
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...J a n g g a l...
...____________________...
...____________...
..._____...
..._...
Seharusnya Davian sadar, harusnya dia peka dan tidak menaruh kepercayaan bulat pada Eva hanya karena dia memilih berdiam diri didalam Apartemen. Wanita itu memiliki rahasia serta identitas dia sendiri; Davian tahu tapi lelaki dengan wajah berbingkai kacamata ini enggan mencari tahu. Keinginan egoisnya membuat Davian lupa kalau Eva bukan milik siapa-siapa, wanita itu punya hak atas dirinya—dia bukan boneka.
Mereka hanya bermain rumah-rumahan sebentar lalu ketika waktu main selesai saatnya pulang.
Lalu? Pantaskah Davian marah? Lagi-lagi hatinya terluka karena tidak ingin ditinggalkan, meski benar-benar terdengar egois Davian ingin sekali menyeret Eva kembali bagaimanapun caranya.
Haha, yang benar saja. Davian seperti kecanduan sosok yang serupa dengan Reva. Atau memang dia hanya pecundang yang tidak bisa melupakan mantannya.
Persetan.
Hal pertama yang Davian harus lakukan adalah mencari tahu, bagaimana caranya Eva bisa melepaskan simbol yang dia tanam. Wanita itu masihlah seorang pemula tidak mungkin dia bisa mematahkan diksi rumit seperti itu kecuali Eva mendapat bantuan dari luar. Orang yang benar-benar ahli dan berada pada tingkatan atas sehingga simbol pengekang dapat sirna begitu saja.
Lelaki dengan kacamata diwajahnya itu tersentak, dia berjalan mendekati nakas disamping ranjang. Davian ingat kalau Eva selalu meletakan surat dari kakeknya didalam sana sebelum membalasnya.
Ketemu! Batin Davian, mata lelaki itu melihat tumpukan kertas dan amplop dilaci paling bawah. Tanpa basa-basi lelaki itu mengambil kasar tiap lembar kertas surat disana tapi alangkah terkejutnya Davian saat melihat tidak ada satu baris kalimat pun di kertas itu.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya penasaran sambil membolak-balikkan kertas dibawah cahaya lampu. Tak ada satupun tintah disana, benar-benar kosong. Tidak mungkinkan kedua orang itu saling mengirimi surat dengan cara rahasia kecuali—
Memang ada yang mereka rahasiakan.
Sepertinya Davian harus cuti kerja hari ini lalu mendatangi kakeknya untuk mencari tahu. Lelaki itu meletakkan kembali surat-surat tidak berguna itu ke dalam laci.
Mari berangkat, pikirnya tanpa ingin menyia-nyiakan waktu. Tentu setelah lelaki itu mandi, hehe.
...***...
__ADS_1
Davian cukup lama diam didepan cermin, lelaki itu sedang tidak mengenakan lensa tebal yang selalu mereka sebut sebagai kacamata untuk melihat.
Masih setengah telanjang; hanya mengenakan celana bahan, Davian menyilangkan tangan ke dada. Beberapa kali dia sengaja membuka lebar mata karena rasa penasaran bahkan sampai tangan nakal dari Davian nyaris mencoloknya.
Hazel.
Manik lelaki itu kembali ke warna seharusnya. Cukup aneh, kenapa bisa kembali—mereka bilang jika manik dari keluarga hazel menjadi hitam itu tandanya kecacatan. Tapi kenapa? Apa pemicunya?
Haruskah Davian berpikir keras untuk mencari jawaban? Tentu tidak, entah karena apa Davian rasa lelaki itu patut bersyukur. Dia tidak perlu menggunakan uang didalam dompetnya untuk naik taksi lagi, HAHA!
Meski sudah lewat 3 tahun Davian rasa dia masih ingat bagaimana cara menggunakan kekuatan lama miliknya. Yang sangat praktis dan serba guna, teleportasi. Tanpa menunggu lama lelaki itu mencari atasan untuk menutupi tubuhnya lalu membuka portal, tujuan pertama—kediaman utama tempat sang kakek berada.
Ah~ sensasi yang benar-benar membuat lelaki itu rindu.
Tanpa sadar ia tersenyum. Tidak perlu waktu lama lelaki yang dulu digadang-gadang sebagai sosok jenius itu sampai di kediaman kakeknya atau? Lebih tepatnya dikamar sang kakek dengan lelaki tua yang menatap tak percaya kearah Davian.
Lama tidak digunakan agaknya Davian harus mengatur ulang titik koordinat dari kekuatan teleportasi.
Ya, setidaknya Davian sampai dengan selamat.
"Davian? Kekuatan mu—?" Dia tahu apa yang ingin sang kakek tanyakan tapi sebelum itu Davian perlu bertanya lebih dulu pada lelaki bau tanah itu.
"Kakek, apa anda yang melepaskan simbol pengekang pada Eva?" Sergah Davian, lelaki itu menyambar tempat duduk yang berada tepat disamping ranjang; tempat sang kakek berada.
Melihat senyum pembisnis itu membuat sang kakek tidak bisa berdalih macam-macam.
Tapi lelaki tua itu memilih bungkam, sang kakek tidak ingin berkomentar apapun perihal tudingan cucunya. Lagi pula kenapa Davian mengekang Eva seperti budak? Bukannya itu terlalu berlebihan. Bahkan mereka belum menikah dan Davian sendiri tidak tahu siapa Eva itu sebenarnya.
"Apa Eva yang memintanya sendiri pada kakek?" Tepat sasaran. Bagaimana bisa Davian bisa menebak semua hal dengan mudah?
Awalnya kakek Davian hanya ingin mengirimi surat saat tahu alamat dari ke dua cucunya tapi dia tidak pernah mengira kalau Eva memberi balasan. Kedua orang itu jadi rutin berkirim surat sampai akhirnya pada satu titik Eva meminta tolong pada kakek Davian perihal simbol pengekang atau apalah itu yang sengaja ditanamkan Davian pada tubuh Eva.
Karena mengetahui siapa Eva sebenarnya kakek Davian jadi tidak bisa menolak dan tak bertanya pula pada sang cucu tentang alasan pemberian simbol tersebut.
"Hargh!" Davian melenguh napas keras.
"Asal kakek tahu, Eva menghilang saat ini?!" Ucap Davian sedikit keras, dia merasa frustrasi. Lelaki itu mengacak-acak kasar surai rambut miliknya, mendengar penuturan sang cucu; kakek Davian lantas menoleh.
"Menghilang?" Beo lelaki tua itu.
"Kemana Reva pergi padahal dia sudah berjanji..."
"Apa?" Kali ini bergantian Eva yang membeo keras. Lelaki itu tidak salah dengar kalau kakeknya baru saja menyebut Eva dengan nama Reva.
"Kenapa kakek memanggil Eva dangan sebutan Reva?" Tanya Davian. Tanpa sadar tangan lelaki itu mengepal, sosok bayangan Reva tiba-tiba lewat dalam benaknya. Ragu, kakek Davian menatap mata sang cucu.
__ADS_1
Mungkin ini terdengar janggal tapi gelagat pria tua itu benar-benar patut untuk dicurigai, seakan dia memiliki satu rahasia besar yang Davian tidak boleh tahu.
"Apa yang kakek sembunyikan?" Desis Davian bernada tanya, wajahnya terlihat geram. Kebiasaan lama kembali muncul, perasaannya gelisah. Lelaki itu menggigiti kuku jari tangannya hingga berdarah, beberapa spekulasi bermunculan didalam otak lelaki itu.
Tidak. Tidak mungkin.
Itu tidak mungkin bukan.
TIDAK!
"Dia Reva?" Tanya Davian dengan sorot mata tak percaya kearah kakeknya. Mungkin sedikit terlihat menjijikan karena aliran darah bekas kuku Davian mengalir disela bibir lelaki itu.
Kakek Davian tak menjawab, dia memilih bungkam. Wajah dari sang cucu agak menyeramkan, haha... entah apa yang lelaki itu pikirkan.
Mungkin sesuatu yang sedikit mengerikan?
.
.
.
.
.
"Fush~" Eva menghela napas panjang, embun hangat terlihat muncul. Wanita itu mendongak—langit merah menyambut matanya.
"Sepertinya Davian saat ini tengah mengamuk mencari ku..." monolog wanita itu sambil memeluk dirinya sendiri. Udara disini sangatlah dingin.
Sebentar termenung wanita bernama Eva itu kembali melanjutkan penuturannya.
"Maaf Davian aku tidak bisa pulang... sepertinya aku terkurung disini... hiks... hiks..."
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...