Crazy Baby

Crazy Baby
Rencana & Penyerangan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________________________...


...R e n c a n a - & - P e n y e r a n g a n...


...___________________________________...


...____________________...


..._________...


...___...


..._...


"Tunggu! Apa yang kau bicarakan?!" Sela Zim tak habis pikir, telinganya tidak bermasalah—tak mungkin macan kumbang itu salah dengar. Davian melirik, jujur dia agak malas mengulang kata-katanya tapi berhubung Zim yang sekarang ini merupakan sekutunya; mau tak mau Davian harus mengulangi kalimat miliknya.


"Jika memang Eva berada di tempat yang paling berbahaya—" tanda kutip istana raja Demon. "Bukannya kita harus menyelamatkannya, cara termudah adalah menerobos masuk istana... begitu saja."


Zim setuju tapi orang gila mana yang akan melakukan rencana diluar nalar tersebut? Selain Davian tentunya. Ini terlalu berisiko ditambah tempat yang akan Davian usik bukanlah sembarang tempat, itu istana raja! Sekali lagi Zim tegaskan ISTANA RAJA! Makhluk paling kuat dan nyaris menyentuh keabadian berada tepat didalam sana dan Davian dengan bodohnya ingin mengganggunya? Heh! Tidak terima kasih, Zim tak ingin terlibat. Sungguh.


"Kau pikir raja kami itu apa? Dia bahkan mampu membinasakan rakyatnya sewaktu-waktu... tuan Davìan." Zim tahu itu terdengar konyol tapi saat ini macan kumbang itu sedikit kesal, manusia didepannya seolah-olah menganggap enteng eksistensi raja yang selalu ia agungkan. Mengetahui hal tersebut membuat Davian terkekeh lucu, dia tahu apa yang tengah kucing besar itu pikirkan.


"Aku tahu seberapa kuat dia bung~ hanya saja, apa kau memiliki ide lain tentang 'bagaimana' caranya kita agar bisa menyelamatkan Eva? Setidaknya sebelum seluruh jiwanya hancur."


Zim terdiam, meski Davian tidak mengetahui detail situasinya tapi kucing besar itu masih bisa menerka-nerka. Pasti ini tentang masa hidup seseorang, agaknya Ève berada tepat diambang-ambang kematian. Terlihat dari seberapa gila-nya Davian berusaha mencari Eva.


"Apa memang tidak ada cara lain? Selain membuat kegaduhan menonjol seperti itu..." tanya Zim.


Terbesit sebuah pemikiran soal melakukan penyusupan namun sayang itu agak sulit dilakukan. Istana adalah tempat yang rapat, seluruh kendali berada tepat diatas tangan sang Raja. Seekor semut pun jika nekat menyusup masuk kearea sana pasti akan berakhir mengenaskan, entah langsung mati ditempat atau menjadi tahanan seumur hidup. Haha, membayangkannya saja membuat Zim ngeri apa lagi dia yang berada diposisi tersebut.


"Kau terlalu banyak berpikir," komentar Davian, wajahnya mulai bosan. Sedari tadi hanya menyaksikan Zim bergelut dengan isi pikirannya, kucing besar itu menghela napas panjang.


Hah~


"Lakukan saja seperti yang ku ucapkan, aku tahu kau juga ingin menyelamatkan Eva." Sambung Davian, kali ini bergantian dirinya yang melempar balok kayu kedalam tumpukan api.

__ADS_1


Kobarannya semakin besar.


Zim benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa, sampai akhirnya Davian memberi sebuah keputusan bulat yang tidak bisa ditolak.


"Kau pasti mengerti konsep 'pengalihan' bukan? Aku bukannya muluk ingin menyerang istana yang didalamnya berisi makhluk kuat tingkat atas? Bunuh diri itu namanya, tapi aku akan menjadi umpan. Selama jeda waktu itu, alangkah baiknya kalau kau bisa melakukan penyusupan kedalam istana—setidaknya mengetahui apa benar Eva berada disana. Jika memang dia benar-benar disana, bawa dia pergi dan jika tidak beri aku isyarat untuk mundur. Sederhana bukan?" Kau hebat Zim, berhasil membuat Davian berbicara panjang kali lebar dengan mu. Macan kumbang itu mengangguk, dengan adanya Davian—makhluk tersebut pasti akan mudah melakukan pergerakan. Semoga.


Pusat perhatian nanti akan jatuh kepada Davian seorang, termasuk para prajurit istana dan sang raja tentunya. Mereka pasti akan melakukan pergerakan, entah itu memberi serangan balas kepada satu-satunya manusia yang berani mengacaukan kedamaian di istana atau sekadar mempertahankan bangunannya.


Ini terdengar menggiurkan, sisanya tergantung bagaimana Zim maupun Davian dalam bertindak. Harus ekstra hati-hati dan juga bergerak seefisien mungkin, mereka tidak punya banyak waktu kecuali jika mereka memang ingin berencana bunuh diri disana. Haha, tak lucu.


Zim mengangguk, lagi pula mereka tidak punya pilihan lain selain itu 'kan? Davian tersenyum, jarang-jarang dia bertemu dengan seseorang yang memiliki pemikiran sama sepertinya; istilah gampangnya satu frekuensi.


"Kalau begitu setelah hujan reda esok pagi, kita langsung bergerak menuju timur—tepatnya istana raja para Demon."


...***...


Begitulah yang terjadi tapi siapa sangka kenyataan tidak semulus dengan apa yang direncanakan. Zim sudah menduga pasti banyak lubang didalam rencana serampangan tersebut, lihat saja. Bahkan saat ini kucing besar itu harus berhadapan dengan sosok mengerikan yang merupakan tangan kanan langsung dari sang Raja. Siapa lagi kalau bukan Sebastian.


Glek.


"Ini bukan area bebas, harap keluar dari sini tuan..."


Sial. Dia juga tahu.


BUGH!


Apa?!


Zim tersentak, suara keras terdengar berbarengan dengan runtuhnya dinding bangunan besar milik istana tepat dibelakangnya.


Kucing besar itu terkejut, ia cepat-cepat berbalik. Wujud besar yang selalu di puja-puja setiap makhluk menyambut penglihatan mata. Deru napasnya seperti uap, manik makhluk itu menyala terang dengan sorot mata mengerikan.


"Ish?! Ini menyakitkan..."


Yang lebih mengejutkan lagi, terdengar keluhan tak senang dari arah mulut Davian. Sosok yang baru saja menghantam keras tembok itu terlihat baik-baik saja. Ia berdiri, tepat berhadapan dengan sang Raja dari seluruh negeri.


"Kau cukup tangguh," desis Elliot.


Situasi apa ini?


"Terima kasih." Sahut Davian angkuh.


Tch! Zim benar-benar ingin kabur. Sungguh.

__ADS_1


"Selagi aku masih bicara baik-baik, coba jelaskan 'apa alasan mu' hingga memilih untuk menyerang istana ku."


Davian bersiul, jarang-jarang bertemu dengan makhluk kelas atas yang memilik tata krama yang baik. Bahkan jika makhluk itu memilih mengubah wujudnya menjadi manusia—dia pasti akan sulit dibedakan. Sama saja dengan manusia.


"Aku tak pernah tahu kalau makhluk setingkat mu bisa berada dalam suasana baik. Apa monster juga memiliki nurani?"


TENTU SAJA BODOH! Sahut Zim dalam hati, dia merasa kesal mendengar penuturan pedas dari mulut Davian. Para makhluk bawah sekarang sangat 'lah berbeda dari masa lalu, sama seperti manusia yang akan berkembang seiring waktu—monster pun sama.


Mereka bukan lagi makhluk bar-barian berakal pendek.


"Selalu sombong seperti biasanya, dasar keturunan mata Tâbi!" Geram Elliot kesal.


Davian terkekeh, memang benar adanya bukan?


Argh, Elliot akan membakar hangus wajah angkuh manusia satu ini. Tunggu saja.


Apa yang kau lakukan kucing sialan! Terdengar Davian berbicara lewat telepati pikirannya. Zim yang membeku ditempat saat menyaksikan kengerian dari sang Raja kembali sadar.


Cepat lakukan pencarian, tubuh ku tidak dalam kondisi prima. Aku hanya bisa menahan 2 sampai 3 kali serangan lagi!


Ah~ ternyata wajah congkak Davian hanya gertakan. Sial, Zim pikir manusia itu memiliki kekuatan sebanding makanya berani bersikap kurang aja. Haha, matilah kami.


Zim melirik, sama dengan dirinya; Sebastian tampak tak melakukan pergerakan—lebih condong menyaksikan sang Raja yang berhadapan dengan manusia. Makhluk itu hanya diam ditempat, ini kesempatan.


Bayangan hitam milik Zim menghilang.


"Lakukan pencarian kawan..." bisiknya pelan pada bayangan sebelum berubah menjadi serpihan.


Davian tersenyum miring. Boleh juga.


"Lumayan~" pujinya pada kucing besar itu.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2