
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...T e g a n g...
..._________________________...
...______________...
..._____...
..._...
Davian mengelus pelan bekas jitakkan Reva, lelaki itu memanyunkan bibir. Melihat tingkah manja Davian membuat Reva merinding geli, dia masih sedikit kurang terbiasa dengan sifat manja lelaki itu.
Omong-omong mereka belum sarapan pagi, mengingat hal itu Reva menjauhkan diri dari Davian—menempatkan tubuh yang lumayan membaik dari pada sebelumnya di bibir ranjang. Telapak kaki gadis itu menyentuh lantai, Davian memiringkan kepala; penasaran ketika Reva menjauh darinya.
"Mau kemana?" Entah Davian sekadar basa-basi atau dia memang tidak tahu, lelaki itu jadi sedikit sensitif apabila Reva menjauhinya.
Reva menoleh saat dia sudah berdiri.
"Membuat sesuatu yang bisa dimakan." Singkat, padat, dan jelas sebelum gadis bermanik kelam itu meninggalkan sosok Davian yang termenung dengan wajah lugu. Apa hari ini Davian berpura-pura menjadi orang bodoh? Entahlah.
Punggung Reva perlahan menghilang dari pandangan hazel bersamaan dengan daun pintu yang tertutup.
Blam!
"Hosh~"
Hela napas terlihat dari celah bibir Davian, lelaki itu menyisir surai rambut miliknya kebelakang dengan sela jari. Sebentar dia terdiam usai kepergian Reva—ditatap oleh manik hazelnya langit-langit ruangan.
Sempat merasa gugup, Davian merasa bersyukur karena Reva tipe yang tidak memaksakan sesuatu. Davian jadi tidak perlu menjelaskan kebenaran tentang tato itu. Tangannya terangkat, jemari dengan pola seperti cincin telihat. Di tatap lekat oleh Davian.
Simbol kepemilikan. |
Pikir Davian, memang simbol ini akan muncul tapi setelah melakukan beberapa proses; singkatnya 'di sengaja'—semakin sering meletakan energi diri pada pasangan dengan melakukan kontak fisik, semakin kuat kepemilikan. Sederhananya tidak akan ada yang berani menyentuh jika aroma pasangan mereka lebih kuat. Meski tidak berpengaruh dengan manusia tapi hal ini bisa menjaga Reva dari pengaruh aura negatif sehingga dia tak akan tercemar oleh emosi gelap lagi.
Memilih beranjak dari tempat tidur, Davian menjentikkan jari. Portal dimensi muncul; tangan lelaki itu terangkat menuju area sana lalu keluar lagi di detik selanjutnya, seperangkat pakaian lengkap dengan celana sudah berada di genggaman tangan.
Waktunya mandi, batin lelaki itu sambil bersiul senang—menggapai handuk milik Reva yang biasa di gantung dekat lemari pakaian gadis itu.
...***...
"Davian?! Kau menggunakan handuk ku lagi?" tanya Reva sedikit geram. Lelaki yang memiliki nama Davian tersebut membeku, tangannya mengambang diudara; tidak jadi menyuap makanan ke mulutnya
__ADS_1
Keringat dingin muncul ditengkuk, Davian mati kutu tak tahu harus berdalih apa pada Reva yang baru saja mandi usai menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Hehe..." Pemilik hazel itu hanya bisa terkekeh hambar sambil berbalik dari meja bar kearah sumber suara, Reva.
Deg!
Davian tersentak, mulutnya menganga. Kedua bola mata hazel itu membola saat mendapati Reva yang hanya menggunakan kaus tipis dan celana pendek yang menurut Davian lebih mirip dalaman, di tambah keadaan rambut masih setangah basah. Titikan air mengalir melalui lekuk leher hingga ke tulang selangka gadis itu.
BLUSH!
Davian dibuat merona, lelaki bermanik hazel ini cepat-cepat berbalik badan. Tubuhnya bergetar. Sial! Sial! Sial! Rutuk Davian kesal, menutup sesuatu yang berada disela kakinya.
Dia ingin menangis pilu, huhu~ Ada yang tegang dibawah sana.
.
.
.
Davian tidak mengira dia akan kembali berada dibawah pancuran air kamar mandi. Lelaki itu hanya bisa berwajah bengong, roh tubuhnya seperti terbang entah kemana. Davian bersyukur bisa kabur tepat waktu sebelum Reva menyadari kondisi biologis tubuhnya, bisa-bisanya Davian terangsang.
Bugh~ lelaki itu membenturkan kepala pelan ke dinding kamar mandi.
"Setelah keluar dari sini, alasan apa yang harus ku ucapkan pada Reva?" gumam Davian pasrah. Mandi dua kali itu kebiasaan ku? Konyol, siapa yang akan percaya.
"Hah..."
R. I . P
Kenapa itu tegang kembali padahal dia hanya sebentar memikirkan Reva. Jika dibiarkan sesak, jika di urus dia malu. Onani dengan memikirkan Reva, ARGHHH! DAVIAN FRUSTRASI!
"Maafkan aku Reva..." ucapnya pelan dengan nada bersalah. Tangan kiri Davian bergerak, dia meremang ketika menyentuh miliknya sendiri—sambil memejamkan mata, kalian bisa tebak apa yang terjadi setelahnya.
"Erghm! Argh~ hosh... hosh..." Haruskah Davian merasa senang karena tidak memerlukan waktu yang lama? Wajahnya lega. Lelaki itu membuka kembali kelopak mata, manik hazel itu menatap jari-jari tangan yang sudah dipenuhi oleh cairan lengket berbau aneh menurut Davian.
Haha. |
Sungguh biadab sekali moralnya.
...***...
Cklak~
Davian melangkah keluar dari pintu kamar mandi lengkap dengan pakaian baru. Kembali ia melenggangkan kaki santai menuju arah dapur, berharap melihat Reva yang masih menyantap sarapan paginya di meja bar tapi ke-sunyian aneh malah menyambut Davian.
Lelaki itu mengerutkan kening, langkah kakinya melambat dengan sorot mata menatap dalam sekitar.
Rona wajah yang cerah mengendur seketika saat sosok Reva tidak ada di tempat. Kemana gadis itu? batin Davian penasaran, kembali menjelajah setiap inci ruangan dengan manik matanya.
Ku pinjam indra mu—Cerberus!
__ADS_1
Rapal Davian dalam hati, seluruh keadaan berubah. Suara binatang-binatang terkecil sekalipun masuk melalui telinga, penglihatan Davian menjadi luas, hidungnya berubah tajam. Tiba-tiba aroma lain merembes masuk kerongga hidung Davian.
Bukan bau Reva, aroma asing yang sayangnya Davian kenal milik siapa ini. Rahang lelaki itu mengeras, terdengar geraman dari arah mulutnya.
"Bajingan!" desis pemilik hazel dengan wajah teramat murka.
JOSAN!
Lelaki pemilik nama itu dalam masalah, dia mencuri sesuatu dari monster ini. Jangan harap kau selamat—Josan.
"AKU AKAN MEMBUNUH MU!!!"
Teriak lantang Davian sebelum menghilang melalui ruang dimensi, meninggalkan kediaman Reva.
Percayalah; wajah Davian sangat bengis. Dia tak main-main, mungkin saja lelaki itu kali ini akan benar-benar membunuh Josan.
Kita lihat saja.
...***...
"Ergh?" Erangan khas bangun tidur terdengar, Reva membuka kedua matanya sambil mencoba memfokuskan pandangan. Kapan gadis itu tertidur? Seingatnya dia berada di dapur, menyaksikan tingkah aneh Davian yang tiba-tiba ingin ke kamar mandi lagi.
"Sudah sadar sayang ku~"
Deg!
Reva menampilkan wajah horor ketika telinganya mendengar nada suara familiar membelai lembut serupa bisikan setan. Gadis itu menilik dari balik ekor mata, sosok Josan yang tengah duduk sambil menatap dirinya di atas sebuah ranjang besar. Ranjang? Tunggu!
Cepat Reva terduduk, matanya menatap liar sekitar. Dimana ini?! tanya dewi batinnya penasaran.
"Haha..." terdengar kekehan khas dari Josan, nadanya seperti menertawakan gadis itu. Reva mengalihkan pandangan kearah lelaki itu, lingkar hitam menghiasi bagian bawah mata milik Josan.
"Kau cantik," gumam Josan tak masuk akal sampai Reva menyadari sesuatu—bahwa dirinya tengah tak mengenakan sehelai benang sekali pun.
...!!!...
.
.
.
...T b c ......
...Jangan lupa like, vote dan comments......
...Terima kasih,...
...bye...
...:3...
__ADS_1