
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...M e n g h i l a n g...
...____________________...
...___________...
..._____...
..._...
Seperti memiliki pembantu, batin Davian sambil sesekali mencuri pandang kearah Eva yang bergerak kesana kemari ketika pagi untuk menyiapkan sarapan.
Lelaki dengan cup gelas ditangannya itu menopang dagu, masakan Eva sudah menempel di lidahnya. Davian akui kalau wanita itu benar-benar pandai dalam memasak.
"Hah~" lenguh Davian. Sepertinya lelaki ini mulai merasa nyaman dengan kehadiran Eva lagi pula ini sudah lewat 1 bulan labih, mungkin jalan 2 bulan—tidak ada kabar dari pihak kepolisian; yang artinya sosok Eva bukanlah orang hilang atau sejenisnya. Meski ada kemungkinan kecil kalau ada pihak tertentu yang tidak melaporkan atau bisa saja identitas Eva tidak pernah terdaftar, itu saja. Tapi lupakan, memikirkan itu membuat lelah.
Haruskah Davian biarkan Eva tinggal dengannya? Hitung-hitung wanita itu bekerja membersihkan apartemen, memasak, dan lain-lain. Tak ada ruginya kecuali Eva minta bayaran, haha |
Davian menggeser piring miliknya seusai sarapan. Lelaki itu menyeruput habis cokelat panas dalam cup gelas lalu berdiri, dia membenarkan posisi dasi di lehernya agar terlihat lebih nyaman.
"Aku berangkat dulu," ucap Davian pada Eva yang masih sarapan di meja makan. Wanita dengan ciri khas wajah ceria itu mengangguk, mulutnya penuh dengan makanan hal itu membuat Davian terkekeh geli; tanpa sadar dia menepuk pelan pucuk kepala wanita itu lalu beranjak menuju ruang tamu untuk mengambil tas kerjanya.
"Pastikan kau tidak menerima tamu asing dan kalau kau mau keluar kunci pintu apartemennya?!" ucap Davian lantang dari kejauhan. Terdengar gumaman tak jelas dari Eva yang berusaha menyahuti lelaki itu tapi mulutnya masih terlalu penuh.
"Haha... dasar, telan dulu?!" ucap Davian mengingatkan lalu beranjak dari sana. Punggung lelaki itu hilang saat pintu utama apartemen tertutup rapat.
__ADS_1
Blam.
...***...
Davian melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya; benda yang baru saja ia beli setelah mendapat gaji bulan lalu. Masih ada 10 menit sebelum bus biasa datang, Davian meraba kantong celana—tempat dompetnya bersarang. Tidak ada, batin lelaki itu panik mulai mencari kesana kemari.
Dia yakin kalau dompetnya tidak mungkin berpindah tempat kecuali—ada yang memindahkannya.
Dan itu pasti Eva, lelaki dengan kacamata itu menghela napas jengkel. Dia ingat kalau Eva kemarin malam sebelum tidur ingin melihat-lihat foto lama dalam dompet Davian, bodohnya kenapa Davian mau menunjukannya?!
Argh! Ini merepotkan! Lelaki itu kembali melirik jam tangan, dia memperkirakan waktu; sepertinya masih sempat kalau dia ke apartemen lagi untuk mengambil dompet. Tanpa membuang waktu Davian berbalik, beberapa pasang mata yang berdiri menunggu bus bersama Davian sebelumnya mulai memperhatikan sosok itu—lelaki yang tiba-tiba berpaling lalu berlari menuju bangunan belakang apartemen.
"Hosh... hosh!" napas Davian tersengal-sengal, dia menaiki anak tangga satu persatu dengan kecepatan maksimal seorang manusia. Lelaki itu merasa bersyukur saat sudah sampai dilantai apartemennya, pintu apartemen sederhana milik Davian ada diujung lorong. Lelaki berbingkai kacamata itu berlari kecil lalu melambat saat daun pintu terlihat jelas. Tangannya terangkat menuju kenop; ingin membuka benda itu tapi alangkah terkejutnya Davian saat menyadari benda didepannya ini terkunci.
Apa Eva pergi? tanya-nya dalam hati. Raut muka Davian terlihat penasaran, otaknya berpikir keras. Jika Eva memilih keluar apartemen beberapa menit setelah Davian pergi seharusnya mereka berselisih jalan atau paling tidak bertemu di depan halte bus.
Tidak mungkin tidak, terlalu kecil kemungkinan Davian tidak menyadari kehadiran sosok Eva. Daerah sini bahkan tidak seluas itu. Davian bergegas mencari kunci apartemen cadangan miliknya di dalam tas kerja, saat benda itu ditemukan dia langsung membuka daun pintu lalu berlari masuk kedalam apartemen.
Manik hitam yang dibingkai oleh kacamata bening mulai menyisir setiap sudut ruang apartemen. Tanda-tanda kehadiran milik Eva menghilang sepenuhnya, hanya ruang kosong dengan suasana senyap. Lelaki itu mulai berjalan menuju dapur, ditatapnya wastafel—masih basah, terdapat percikan air dibeberapa area.
Tring! Tring! Tring!
Lelaki itu mendengus kesal, dia mengambil benda pipih yang berada disaku celana. Tertulis nama atasan dilayar benda itu, Davian lihat jam keberangkatan bus sudah lewat bahkan dia tergolong terlambat jika ingin berangkat kerja.
Davian menghela napas gusar.
"HAH!"
Dengan berat hati, Davian menjawab panggilan dari atasannya itu. Terdengar sumpah serapah yang kurang pantas dari mulut sang atasan kepada sosok Davian. Dia mempermasalahkan kehadiran Davian yang tidak ada dikantor pagi ini dan lain sebagainya, dasar lelaki tua bangka?! kesal Davian dalam hati—mau tak mau Davian memilih berbohong dan bilang tidak bisa hadir hari ini karena masalah kesehatan. Secara resmi lelaki itu akan menyerahkan surat izin dengan konsekuensi potong gaji nanti, toh kalau dia berangkat sekarang dan tiba di kantor; Davian yakin kalau dia akan jadi bulan-bulanan atasannya lalu berakhir bekerja sepanjang malam. Tidak terima kasih.
Dari pada itu Davian lebih tertarik mencari keberadaan sosok Eva yang menghilang secara misterius.
Kemana perginya wanita itu? batinnya.
Sembari berpikir kemungkinan apa saja yang bisa terjadi tiba-tiba Davian menyadari satu hal. Lelaki itu tersentak kaget dengan mata melotot, dia lalu berjalan menuju balkon apartemen lalu mengedarkan pandangan.
__ADS_1
Davian menelan saliva kasar. Maniknya bergetar, lelaki itu lalu berbisik—
"Kemana perginya semua makhluk itu?" gumamnya penasaran, mencari sosok dari aura negatif yang biasanya berkeliaran disekitar sini.
Tidak ada pemurni didaerah ini, Davian yakin selain sosoknya yang cacat tidak ada orang yang bisa memurnikan aura itu. Bahkan tempat ini cukup jauh dari kediaman keluarga cabang hazel jadi sangat mustahil para aura negatif itu lenyap begitu saja.
Apa yang terjadi?! tanya Davian sambil menggigit pipi bagian dalamnya. Lelaki itu merasa gelisah tanpa sebab. Davian selalu mengabaikan aura negatif yang berkeliaran, bahkan jika dia mau memurnikan Davian tidak cukup sanggup secara mental untuk kembali menggunakan kekuatannya. Lalu bagaimana bisa?
Ini benar-benar mustahil.
Layla? Tidak, wanita itu tidak memiliki berkat dalam memurnikan. Singkat kata dia beban dan yang paling terlemah dikeluarga cabang selain sifat licik dan ambisi besar wanita itu yang patut diacungi jempol, selebihnya tidak ada. Lagi pula wanita itu sudah lama menghilang setelah melakukan perkelahian dengan Eva.
Wush~
Aroma wangi tiba-tiba muncul bersama embusan angin.
Deg!
Davian berbalik spontan ketika hidungnya mencium aroma itu tapi alangkah terkejutnya saat manik hitam Davian menangkap sosok Eva yang muncul begitu saja.
Tubuhnya dibentuk dari ribuan mahkota bunga, wanita itu masih terpejam sampai kaki-kakinya terlihat menapak di ubin lantai. Eva perlahan membuka pelan kelopak mata, dengan tatapan kosong dia menatap sekitar. Manik Davian bergetar—lelaki itu membuka pelan celah bibirnya.
"Siapa kau—sebenarnya Eva?"
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...