
"Huh~" Davian menatap hampa langit-langit ruangan. Lelaki itu kembali terpejam, tangannya terangkat menutupi separuh wajah. Lama terdiam Davian kemudian berbisik—
"Tidak bisakah kau diam disatu tempat?" Gumam si hazel seorang diri.
Baru saja langit pagi muncul, bintang-bintang yang menjadi mataharinya. Davian harap bisa melihat wajah milik Eva dipagi hari tersebut tapi nyatanya tidak; dia kembali ditinggalkan—sendirian.
Maafkan aku Davian, aku harus pergi.
Bersama catatan kecil berisi kalimat singkat yang tak berarti sama sekali.
"ARGHHHH! INI MENYEBALKAN!!" Pekik Davian kesal.
...***...
Untuk : Zim
Maaf meninggalkan mu di tengah perbatasan Zim. Itu lebih baik ketimbang kabur sendirian atau membiarkan mu bertemu dengan Davian; kau tahu lelaki yang mengejar kita kemarin. Aku tidak ingin kalian berpapasan bahkan sampai bertengkar jadi aku memilih membawa mu pergi saat wujud mu masih dalam bentuk kucing lucu. (Jujur kau sangat menggemaskan saat itu, hehe...)
Lalu bukannya aku tidak ingin melanjutkan perjalanan ke tenggara bersama mu—tepatnya aku tak bisa membawa mu karena kekurangan waktu. Aku juga tidak ingin melibatkan mu terlalu dalam dengan masalah ku, maaf. Padahal aku yang mengajak mu untuk pergi kesana tapi malah membatalkannya secara sepihak. Oh ya, Zim aku ingin mengucapkan terima kasih pada mu. Meski waktu perjalanan yang kita miliki cukup singkat tapi aku merasakan banyak hal; dan itu menyenangkan. Ku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti lalu memulai petualangan baru, tentu jika kau tidak melupakan siapa aku.
Bersama mu membuat ku bebas Zim, terima kasih.
Selamat tinggal.
^^^—Ève—^^^
"Seharusnya kau mengucapkan sampai jumpa bukannya selamat tinggal Ève..." gumam Zim hambar. Lelaki itu mencengkeram kuat surat yang baru saja dia baca sebelum memilih untuk menyimpannya. Macan kumbang berwarna gelap itu mendongak, langit merah menyambut penglihatan matanya.
"Jika itu yang kau ingin kan Ève, maka aku akan menunggu mu..." ucap Zim lagi sambil berusaha untuk tersenyum cerah, meski sedikit dari hatinya nampak terluka parah.
Semoga tujuan mu tercapai wahai serigala betina ku.
Doa ku selalu menyertai mu.
...______________________...
...T e n g g a r a...
...______________________...
...___________...
__ADS_1
..._____...
..._...
TAP!
TAP!
TAP!
Eva bergerak cepat seorang diri menuju tenggara, bulu-bulu serigala dari topeng tengkorak yang ia kenakan terayun sesuai irama langkah kaki. Beberapa bercak darah terlihat mengotori pakaian miliknya, tidak ada raut ceria seperti biasanya. Wanita itu fokus bergerak kedepan tanpa menoleh kebelakang, bisa dibilang tekadnya sudah bulat. Beberapa bandit sempat mencegah Eva sebelum keluar dari perbatasan kalian tahu apa yang wanita ini lakukan? Dia dengan brutal memenggal kepala mereka.
Manik cerah Eva menjadi gelap, ini bukan jenis pekerjaan yang dia sukai tapi Eva tidak punya pilihan lain. Semakin cepat dia bergerak semakin lebar jarak diantara dirinya dengan Davian.
"Tch!" Eva berdecih kesal. Wanita itu mengeluarkan pedang yang selalu tersampir dipinggangnya, beberapa jebakan terlihat jelas. Sepertinya ada grup bandit lainnya yang berjaga di wilayah ini tanpa menunggu waktu untuk memancing mereka; Eva menerobos masuk—membuat kekacauan besar agar mereka keluar dengan sendirinya.
"Ada yang menyerang!" Teriakan dari seseorang terdengar berbarengan dengan bunyi terompet panjang. Tanda agar mereka bersiaga. Eva menatap dingin dari kejauhan, wanita itu mulai menyamarkan keberadaan tubuhnya lalu menyerang satu persatu bandit tersebut. Dengan sekali serang, Eva merobek leher mereka. Dia memanfaatkan pergerakan lincah dan tubuh kecilnya untuk—membantai habis para bandit yang bahkan tidak tahu alasan kenapa mereka diserang. Bersama topeng tengkorak berkepala serigala itu, Eva menyaksikan kebegisan yang ia lakukan. Tanah banjir akan darah.
Eva berbalik, sekali lagi dia tidak menoleh. Kembali melanjutkan perjalanan dengan prinsip 'bunuh' siapa saja yang menghalangi jalannya.
Sambil terus bergumam.
"Sebentar lagi Reva..."
...***...
Wanita itu membersihkan wajah dengan air sungai didepannya. Cukup lama dia melakukan perjalanan dan baru sekarang memilih untuk beristirahat; setelah puluhan kilometer terlalui Eva rasa ini cukup aman. Darah para bandit bahkan sudah mengering di pakaian wanita tersebut—tanpa ragu Eva melepaskan bajunya lalu mencuci benda itu di pinggiran sungai. Kini hanya menyisakan tanktop dan celana pendek, Eva mengatur baik-baik pakaian basahnya agar kering diatas semak-semak belukar. Wanita itu lalu menoleh, dia menatap dalam aliran sungai yang nampak tenang di kejauhan.
Tanpa sadar tubuh Eva tergerak, ia berjalan menuju tengah sungai dengan mengenakan topeng wajah miliknya. Wanita itu ingin sekali menceburkan diri didalam aliran tenang tersebut namun belum sempat merealisasikan idenya gerakan Eva malah tertahan.
"Lepaskan dulu benda konyol itu..."
Eva mendongak cepat, matanya membola. Daun telinga dari wanita itu tidak salah mendengar—ada yang menegur Eva barusan dan benar saja. Wanita berpakaian aneh serta dipenuhi perhiasan duduk diatas batu tepat diseberang aliran sungai. Sejak kapan? Eva bergerak waspada. Dia menatap dari atas hingga bawah wanita berpakaian unik didepannya tapi—ada sesuatu yang janggal.
Warna kulit itu? Dia seperti manusia?
"Jangan menatap agresif seperti itu pada ku," ucap wanita itu pada Eva. Mahkota kecil yang dikenakannya berkilau.
"Kau yang mengganggu waktu istirahat ku, ini tempat persembunyian milik ku..." monolog dia. Eva melepaskan posisi waspada, dia kali ini menatap baik-baik wanita itu sebelum melontarkan pertanyaan.
"Ka-kau manusia?" Tanya Eva ragu. Wanita dengan mahkota kecil dikepalanya melirik, dia seolah menjawab pertanyaan Eva dengan gestur tubuh 'iya? Terus kenapa?'—sedikit menyebalkan. Eva melepaskan topeng tengkorak yang menutupi wajah manusianya, tiba-tiba mata wanita itu membola. Bibirnya terasa kelu. Wanita itu bangkit dari duduk santai miliknya lalu menceburkan diri ke dalam sungai; tempat Eva berada.
__ADS_1
Bingung dengan tindakan impulsif yang ditunjukkan, Eva terdiam. Wanita itu mendekati tubuhnya hingga terlihat rona mata yang kehilangan warna. Eva merasakan tangan gemetar dari wanita itu membingkai wajahnya.
Manik layaknya orang buta itu bergetar, tanpa sadar menitikkan air mata.
"Re? Reva?" Panggilnya mengejutkan telinga milik Eva.
"Apa?" Beo Eva. Wanita itu spontan melangkah mundur, siapa wanita didepannya ini? Kenapa dia bisa tahu perihal Reva padahal mereka tidak saling kenal, mungkin?
Nginggg!!!!
Dengungan nyaring terdengar memekakan telinga, Eva menutup cepat kedua daun telinganya bahkan wanita itu nyaris memilih opsi untuk menenggelamkan diri apabila suara keras itu tak kunjung hilang.
"Argh!" Eva meringis, kepalanya sakit. Meski hanya dalam waktu beberapa detik wanita itu berhasil dibuat menangis.
Apa ini! Kenapa kepala dan telinganya terasa sakit!
Hentikan!
HENTIKAN!
Jerit Eva dalam hati. Wanita bermahkota didepan sana menahan tubuh Eva yang tiba-tiba merosot jatuh. Badannya lemas, dengan mata sayu Eva menatap manik buta milik wanita itu. Dia membalas pegangan yang diberikan.
"K-kian?" Seru Eva sebelum kehilangan kesadaran miliknya. Jatuh diatas rangkulan tubuh sahabat lama yang sempat menghilang.
Kian? Apa itu kau? KIAN?
KIAN!
...***...
...Tbc...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...