
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...__________________________________...
...T e r p e n d a m...
...__________________________________...
...______________________...
...__________...
...___...
..._...
"Hufs~" kakek Davian membuang wajah asal bersama dengan napas lelah. Luapan energi aneh yang tak terkontrol dari sang cucu akhirnya bisa teredam total. Lelaki tua itu menatap bosan wujud jiwa Davian yang tengah dirantai kuat semua pergerakannya. Meski sudah menjadi tenang tapi sepertinya akal sehat Davian belum kembali juga, pikir sang kakek. Davian masih berani memasang wajah beringas padanya.
__ADS_1
Anak ku~ ujar kakek Davian melalui panggilan batin.
Beberapa detik kemudian terdengar suara dari seberang sana—mengatakan 'ada apa ayah?' pada kakek Davian.
Sumpah, kakek Davian sedang tidak berminat untuk menjelaskan; terlebih lagi pada sang anak alias ayah dari Davian. Dia menjeda percakapan dengan keheningan, sebelum bibir tua itu terbuka kembali dimenit setelahnya.
"Kemari 'lah," titahnya mutlak. Ayah Davian terdiam, meski dia tidak tahu menahu apa maksud dari lelaki tua yang berstatus sebagai orang tua tunggalnya itu, Ayah Davian memilih mencari lokasi keberadaan lelaki itu sendiri.
"Ruang pseudo?" ucap lelaki bernotabe ayah bagi Davian itu—heran. Tanpa menunggu lama lagi, dia berpindah tempat menuju ruangan tabu itu tapi alangkah terkejutnya begitu melihat anak kebanggaan generasi muda dikeluarganya tengah dirantai kuat oleh bara hitam.
Lelaki berwajah serupa Davian namun tampil dalam versi lebih tua beberapa tahun kedepan menoleh cepat, menatap sang kakek dari anaknya.
Kakek Davian merotasi matanya, agak muak juga.
"Tanyakan pada kedua anak mu lainnya Kevin, jika kau penasaran detailnya..." jawab kakek Davian. Punggungnya mulai terasa penggal juga nyeri, apa dia terlalu berlebihan menggunakan kekuatannya yah? Di umur setua ini?
Kevin mencoba mengangguk paham dengan mata gelisah, dia curi-curi pandang—ingin memastikan apakah sang anak baik-baik saja. Syukurnya Davian terlihat baik. Lelaki itu bernapas lega, dia selamat; jika Davian lecet sedikit saja Kevin tidak yakin bisa bertahan dari amukan Sarah, ibu Davian yang kelewatan menyayangi si putra bungsu.
"Baik ayah, nanti saya akan bertanya pada Adam juga Gedion... tapi kenapa ayah memanggil saya kesini? Tak mungkin hanya sekedar menunjukkan wujud menyedihkan Davian, bukan?" Pintar seperti biasanya, Kevin bisa menebak dengan tepat tujuan kakek Davian.
"Aku hanya ingin bertanya anak ku, ini soal Davian... aku sedikit curiga terhadap beberapa hal," sahut kakek Davian. Kevin menggangguk; mencoba menyimak dengan baik.
"Anak ku Kevin, apa selama ini Davian memilik keinginan akan sesuatu? Secara berlebihan?" ucap lelaki berumur setengah baya itu bernada tanya, langsung pada point pentingnya.
__ADS_1
Kevin terdiam sejenak. Dia mencoba berpikir dan mengingat segala macam tentang putra bungsunya itu. Davian.
"Entahlah ayah, saya tidak begitu yakin... selain dia hanya terobsesi menjadi penerus terbaik lalu menggantikan posisi anda sebagai kepala keluarga utama? Hanya itu, selebihnya—dia tidak terlalu berminat pada sesuatu apa lagi memilikinya..." simpul Kevin usai berpikir matang-matang.
Kakek Davian setuju atas ucapan Kevin, dia tahu betul bagaimana perangai cucu kesayangannya. Masalahnya, jika Davian seperti itu; datang dari mana hasrat aneh yang begitu gelap tadi?
Ada sesuatu—terpendam dihati cucunya, entah apa itu. Tidak ada yang tahu kecuali Davian seorang.
"Haruskah mengulik secara paksa?" gumam sang kakek, kehabisan pilihan.
Opsi yang bagus; patut dicoba? |
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote & comments......
...Terima kasih,...
...Bye...
...:3...
__ADS_1