
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...______________________________...
...P a g i...
...______________________________...
...________________...
...________...
...___...
..._...
"Ergh..." Reva mengerang gelisah, rasanya pengap— seperti ada sesuatu yang melilit pinggang gadis itu. Dengan berat hati Reva membuka kelopak matanya, memastikan sekitar. Tak ada yang aneh. Semua perabot dan cat dinding ruangan masih sama, ini masih kamarnya. Gadis itu menunduk; keheranan melihat sebuah selimut panjang yang menutupi tubuh hingga ke dada.
Pantas saja panas, pikir gadis itu sambil menurunkan selimut dengan gerakkan halus. Tapi kejadian lucu serta aneh tertangkap mata Reva, sepasang tangan; putih dengan massa otot yang tidak terlalu kokoh terlihat tengah melilit kencang pinggangnya.
"Hah?"
__ADS_1
Wajah Reva horor. Menatap lengan milik siapa itu. Meski mereka baru kenal beberapa waktu yang lalu dan terikat bersama dalam sebuah ikatan takdir yang aneh—mustahil Reva melupakannya begitu saja. Terlihat, dengan jelas Davian menyembunyikan wajah miliknya disela buah dada Reva. Terlelap dengan kelopak mata terpejam rapat bersama dengkuran halus dari celah mulut.
Reva mengangkat tangannya; gatal ingin mendorong kepala Davian dan membuat lelaki tanpa atasan itu jatuh tersungkur diatas lantai marmer yang dingin, tapi gadis itu menahannya begitu melihat netra hazel itu perlahan terbuka. Wajah polos nampak disana, Davian menatap lugu sosok Reva sampai pada detik ketiga—matanya tiba-tiba membola bersama rona merah yang muncul dimana-mana. Tengkuk lelaki itu seperti tomat.
"Pft!" Reva menahan tawanya. Apa-apaan ekspresi manis itu? Davian yang mendapat respon diluar dugaan semakin panik. Lelaki itu melepas tangannya berdiri panik lalu—
"Bugh!"
Terjatuh konyol seperti harapan Reva.
"Hahaha!" tawa Reva pecah, dia terbahak-bahak menanggapi tingkah Davian. Lelaki itu kehabisan muka, dia menunduk malu—tanpa bergerak, mematung ditempat. Reva menyapu sudut matanya yang berair, usai tertawa gadis itu bergerak dari ranjang; turun ke lantai lalu duduk disela kaki Davian.
Dengan berani Reva menggapai rahang pemilik hazel; membingkainya dalam telapak tangan kecil juga rapuh.
Davian menurut. Pandangannya dibawa kearah manik kelam Reva, mereka saling menatap—sejenak dalam keheningan. Lalu celah bibir pucat gadis itu terbuka, serangkai kata muncul dari sana.
"Bisa jelaskan, situasi apa ini?" tanya Reva tenang.
...***...
Seolah semua hal ini 'wajar' Reva hanya mengangguk paham lalu meminta maaf karena sudah merepotkan Davian. Lelaki itu lagi-lagi menyelamatkannya dari Josan, si mesum biadab tak bermoral.
Tak~
Reva meletakan cangkir kaca diatas meja bar, Davian menyambutnya. Tanpa menunda sedetik pun, lelaki bermanik hazel ini langsung mencicipi coklat panas buatan Reva. Gadis ini pandai memasak, puji Davian kala mengingat menu sarapan dirinya pagi ini.
"Oh ya? Kau memang punya kebiasaan tidur tanpa atasan?"
__ADS_1
"Uhuk!" Davian tersedak, sial! Lidahnya terbakar. Lelaki itu kaget mendengar penuturan sepihak Reva. Mengingat-ingat lagi kejadian diatas ranjang pagi tadi, mau tak mau Davian menggangguk. Wajahnya merona.
Hal itu membuat senyum cerah Reva kembali muncul. Gadis itu terkekeh lalu berjalan menuju wastafel; memunggungi Davian—gadis itu mencuci tangannya.
Davian termenung, tak pernah secerah itu Reva tersenyum. Dia jadi teringat alasan sebenernya kenapa bisa tertidur tanpa atasan, usai pingsan. Reva kembali bertingkah aneh, entah pukul berapa saat itu. Semuanya sunyi. Davian melihat Reva menangis dalam keadaan tidak sadar, lelaki itu iba. Tangan-tangan kecil Reva kemudian merangkul tubuh pemilik hazel, meraung keras diatas dada Davian—menumpahkan air mata disana.
Setelah beberapa jam, gadis itu akhirnya tenang; meninggalkan Davian dangan pakaian basah. Karena risih, Davian memilih melepas pakaian. Siapa kira dirinya malah terlena—tidur nyenyak, memeluk pinggang Reva hingga mentari muncul kembali. Ah! Malunya.
"Davian?"
"Ah!"
Lamunan Davian pecah saat Reva memanggil namanya. Gurat bingung terpatri diwajah Davian.
"Kita ada kelas pagi hari ini,"
Hah?
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye...
...:3...