
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...______________________...
...D i s i n i...
..._______________________...
..._____________...
..._____...
..._...
Sialan!
Davian hanya mampu tersenyum simpul kearah Eva yang memakan berbagai macam jenis makanan dihadapannya, bahkan wanita itu mampu mengundang minat orang lain untuk melihat cara makannya yang kelewatan brutal. Davian menghela napas, sepiring makanan yang ada didepan Davian sama sekali tidak menggugah selera, lelaki berkacamata itu berhenti di suapan pertama lalu mendorong piringnya menuju Eva; agar dia ikut menghabiskan benda itu sekalian.
Davian memijit kepalanya sakit, momen beberapa jam lalu lewat dalam pikiran laki-laki itu tepatnya ketika mereka mendatangi kantor polisi untuk melaporkan khasus Eva. Davian ingat sekali jawaban apa yang ia terima dari salah satu petugas kepolisian.
"Maaf sir, sejauh ini belum ada laporan orang hilang... bahkan kantor kami di-distrik sebelah bilang kalau tidak ada khasus seperti itu ketika kami menghubungi mereka." ucapnya pada Davian. Tak ingin berputus asa lelaki berkacamata itu memutar otak, dia bertanya lagi kepada polisi itu.
"Lalu bagaimana kalau dia memang bukan berasal dari daerah sini atau distrik sebelah?" ujar Davian memberi opsi kepada petugas itu sambil menunjuk Eva yang melihat-lihat interior kantor polisi yang mereka kunjungi. Mungkin saja Eva adalah korban penculikan atau sejenisnya lalu dengan ajaib dia berhasil kabur tapi malah kehilangan ingatan ketika kepalanya membentur ubin lantai.
Bisa saja kan?
Melihat kerisauan Davian, polisi itu akhirnya memberi jawaban yang setidaknya bisa membuat Davian bernapas lega saat mendengarnya.
"Baik sir, akan kami coba selidik lebih lanjut khasus yang sir laporkan ini..."
Davian mengangguk paham.
Syukurlah~
"Kami akan menghubungi anda kembali nanti sir, silakan pulang terlebih dahulu..."
"Hah?" Davian membeo, dia pikir kalau perkara ini akan selesai sekali duduk ternyata tidak. Apa di kantor kepolisian tidak ada tempat penampungan orang hilang? batin Davian resah, dia benar-benar tak ingin menampung Eva lebih lama lagi karena isi dompetnya tidak setebal itu tapi sepertinya tidak ada pilihan lain.
__ADS_1
"Huh!" Davian menghela napas gusar sambil beranjak dari duduknya, lelaki itu berancang-ancang ingin memanggil nama Eva tapi ucapan dari polisi didepannya membuat Davian berbinar.
"Anda bisa menitipkan nona itu pada kami untuk menindak lanjuti khasus ini... dan apa bila kami berhasil menemukan kerabat dari nona itu kami akan langsung memulangkannya,"
Davian yang mendengar ingin sekali berucap lantang kalau lelaki itu menyetujui opsi yang diberikan petugas polisi itu tapi suara dari Eva membuat Davian menelan kembali jawabannya. Wanita itu mendekat dan dengan tegasnya memberi jawaban pada polisi laki-laki itu.
"Tidak!" ucapnya sambil merangkul tangan Davian, Davian menoleh spontan dengan niat ingin menyanggah tapi lelaki itu malah mendapati pandangan tajam dari wanita bernama Eva yang ditujukan untuk polisi didepan meraka.
Dengan gurat bingung, Davian memindahkan kembali tatapan matanya menuju arah polisi tersebut.
Deg!
Lelaki berkacamata itu tersentak kecil tanpa suara, matanya ikut menyipit tajam. Davian membalas rangkulan yang diberikan Eva lalu buka suara.
"Tidak perlu sir, dia akan ikut dengan saya... jika ada perkembangan tentang khasus ini bisa tolong hubungi saya... ini nomor telpon saya." ucap Davian dingin sambil menyerahkan kartu nama miliknya. Dengan sopan Davian mengucapkan terima kasih lalu membawa Eva pergi dari sana.
Tadi itu... mata nafsu, batin Davian. Lelaki itu berdecih tak suka, dia melangkah lebar menjauh sejauh yang ia bisa tanpa menyadari kalau Davian membuat Eva kesusahan dalam menyesuaikan langkah. Wanita itu menampilkan gurat kesal dia mencoba memanggil Davian tetapi telinga lelaki itu seperti ditutupi batu alhasil Eva malah berteriak.
"TUAN!?! DAVIAN!" panggil Eva keras. Davian yang mendengar terkejut lelaki dengan wajah berbingkai kacamata itu menoleh, dia mendapati napas tersengal milik Eva lalu menyadari tindakannya.
Ya ampun apa yang aku lakukan? Tanpa sadar Davian berperilaku kasar terhadap Eva dengan cara menyeret wanita itu pergi.
"Maafkan aku..." ucap Davian penuh penyesalan sambil melepaskan rangkulan tangannya pada Eva.
Hm...
"Aku lapar..." ucapnya menjelaskan situasi diatas dimana mereka berakhir didalam restor pinggir jalan, lagi-lagi Davian menghela napas. Dia lelah, lelah menghitung semua piring diatas meja milik Eva; nafsu makan wanita itu setara gajah.
Berapa banyak uang yang harus Davian keluarkan ketika membayar nanti.
Benar-benar sial. |
"Huh... kalau sudah mari pulang Eva," lenguh Davian putus asa. Eva berhasil menyelesaikan makannya, kira-kira ada 15 piring disana. Dengan wajah berseri Eva mengangguk dia mengikuti langkah Davian yang berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Usai dari sana mereka akhirnya dapat pulang dengan menaiki taksi karena waktu sudah terlalu larut mustahil ada bus yang lewat dan hal itu membuat uang milik Davian kembali terpotong. Huhu~ |
Ini sungguh mengerikan. Hiks... hiks... Uang ku.
Lenyap.
...***...
Beberapa saat ketika mereka sampai di apartemen.
__ADS_1
"Kau tidur di sofa," ucap Davian datar tepat di depan pintu kamar lalu menutup kasar daun pintu itu hingga menimbulkan suara keras.
Brak!
Hari ini urat sabar Davian sungguh diuji dan itu sudah cukup! Dia ingin cepat-cepat tidur; tak ingin berurusan lagi dengan Eva, mari beristirahat lalu biarkan wanita itu tidur di ruang tamu. Selesai, batin Davian sambil mengempaskan pelan tubuhnya diatas ranjang—hanya perlu hitungan detik lelaki itu sudah terlelap.
Hanyut dalam belaian mimpi diatas nyamannya ranjang.
"Krett—"
"Halo~?"
Suara kenop pintu terdengar, Eva menilik sebentar kedalam ruangan; melihat pemilik dari apartemen itu sebelum masuk. Wanita ini tersenyum tipis, Davian tidur tanpa melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya. Berjalan seringan kapas Eva mendekati Davian lalu mengambil benda itu dan meletakkannya diatas nakas.
"R... Reva—Aa?" terdengar suara, Eva menoleh. Kening Davian berkerut, wanita itu memilih duduk tepat dibibir ranjang. Tangannya terangkat bergerak menuju kening Davian sedangkan tangan lainnya menggenggam jemari dari lelaki itu.
"Erghhh..." Seperti mimpi buruk. Eva menatap dalam sosok Davian.
Jemari halusnya menyapu kening hingga surai rambut milik lelaki itu. Eva lalu berbisik—
"Ya... Aku disini Davian..."
Bisiknya teramat pelan. Wanita itu menunduk, membenturkan pelan kedua kening mereka—
Cup~
Kecupan lembut mendarat tepat disana sembari merasakan embusan napas teratur milik Davian Eva tersenyum bahagia.
"Tunggu aku" ucapnya sebelum memilih ikut terlelap disamping lelaki itu.
Selamat tidur Davian, batin Eva pada rembulan dan heningnya malam bersamaan dengan musnahnya seluruh aura hitam yang mengelilingi apartemen tersebut.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...