnya.
"DAVIAN!" menyadari sesuatu yang salah Reva mencoba memanggil nama Davian sekencangnya berharap perhatian lelaki itu tertuju padanya tapi nihil.
"HEI! Davian?!" seru Reva lagi harap-harap kalau Davian akan berpaling tapi lelaki itu sama sekali tak bergeming.
SIAL! rutuk Reva kesal, dia meronta kuat; mencoba lepas dari benda yang menjeratnya agar bisa menghentikan kegilaan Davian saat ini namun tiap detik yang dia lakukan seperti terbuang sia-sia. Reva melihat Davian berancang-ancang siap melontarkan tombak tepat kearah Josan.
Slash!
Tapi—
JLAB!
"Eh?"
"HUAEK?!!!"
Davian terdiam. Tubuhnya membeku dengan mata membola, cipratan darah seperti hujan membasahi separuh wajah Davian; hal mengejutkan lainnya adalah benda itu berasal dari mulut juga tubuh milik Reva seorang.
Hanya berjarak beberapa meter tapi Davian dengan jelas menyaksikan kekuatannya menembus tubuh Reva tepat di bagian jantung—menghentikan bunyi detak kehidupan seseorang yang amat dia cintai, sosok yang tak lain adalah pasangan takdirnya.
Apa yang terjadi?
APA YANG TERJADI?! KENAPA TUBUH REVA YANG JELAS-JELAS DAVIAN SIMPAN DALAM KEKUATAN MILIKNYA TIBA-TIBA BERPINDAH MEMOTONG JALAN HUNUSAN TOMBAK YANG DAVIAN BERIKAN PADA JOSAN?!
KENAPA?!
Kenapa?
"Da... vian?"
Lelaki itu tersentak usai mendengar panggilan lemah milik Reva, Davian mendongak tak percaya. Reva tersenyum kecil kearahnya lalu—
"TIDDDDDAAAAKKK?! REVAAAAA!!!!!"
Jeritan panjang milik Davian jadi penutup kisah diantara mereka.
...Selesai....
...***...
...Season ke - 2 selesai....
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote dan comments....
...Terima kasih...
...(yang udah mampir)...
...ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye bye...
...:3...