
"Aar—!"
Reva merosot jatuh, dadanya terasa sesak. Gadis itu terduduk diatas lantai sembari mencekram kuat baju hingga kumal.
"Argh—!" tariknya paksa pasokan oksigen melalui mulut. Ada apa ini! Kenapa gadis bermanik kelam itu kesulitan bernapas?! Dia seperti ikan yang dibiarkan tergeletak di daratan.
"ARGH—!"
Bersama ribuan air mata, Reva tercekik oleh udara. Ingatan mengerikan muncul; menghantui gadis itu. Reva ibarat seorang penonton yang menyaksikan sebuah pertunjukan dari bawah panggung teater. Na'asnya pemeran dalam pertunjukan itu adalah dirinya. Mimpi buruk.
INI MIMPI BURUK |
"Tidak—!" Jerit Reva. Dia menatap kedua tangan dengan jemari gemetar, gadis bermanik kelam itu mulai berhalusinasi. Dia membayangkan sebuah cincin perak yang menempel manis di jemarinya.
Aku berharap kita bersama selamanya~
Bohong! sangkal Reva. PEMBOHONG, Reva menjambak kuat surai-surai rambut. Debar jantung gadis itu memacu kuat; tak terkontrol.
DEG! DEG! DEG!
"Hah?! HAH!!"
Aku mencintai mu... |
Reva menggeleng kuat. Jangan dengarkan! KU MOHON BERHENTI?!
—berjanjilah... sayang ku~
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"KAU! KAU PENGKHIANAT! KAU PEMBOHONG! KAU BAJINGAN!!! AKU MEMBENCI MU! Kau?! Kau merusak ku—Hiks... hiks..." Teriak Reva pilu.
BUGH! Benturan keras terdengar. Gadis itu menghantam kepalanya pada dinding ruangan, maniknya kelam. Kosong menatap keadaan.
"–bagaimana cara kau masih membuat ku... mencintai mu? Josan?"
Bahkan setelah kau berubah menjadi seorang bajingan.
__ADS_1
..._________________________________...
...M e n c i n t a i - M u...
..._________________________________...
...______________________...
..._____________...
..._______...
...___...
..._...
Wush~
Deburan lembut angin sore membelai manja kedua pipi. Reva membatu dengan ekspresi terkejut, surai-surai nakal miliknya menari bersama embusan udara. Setangkai bunga liar menyambut penglihatan; posisinya teramat dekat dengan wajah gadis itu.
Pipi Reva merona.
"Josan?" panggil Reva tak mengerti. Apa dia sedang dijahili oleh teman sekelasnya? Kenapa lelaki itu bertindak di luar kebiasaan?
Deg~
Tiba-tiba Josan mendongak, maniknya bersinggungan dengan mata cantik milik Reva. Lelaki itu bersemu merah. Bibirnya bergetar.
"A... aku mencintai mu! Maukah kau jadi kekasih ku REVA!" ulangnya, masih menggunakan kalimat yang sama seperti sebelumnya.
"Eh?"
Ternyata bukan kesalahan, apa yang didengar Reva benar adanya.
Tes~
Lelaki bernotabe teman sekelasnya ini baru saja menyatakan cinta pada gadis kaku seperti Reva.
__ADS_1
Tubuh Reva gemetar, tangannya terangkat menutup rapat mulut yang mulai terisak. Debar jantung gadis itu menggila. Jiwanya tak percaya, benarkah itu? batin Reva memastikan.
"—maukah Reva?" tanya Josan. Nada suara itu begitu lembut. Sudut mata Reva yang sudah muntah air mata; menatap lekat sosok didepannya.
Serupa kepiting rebus, gadis itu mengangguk kecil. Mata Josan berbinar; ketika melihat jemari kecil milik sang pujaan terangkat—menggapai setangkai bunga liar di tangannya.
"Jujur... aku menyukai mu juga Josan—" bisik Reva teramat pelan. Josan ternganga, kini rona merah dikedua pipinya merangkak hingga ke-area tengkuk.
"Benarkah?" beo lelaki itu tak percaya. Reva tersenyum cerah.
Kedua tangan Josan terangkat tanpa ia sadari; menggapai lembut pinggang kecil gadis didepannya yang resmi menjadi kekasih lelaki itu. Perasaan menggebu juga bersemangat memenuhi relung jiwa milik Josan.
Hug~
Bawanya sosok itu dalam sebuah pelukan hangat.
"Aku senang, bukan hanya aku seorang yang merasakan perasaan ini—"
Aku mencintai mu |
R E V A .
...***...
...Tbc......
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1