Crazy Baby

Crazy Baby
Pernikahan


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...________________________________...


...P e r n i k a h a n...


..._______________________________...


..._____________________...


..._____________...


..._____...


..._...


Davian menatap datar seluruh gelagat Reva. Gadis itu terlihat sibuk membereskan meja bar—tempat mereka sarapan tadi. Bersama secangkir coklat panas ditangannya, Davian berucap.


"Kau lupa kita hari ini libur,"


Jlep! Rasanya seperti ada anak panah yang meluncur tiba-tiba, kemudian menancap tepat dijantung gadis itu. Reva tersentak malu; ia menunduk.


Kejadian ditempat tidur masih segar dalam ingatan. Reva tak percaya dia menarik kencang daun telinga milik Davian. Lelaki itu pasti kaget; kesakitan karena dibangunkan dengan cara yang kurang enak?

__ADS_1


"Maaf," cicit Reva merasa bersalah seraya duduk di kursi meja bar yang berseberangan dengan Davian. Gadis bermanik kelam itu menaikkan pandangan, dia penasaran wajah seperti apa yang akan Davian tampilkan untuk menanggapi ucapan maaf dari Reva. Ya meski Reva bisa menebaknya.


Hiks...


Benar saja, Davian hanya memberikan tatapan dingin kearah Reva dengan bibir yang masih senantiasa menempel pada ujung cangkir berisi coklat panas. Reva menelan saliva kasar. Oh ayolah~ mereka tadi malam juga bertengkar, masa pagi ini harus bertengkar lagi.


"Maafkan aku Davian, okay?" Davian merotasi matanya.


"Aku akan pulang lalu ke tempat kakek setelahnya," ucap Davian menyentakkan pikiran Reva. Reva berwajah penasaran, untuk apa Davian mengucapkan hal tersebut? Bukannya setelah ini Davian memang harus pulang?


Tidak mungkinkan dia menginap terus-terusan disini? Tidak 'kan? |


"Lalu?" beo Reva. Tak mengerti arah pembicaraannya.


"Aku ingin kau ikut," sambar Davian cepat setelah Reva bersuara. Kening Reva berkerut tebal, gadis itu menatap tak mengerti ajakkan Davian.


Tak~


"Kita perlu memberi kabar setelah kejadian tempo lalu," terang Davian sambil mendaratkan cubitan gemas pada pipi gadis bermanik kelam didepannya. Reva memekik kaget.


"Argh! Hepas DAVian—" ringis Reva. Pipinya memerah; dengan tampang memelas Reva mencoba minta ampun pada Davian yang acuh tak acuh, lelaki itu menyeringai senang bisa membalaskan dendamnya ketika di ruang tidur tadi.


Tak kunjung mendapat respon—tangan Reva terangkat, mencoba menjauhkan jemari Davian di pipinya tapi berhasil ditepis lelaki bermanik hazel itu. Mata Reva berkaca-kaca, gadis itu nyaris menangis hingga akhirnya Davian menyerah dan melepaskannya.


"His!"


Terdengar Reva menggerutu, hidung dan matanya berair. Gadis itu mengelus pelan pipi kanannya yang terasa panas.


"Jadi bagaimana? Kau ikutkan Reva?" tanya Davian memastikan. Dengan pandangan kesal, bibir cemberut, dan wajah tak suka Reva membuka suaranya—menyahuti pertanyaan Davian.

__ADS_1


"Tidak..." ucap gadis itu ketus. Davian tersentak kecil dalam diamnya, tak mengira kalau Reva akan menolak. Ditatapnya dingin wajah Reva.


Gadis yang mendapat tatapan menusuk itu mengangkat kedua tangan ke udara dengan gestur; tunggu dulu—jangan marah, isyarat wajahnya pada Davian.


"Aku harus menemui seseorang," ujar Reva. Mimik muka Davian mengendur, lelaki itu kembali ke ekspresi dasarnya meski ada sedikit aura intimidasi yang masih tertinggal.


"Siapa?" tanya Davian kurang berminat, dia mulai merasa malas melanjutkan percakapan mereka; sampai telinga lelaki itu mendengar sesuatu dari mulut Reva. Tepatnya seseorang.


"Josan,"


BRAK!


Reva terkejut, Davian menggebrak meja sambil melayangkan tatapan bengisnya kearah Reva. Rahang lelaki itu mengeras, Davian kembali membuka bibirnya; mengajukan sebuah pertanyaan pada gadis diseberang meja.


"Urusan apa?" tutur Davian bernada benci. Reva menghela napas panjang, jika bisa dia juga enggan bertemu dengan lelaki itu. Tapi kali ini Reva tidak bisa menolak karena Josan si bajingan itu mengadu 'sesuatu' pada ibunya.


"Per-nikah-an."


...***...


...Tbc......


...Like, vote, dan comments-nya yah......


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2