
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________________________...
...D i s i n i – S a j a...
...__________________________________...
..._______________________...
..._____________...
...______...
...___...
..._...
"Kau marah pada ku Davian?" tanya Reva penasaran. Davian bungkam—menulikan pendengaran, lelaki itu menutup rapat kedua matanya.
Reva yang memperhatikan sosok Davian menghela napas panjang.
"Maaf," gumam gadis itu setelahnya.
Kening pemilik hazel berkerut kesal. Untuk apa Reva meminta maaf, dia tidak salah—yang salah itu Davian. Lelaki bodoh dengan otak dangkalnya. Davian terlalu sombong, segelintir kata-kata yang diucapkan Reva itu murni tanpa adanya campur tangan perasaan. Davian jadi bingung; sebenarnya Reva menganggap dirinya itu seperti apa? Sebagai apa?
__ADS_1
"Aku akan tidur diruang tamu, selamat malam Davian," ucap Reva menyentil kecil sumber kesadaran Davian. Lelaki dengan manik hazel pekat itu membuka matanya, otaknya kembali fokus pada kenyataan.
Reva berbalik, dirinya siap angkat kaki dari ruangan tersebut sampai tiba-tiba pemilik kelam itu merasakan sebuah tarikkan kecil di ujung pakaian yang ia kenakan.
Gadis itu menoleh—dari balik ekor matanya terlihat sosok Davian yang sudah berganti posisi menjadi duduk dengan tangan mengambang di udara, tepatnya menggapai sudut baju milik Reva.
"Di–"
Reva melihat Davian seperti menggumamkan sesuatu padanya tapi tak terdengar jelas ditelinga gadis itu. Reva bahkan tidak bisa membaca gerak bibir Davian karena lelaki itu setengah menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Disini... saja," bisik Davian lagi. Kali ini terdengar cukup jelas meski ada jeda tiap katanya.
"Aku ingin tidur... dengan mu..."
Deg!
Rasa nyeri muncul di dada Reva, perasaan apa ini? Kenapa jantungnya berdetak keras dengan irama kacau? Gadis itu berbalik sepenuhnya—menghadap Davian. Tangan kecil Reva terangkat, membawa pelan jemari kasar Davian menuju pipinya.
"Barusan kau marah dan sekarang merengek..." sindir Reva sambil memejamkan matanya, meresapi hikmat permukaan tangan milik Davian.
"Dasar aneh..." ucapnya lagi.
...***...
Davian maupun Reva berbaring diatas ranjang sempit bermotif, mereka berdua belum terlelap. Hanya menyaksikan langit-langit ruangan yang tidak ada apa-apanya dalam kebisuan.
Denting jam sesekali mengusik ketenangan mereka.
"Apa kau merasa aneh dengan sikap baru ku?" tanya Davian setelah beberapa saat; nyaris ditelan keheningan.
Reva melirik, dia membuka bibirnya pelan—terdengar seuntai kata sebagai jawaban untuk Davian; "Jujur... sebenarnya aku merasa sedikit nyaman..."
__ADS_1
Jawaban kosong tanpa nilai, batin Davian tak ingin berharap apapun. Terjadi keterdiaman lagi sampai Reva memilih menanyakan sesuatu pada Davian.
"Apa alasan mu marah barusan?"
"Aku tak suka reaksi mu," jawab Davian cepat tanpa basa-basi.
"Reaksi?" beo Reva.
"Hm..." dehem Davian, sedikit tak berminat melanjutkan percakapan dengan Reva.
"Reaksi apa?" tutur Reva malah terdengar antusias.
Dasar tak peka. |
Davian menampilkan wajah malas, ayolah... haruskah lelaki itu menjawab pertanyaan Reva? Rasanya agak memalukan jika memberitahu alasan kekanak-kenakan Davian yang tiba-tiba marah. Tapi apa boleh buat—
"Reaksi mu ketika aku tanya; tak keberatankah kau menjadi pasangan ku..."
Ah!
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...