Crazy Baby

Crazy Baby
Adam (Side Story 4 Part 2)


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...A d a m...


...____________________...


...____________...


...______...


..._...


"A—Adam?" Eni membeku, baru beberapa detik dia membuka pintu kamar lelaki itu tapi sudah disuguhkan pemandangan dewasa. Wajah Eni merona, dia menutup kembali pintu kamar tersebut dengan gerakan pelan.


Kreet~


Berbeda dengan reaksi Eni Adam melenguh malas, dia menarik sesuatu yang tertanam dalam tubuh jala*ng sewaannya.


"Kau boleh pergi," ucap Adam dingin terhadap wanita asing tersebut. Sang wanita mengangkat bahu acuh, asal mendapatkan uang dia tidak akan bertindak merepotkan—tak seperti beberapa jala*ng yang pernah Adam sewa. Lelaki ini jadi repot saat mengurus mayat mereka lalu kembali menghidupkan para manusia itu dengan kekuatan miliknya. Ada teknik tertentu, makanya Adam bisa dengan sangat gamblang-nya mematahkan leher seseorang. Adam mengambil celana longgar miliknya lalu berjalan keluar kamar tanpa atasan.


Tap...


Tap...


Tap...


Kenapa Eni kembali ke apartemennya? Apa ada urusan tertentu hingga membuat wanita ini repot-repot berbalik arah kesini lagi. Adam lihat sosok wanita yang sedang ia cari berdiri di pojokan ruangan dengan tampang depresi.


Haha |


Hal itu mengundang tawa dari Adam. Seolah dirinya masih suci saja. Wanita ini pasti lupa 'kalau dia juga pernah di gagahi' oleh lelaki bernama Adam ini beberapa kali. Bagaimana bisa Eni masih menganggap dirinya rapat? Lucu.


Obatnya pasti bekerja dengan baik. |


"Ada masalah Eni?" Tanya Adam membuat tubuh Eni tersentak kaget, wanita itu menoleh—maniknya bergerak gelisah. Entahlah, Eni juga tak tahu. Rasanya ada sesuatu yang berhasil membuat dirinya gugup secara tiba-tiba.


"Ti-tidak, aku hanya ingin bilang kalau aku meninggalkan luaran baju ku di kamar mu." cicit Eni.


Ah! Pantas saja dia kembali ke apartemen.


Adam mendekat, dia berjongkok tepat didepan Eni. Tangan lelaki itu menggapai pucuk kepala wanita itu, Adam tersenyum simpul sambil berkata—


"Kenapa tidak diambil besok saja atau paling tidak hubungi aku lebih dulu..." ucap Adam. Eni menunduk, dia melihat ada sesuatu yang masih tegang dibawah Adam. Wanita itu menelan salivanya gugup.


"Ha-ha... maaf, aku mengganggu waktu mu, aku tidak tahu kalau ka-kau sedang sibuk..." tutur Eni menyahuti Adam dengan nada gugup.


Dari kejauhan sosok wanita seksi di dalam kamar Adam keluar, berjalan santai meninggalkan mereka. Bahkan Adam tampak acuh tak acuh tidak seperti Eni yang merasa terganggu. Kalau boleh jujur Eni merasa aneh akhir-akhir ini, dia rasa kalau sikapnya mulai melunak ketika menghadapai Adam.


Tidak ada raut kebencian atau kemarahan lagi. Sejenis itu |


Ini tak wajar, Eni pikir ada sesuatu yang janggal tengah terjadi dan Eni tidak tahu apa itu.


Krett—


Sosok wanita seksi yang meninggalkan ruangan kamar menghilang ketika dia melewati pintu keluar utama. Eni bernapas lega, entah pada apa tapi sepertinya dia melupakan kalau sosok Adam tengah memperhatikan dirinya sedari tadi dengan tubuh yang panas.

__ADS_1


Eni melirik dari balik ekor matanya, deru napas hangat terasa menyapu lembut permukaan wajah milik wanita itu. Sial, ini alarm bahaya. Dengan sekuat tenaga Eni mendorong tubuh Adam yang tengah panas hingga jatuh.


Bugh!


Menimbulkan suara renyah. Dengan wajah memerah Eni berdiri, menunjuk arah pintu kamar mandi.


"Mandi air dingin sana!" Lugas Eni disambut wajah kusut dari Adam.


"Kejamnya~" sahut lelaki itu menurut.


...***...


"Kau akan terkena penyakit jika terus seperti itu?!" Tegur Eni keras. Adam menghela napas lelah, telinga miliknya sudah cukup puas mendengar ocehan dari wanita itu selama 2 jam penuh. Malam semakin larut, bahkan Adam mulai bosan, dia hanya melihat serta membiarkan Eni bertindak semaunya. Wanita itu persis menunjukan sifat asli miliknya sama seperti dulu, ya memang sikap dingin tidak cocok dengan Eni tapi kadang itu terlihat manis. Seperti kucing dalam got, haha—ketakutan.


"Lalu aku sebaiknya bagaimana nona?" Sahut Adam berniat menggoda wanita tersebut. Eni mendelik kesal, dia menyilangkan tangan ke dada lalu menunjuk kening Adam dengan jemarinya. Meminta lelaki itu untuk menggunakan otak miliknya, jangan hanya dipajang.


Adam merotasi matanya jenuh.


Lelaki itu menangkap jari telunjuk Eni lalu menjilatnya. Hal ini membuat Eni terkejut hingga memilih menjaga jarak dengan Adam secara spontan.


"Menjijikan!"


Adam terkekeh geli, dia menopang dagunya bosan.


"Jika yang ku lakukan berbahaya, aku harus apa? Apa kau mau menggantikan posisi para wanita itu untuk memenuhi hasrat milik ku? Hitung-hitung satu wanita tetap saja,"


Deg!


"Hah? Apa?"


Kali ini sebenarnya Adam berniat bercanda tapi ketika dia menatap lekat wajah Eni lelaki itu terbelalak kaget. Dengan panik Adam mencoba menggapai pergelangan tangan wanita tersebut namun ditepis kuat oleh Eni.


PLAST!


"Eni!" Seru Adam.


Pandangannya tak fokus.


"ENI!!"


"DIAM?!"


Mulut lelaki itu bungkam. Reaksi ini persis seperti dulu, saat Adam pertama kali membobol aset milik Eni. Akan jadi bahaya jika wanita didepan Adam ini mengingat sesuatu. Tidak dalam pengaruh obat.


Akan sia-sia usaha mencuci dan dan melemahkan otak wanita tersebut.


"Ku mohon dengarkan aku Eni, aku hanya bercanda—!"


"Ku bilang diam."


Degh!


Lidah Adam kelu tubuhnya membeku, manik milik Eni berkilat. Warna hazelnya menyala terang dengan ekspresi dingin.


"Jangan coba menyentuh ku!" Pinta Eni tegas ketika tanpa sadar Adam mencoba menenangkan wanita itu yang tiba-tiba bertindak agresif dengan gerakan tubuhnya.


"Jangan..." gumamnya lagi, kali ini bernada rendah.


"Aku ingin pulang," Eni menunduk. Dia berbalik cepat dan hendak berlari, mengetahui hal tersebut Adam berusaha mengejarnya hingga membuat mereka tersungkur bersamaan.


Bugh...


"AAAAAA! TIDAK! MENJAUH! MENJAUH?!"

__ADS_1


Telinga Adam seperti ditusuk jarum saat mendengar Eni tiba-tiba berteriak. Wanita yang berada dibawah tubuh Adam meronta tak jelas, sial. Sepertinya ada beberapa kata yang membuat wanita ini terpacu hingga bertindak tak stabil begini.


Adam perlu menganalisa dosis obat racikan untuk wanita itu nanti ketika dia sudah menjadi tenang. Tak kunjung memenuhi permintaan Eni, wanita yang sudah dirundung oleh rasa takut dan gelisah itu mengaktifkan kekuatannya.


Dia menjadi tidak bisa disentuh lalu kabur. Adam bergerak cepat tapi wanita itu sudah menghilang dari hadapan Adam.


"SIAL!"


BUGH!


Adam meninju kesal lantai hingga retak. Kejadian ini akan ia tambahkan di catatan miliknya; agar bisa jadi bahan pertimbangan dosis obat yang perlu Adam berikan nanti.


Tunggu saja Eni, tunggu.


.


.


.


.


.


Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!


Rasanya jantung Eni seperti ingin pecah.


"Hosh! Hosh!" Napas wanita itu bahkan terdengar tidak beraturan. Wanita yang saat ini bersembunyi dibalik selimut itu bergetar. Apa ini? Apa ini?


Kenapa kepalanya terasa sakit! Kenapa?!


Kenapa?


Kenapa dia seperti—ketakutan?


BADUM!


Manik Eni berubah kosong secara tiba-tiba, tubuhnya kembali tenang. Selimut yang tadi menutupi kini jatuh, wanita itu mendongak. Menatap hampa langit-langit ruangan dengan pencahayaan remang.


"Apa yang sedang aku lakukan?" Monolognya sendiri dengan wajah penasaran.


Wanita itu bahkan memiringkan kepalanya bingung, tak mengerti situasi apa yang tengah ia alami.


Sebenarnya apa yang terjadi?


"—pada ku?"


Hm?


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2