Crazy Baby

Crazy Baby
My Love (Kian) - Side Story 3


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...M y - L o v e...


...__________________...


...________...


...___...


..._...


"Mengetahui dengan cara menebak, luar biasa. Aku tidak tahu kalau manusia memiliki kemampuan analisis yang hebat."


Kian terkekeh, haruskah dia merasa bangga atas pujian tersebut? Berkatnya sekujur tubuh milik Kian dipenuhi lebam yang besar.


"Kejam sekali," gumam wanita itu gantung. Dia tersungkur lemas diatas permukaan lantai dengan wajah kesakitan sambil melindungi perutnya.


Duke Scuàt melirik tajam, atas gumaman sang ratu. Berlaga baik-baik saja tepat didepan mukanya.


Kian menyeringai.


"Hanya ka-rena ketakutan? Penyamaran kalian langsung TERBONGKAR?!" sambung sang ratu dengan nada mengejek. Jika kalian ingin tahu situasi sebenarnya, mari kita ulas sedikit secara singkat.


Bagaimana Kian tahu nama dayang tersebut, itu hal yang mudah. Memang dia memiliki karakteristik yang tidak terlalu peduli terhadap sekitar, jadi secara sekilas orang akan menganggap kalau Kian adalah tipe yang tidak suka memperhatikan—nyatanya bukan. Kian memang terlihat acuh tak acuh tapi dia memiliki pandangan juga ingatan yang cukup bagus soal sekitarnya, hanya karena malas untuk menampakannya orang selalu beranggapan kalau Kian sama persis seperti wanita bangsawan yang pelupa padahal tidak, dia hanya merasa tak ada hal yang pantas untuk diingat didunia bawah. Asalkan dalam keadaan tenang Kian pasti bisa mengingat segala hal termasuk nama dari dayang tersebut, walau hanya pernah melakukan pertemuan sekali. Pada awal pertama bertemu; Fioleta bekerja di istana dan mulai melayani Kian sebagai dayang, dayang itu sudah pernah menyebutkan nama aslinya dan kebetulan lain Kian selalu melihat kancing tangan yang dayang itu selalu kenakan dibajunya. Kian pernah bertanya pada Elliot soal kancing tersebut.


"Desain unik apa ini?"


Elliot menoleh, senang saat tahu ratunya mulai tertarik dengan dunia bawah. Lelaki itu membuka celah bibirnya untuk menjawab.


"Kancing baju khas penduduk utara, mereka selalu mengenakan benda itu untuk aksesoris tambahan karena mengandung sihir yang dapat menjaga panas didalam tubuh mereka."


Kian beroh ria.


"Benarkah?"


Sungguh benda yang unik dan sangat berguna.


Hanya ada 1 orang yang berkuasa dan memiliki otoritas paling tinggi di area pegunungan es tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah wajah dari pemilik tanah yang ada tepat didepan Kian. Duke Scuàt, rumor soal dia yang tidak menyukai Kian sebagai ratu sudah jadi rahasia umum. Meski Kian tidak mengira dia akan melakukan pemberontakan lalu melancarkan aksi penculikan. Beberapa kali bertemu diperjamuan makan malam saat istana mengadakan pesta penyambutan Kian jamin 100% Duke tua itu pasti membencinya.


Dan ternyata benar.


Sisanya bermodalkan keberanian dan rangkaian kata penuh nada provokasi, sampai-sampai mampu menjebak balik sosok dayang bernama Fioleta itu.


Perangkap dalam perangkap.


Impas bukan?


Dia menjebak Kian, Kian jadi tahu siapa dalang sebenarnya. Meski sedikit tidak menguntungkan untuk Kian

__ADS_1


Karena panik soal adanya kebocoran informasi atau mungkin saja ada indikasi pengkhianatan, Duke Scuàt malah menampakan batang hidungnya kepermukaan lalu menginterogasi langsung Kian dengan cara yang sedikit—kejam.


Heh...


"Buat ratu untuk bicara." ucap Duke tua itu. Fioleta mengangguk, dia mematuhi dengan baik perintah tuannya.


Dayang itu bergerak mendekat kearah Kian lalu memulai aksinya—membuka lebar mulut sang ratu demi menemukan sebuah jawaban.


Ha-ha.


Masih dengan wajah menantang, Kian bungkam; benar-benar tak tampak takut diraut mukanya. Sekilas hal tersebut menarik minat. Duke Scuàt termenung, wajah sang ratu sungguh layak untuk di puja; benar-benar—


Cantik.


Haruskah aku mencicipinya sedikit? |


"TIDAK! HENTIKAN?! TOLONG JANGAN TENDANG PERUT KU!" Tiba-tiba Kian berteriak nyaring. Mengejutkan sekitar termasuk lamunan sang duke. Wajah itu banjir akan air mata.


Akhirnya Kian bicara dan mengungkapkan bahwa dirinya hanya menebak. Kembali ke waktu semula, ratu benar-benar tidak jera. Masih saja berlagak kuat dengan tubuh yang penuh luka.


Ini menarik, tapi jika dilanjutkan tubuh manusia itu akan hancur. Duke Scuàt lalu membuat keputusan, setelah dia mendengar jawaban yang dia inginkan—duke tua tersebut memilih angkat kaki bersama pelayannya.


Tidak mengobati tapi memberikan jeda waktu untuk Kian agar bisa pulih dengan sendirinya, kira-kira seperti itu.


"Hah~"


Terdengar Kian bernapas lega, dia benar-benar tidak di untungkan tapi masih saja ingin menguak fakta pemberontakan yang tidak berguna.


Kian menantap kosong langit-langit ruangan, udara lembap dengan pilar besi yang memenjarakan.


Kalian lihat wajah penuh nafsu dari lelaki tua itu? Kian merinding.


"Cepat temukan aku bodoh! Atau kau tidak akan melihat—"


BOMMM!


Suara gaduh mengejutkan Kian, dia bangkit dari posisinya; mengabaikan rasa sakit karena merasakan tanah bergetar. Manik mata mengedar.


Apa yang terjadi? Rasanya baru beberapa detik lalu kedamaian datang menghampiri.


TAP! TAP! TAP!


Derap langkah cepat terdengar dari kejauhan, Kian mencuri dengar.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Sepertinya markas persembunyian dari para pemberontak ini sudah diketahui, lalu terjadi penyerangan oleh kesatria kerajaan; dibawah komando langsung—raja mereka.


"Elliot."


Manik Kian berbinar.


Fioleta yang meninggalkan sebentar ruangan bersama duke kembali masuk, membuka jeruji besi lalu menyeret paksa Kian untuk ikut bersamanya.


Tidak ingin membuang kesempatan, saat rantai yang ada dikaki berpindah menjadi 2 rantai yang membelenggu kedua tangan; Kian langsung mengangkat tangannya lalu memilin leher dayang gadungan tersebut.


Mungkin sedikit terlihat kejam tapi Kian berusaha untuk mematahkan lehernya.

__ADS_1


"Itu balasan karena menendang perut ku!" rutuk Kian. Meski tidak berhasil melakukan apa yang dia harapkan setidaknya Kian membuat dayang tersebut kehabisan napas lalu pingsan.


Bugh!


Senyum tipis hadir, Kian mengambil kunci dan mulai melepaskan rantai yang membelenggu tangannya.


Dari pada diam, lebih baik bergerak.


Manfaatkan kegaduhan untuk kabur dari sini. Setidaknya sampai Kian berhasil cukup dekat dengan suaminya; Elliot.


Raja dari seluruh dataran di dunia bawah ini.


...***...


Melewati lorong, menghindari para pemberontak. Kian bergerak cukup lihai menyelinap diantara keributan, setidaknya upaya kaburnya selama ini membuahkan hasil.


Dentuman keras kembali terdengar, seperti perang saja. Kian tebak Elliot pasti tengah murka. Biarkan saja makhluk itu mengamuk sepuasnya, yang penting Kian berhasil keluar dari sini dengan selamat.


"Ratu kabur?!"


Kabar tentang dirinya mulai terdengar kepermukaan. Duke Scuàt pasti kerepotan membagi anak buah menjadi 2 bagian; pertama, kelompok untuk menghadapi raja lalu kedua kelompok untuk melakukan pencarian terhadap sang ratu yang tengah kabur.


Rasakan itu!


Kian terkekeh senang, setidaknya sejauh ini tidak ada kendala yang berarti.


Jika berjalan dengan baik, Kian hanya perlu beberapa langkah lagi untuk keluar dari markas menyedihkan ini namun siapa sangka, langkah kaki Kian malah tertahan oleh seseorang yang tidak pernah ia kira.


"Gotcha!"


Deg!


Duke Scuàt.


Kenapa dia berada disini! Bukan di garis depan memimpin para pemberontak?!


Lelaki tua itu, dia menumbalkan orang-orang demi keselamatan dirinya. |


Brugghh!


Berbarengan dengan runtuhnya pijakan. Kian dapat melihat sosok dengan raut muka penuh amarah tengah terbang dengan wujud manusia menggunakan sayap kelelawar. Mempimpin ribuan kesatria kerajaan.


"Rebut kembali ratu kalian." desisnya, jadi kalimat terakhir yang Kian ingat.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2