Crazy Baby

Crazy Baby
Menuju Selatan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...M e n u j u - S e l a t a n...


..._______________________...


...___________...


...____...


..._...


"Fush~" Zim mengeluarkan asap putih dari sela mulutnya. Lelaki itu menjauhkan cangklong yang berada di ujung bibir dengan tangannya.


"Aku tidak tahu kalau bangsa Sribër suka berguling-guling di tanah..." Eva menatap tajam macan kumbang itu, memang ini sedikit memalukan tapi mau bagaimana lagi; Eva perlu melakukannya paling tidak 1 kali dalam 3 hari agar bau tubuhnya tersamarkan.


"Ini hanya kebiasaan ku," jawab Eva acuh lalu berdiri dari tanah. Wanita yang mengenakan topeng dari kepala serigala itu berjalan mendekati Zim, sudah 11 hari rasanya mereka melakukan perjalanan bersama. Sejauh yang Eva amati Zim tidak seperti monster kebanyakan, dia lebih mirip manusia ketimbang Demon. Hanya saja pria itu di kutuk jadi setengah hewan. Haha.


"Hari ini kau menangkap apa Zim?" Tanya Eva kemudian, wanita itu duduk disamping api unggun yang menyala—dekat posisi Zim berada. Makhluk yang masih menghisap cangklongnya itu menunjuk arah lain dengan isyarat mata; ada hewan seperti kelinci dengan mata laba-laba. Tanpa berkomentar lagi Eva sudah tahu harus mengerjakan apa, wanita itu kembali beranjak seraya menggulung lengan baju miliknya. Mari memasak makan malam, batin Eva senang—berhasil membuat kelinci itu bergedik ngeri dengan manik berkaca-kaca.


"Kau cukup sadis dalam mengolah mereka Ève..." komentar Zim setelah beberapa kali mengembuskan asap dari cangklong. Dia selalu tidak tahan melihat proses memasak yang Eva tunjukan padanya, makhluk itu mengalihkan pandangan saat Eva mengangkat pedang panjang miliknya untuk memotong kepala kelinci. Benda itu seperti pisau daging saja, serba guna jika berada ditangan Eva.


"Benarkah?" Beo Eva, wajah wanita itu terlihat layaknya psychopath dimata Zim. Bagaimana bisa Eva menikmati proses potong-memotong tiap bagian kelinci lalu mengulitinya? Tidakkah dia sedikit saja merasakan perasaan kasihan karena sudah memutilasi makhluk imut tersebut? Sepertinya tidak.


Wanita itu pasti akan menjawab kalau ini semua dia lakukan demi cita rasa masakan. Omong kosong, Zim rasa Eva hanya sekedar suka melakukan hal-hal kejam; itu hanya pendapat pribadinya padahal Eva sesungguhnya tidak begitu, dia hanya suka makan.

__ADS_1


"Kau membuat apa kali ini Ève?" Tanya Zim.


"Sup,"


Obrolan ringan seperti ini selalu mereka lakukan untuk mengisi waktu luang di malam hari, ya dari pada mendengarkan para serangga dengan ukuran tak wajar bernyanyi menciptakan ilusi; lebih baik terjaga satu sama lain. Saat ini ke dua orang itu berada di perbatasan antara barat dan selatan, perlu waktu 3 hari lagi sebelum mereka sampai ke desa pertama yang berada dipinggiran daerah lalu ditambah 1 hari perjalanan menuju ibu kota. Waktu tempuh perjalanan normal adalah 20 hari tapi berkat Zim Eva bisa memangkas waktu sekitar lima hari dari biasanya. Semua ini karena Zim yang kenal dengan baik rute daerah sini. Masalahnya hanya satu, semakin ke selatan daerah—waktu malam akan menjadi semakin berbahaya atau lebih tepatnya musuh terbesar mereka.


Karena bagian selatan terkenal dengan hutan lebatnya, maka tak heran banyak makhluk tak jelas seperti serangga malam berkeliaran. Berbeda dengan daerah barat yang tandus dan di huni oleh para serigala jadi-jadian, daerah sini justru di huni oleh para insekta dan segala macam hewan predator mereka. Ditambah rata-rata penduduknya adalah bandit dan tentara bayaran. Seperti sarang penjahat saja, apa lagi yang Eva dengar dari Zim kalau mereka melegalkan tindakan saling membunuh untuk menyelesaikan masalah. Mengerikan~


"Supnya jadi..." seru Eva girang, meski isi kepala wanita itu memikirkan banyak hal tapi tangannya tak bisa diam, tanpa sadar wanita itu sudah menyelesaikan 1 masakan untuk makan malam mereka. Eva menyerahkan mangkuk dari tulang tengkorak kearah Zim yang disambut baik oleh macan kumbang tersebut.


"Masakan mu selalu yang paling enak Ève..." puji Zim jujur. Eva tersenyum, dia seperti mendengar Davian yang mengucapkan kalimat itu. Omong-omong sudah cukup lama Eva terperangkap disini demi mendapatkan batu jiwa, dia tak akan berbohong jika ditanya—


Apa kau merindukan Davian? Maka jawaban wanita itu akan sangat jelas.


Dia merindukan Davian.


...***...


Sebelum awan menghilang dilangit merah Eva tidak bisa tertidur nyenyak. Mungkin saja beberapa serangga akan menyerang mereka atau jenis lainnya tapi sejauh ini Eva atau pun Zim tidak pernah mendapatkan serangan. Kecuali oleh perasaan di awasi, Eva sadar kalau para makhluk itu selalu memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dari kejauhan; agak merinding—jujur tapi ya begitulah.


"Tidur saja Ève," ini permintaan Zim untuk kesekian kalinya. Haruskah Eva menuruti penuturan macan kumbang tersebut? Ya meski sebelum menjawab roh Eva sudah lebih dulu bergerak menuju pulau mimpi. Zim yang melihat tertawa kecil, dia mengarahkan kepala Eva keatas pangkuan miliknya. Dengkuran halus terdengar, ah... lucunya~


Srek! Srik?!


Telinga Zim bergerak kebelakang, dia baru saja mendengar suara semak-semak yang terdengar tak wajar. Makhluk itu menggeram; memperlihatkan taringnya. Sambil meletakan kepala Eva diatas sebuah bantalan lelaki itu lalu bergerak. Dia mengintai dari ujung ke ujung sesuai jarak pandang yang ia miliki.


"Grrrree!" Semakin ganas, Zim mendekati area semak. Tangan lelaki itu mengeluarkan pedang yang tersampir dipinggang kalau-kalau dia mendapat serangan kejutan. Tapi apa yang lelaki itu jumpai hanyalah kekosongan, tidak ada serangga ataupun makhluk lainnya disana—meski begitu macan kumbang ini sangat yakin kalau dia tidak mungkin salah dengar.


Tiba-tiba Zim berbalik, tangannya terangkat mengayun keudara. Suara benturan pedang terdengar—menghantam sesuatu.


TRANG!


Bandit 'kah? Pikir Zim cepat sambil bergerak kearah Eva. Tanpa membangunkan wanita itu Zim langsung mengangkat tubuh Eva bersama barang-barang yang bisa ia bawa.

__ADS_1


Swesh!


Anak panah kembali melesat, macan kumbang itu langsung menangkisnya bersamaan dengan sosok Eva yang terbangun. Tidak sempat menjelaskan situasi Zim malah menyuruh Eva untuk mengangkat senjatanya.


Respon Eva lebih baik ketimbang para petualang pemula yang pernah melakukan perjalanan dengan Zim. Wanita itu tidak bertanya, dia mengikuti sesuai intruksi yang diarahkan oleh Zim. Beberapa kali anak panah melesat di setiap sisi penjuru.


Sial, mereka terjebak?!


Punggung Eva membentur bagian belakang Zim.


"Selalu waspada Ève..." wanti Zim. Wanita yang diingatkan oleh macan kumbang itu mengangguk, dia menyahut—


"Tentu," sambil memasang posisi siap bertarung. Walau mereka berdua tidak mengetahui siapa musuh mereka, Zim dan Eva dapat dengan baik menangkis puluhan anak panah yang datang. Jika dilihat dari pola serangan sepertinya ada lebih dari 8 orang. Zim memberi isyarat pada Eva untuk memprovokasi; buat mereka keluar dari persembunyian.


Meski tidak tahu caranya bagaimana Eva maju tanpa ragu. Tiba-tiba ada satu anak panah melesat dekat dengan Eva, membuat wanita itu terkejut lalu berteriak.


"AAARGH! TIDAK—ZIM TANGAN KU!!! TERKENA PANAH?!"


Apa!!!


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2